JalanSunyi
jalan sunyi menuju sepi abadi
Thursday, July 30, 2009

MEMULAI DARI AKHIR

Kalau membaca kredo di atas, saya jadi ingat supir taksi. Ketika kita duduk, yang ditanya pertama adalah kemana tujuan kita. Setelah itu, kalau supir taksinya termasuk yang kooperatif dia akan tanya lewat mana? Kalau dia lihat kita agak bingung, dia akan kasih gambaran dan saran. Lengkap dengan konsekuensi dan resiko tiap alternatif pilihan.

Ternyata demikian pula dalam menjalani hidup. Perlu kita tanya ke hati kita, kemana tujuan hidup kita? Dari sinilah hendaknya kita memulai (kembali) kehidupan kita. Setelah tujuan kita jelas, gamblang dan terang. Kalau tidak, sangat mungkin perjalanan kita banyak menemui ketidakjelasan yang tak perlu.

Mengenai menentukan tujuan, ternyata perlu jugaditimbang-timbang. Maksudnya, pengalaman hidup, lingkungan, bacaan, pendidikan, pergaulan, dlsb-nya sangat berpengaruh terhadap penentuan sebuah tujuan. Di sinilah pentingnya sebuah paradigma, mindset dan value yang tepat, yang tidak keluar dari keyakinan yang hakiki tentang penciptaan dan kehidupan.

Soal ini, mungkin lain waktu saya coba menuliskannya.
ditera abhirhay @ 11:02 PM   0
|
Monday, September 15, 2008

CAHAYA NAMANYA

Cahaya namanya - tentangnya pernah saya tulis beberapa purnama lalu. Gadis ke berpipi gembil yang dahaga bermain. Sorot bening matanya, tentu saja belum pernah membayang masa depan itu apa dan seperti apa. Demikian juga dengan pikirannya, belumlah melalu gagasan melukisi kanvas masa datang. Melalui gagang telpon, ummi najla beroleh cerita kalau ayahnya menyuruhnya menghafal rukun islam dan iman dengan berdiri. Senyampang ujian tengah catur wulan memang menjelang. Seketika ingatan saya meloncat ke belakang. Teringat jaman esde 30-an tahun lalu.

--oOo--

Wah jangan pak! Nanti dia malah gak mau belajar! Saya dengar ummi berujar demikian setelah bertukar kalimat dengan seorang bapak di muka rumah. Saya mencuri dengar dari dalam rumah. Bapaknya permata bilang 'dikerasi saja si permata itu!'. Makanya saya tadi bilang seperti itu, papar ummi menerangkan. Selepas berbuka puasa telpon berdering. Terdengar suara yang mengaku sebagai ibu dari permata. Saya angsurkan gagang telpon ke ummi. Lalu terdengar pembicaraan tentang nilai latihan matematika permata yang 'cuma' enam. Panjang lebar ummi menjelaskan kalau itu cuma latihan untuk melihat sejauh mana pemahaman anak-anak terhadap materi yang telah dipelajari. Di bagian mana mereka masih belum mengerti. Dan kelemahan apa yang masih ada pada mereka dalam mengerjakan soal.

--oOo--

Satu catatan yang coba saya pahami dari dua kejadian tak berselang lama tersebut adalah bagaimana orang tua bersikap dan berlaku kepada anaknya sangat terpengaruh oleh bagaimana penilaiannya dan bagaimana persepsinya terhadap anak tersebut. Saya berharap tidak sedang dalam posisi itu. Dan saya selalu bermimpi, saya menjadi 'si ransel' dalam kartun Dora The Explorer, baginya.

Bagaimana dengan Anda?...
ditera abhirhay @ 10:25 PM   0
|
Tuesday, May 06, 2008

INGAT

Siang tadi di masjid sebelah ada banyak orang berkumpul. Ternyata di dekat mihrab ada keranda bertutup kain hijau dengan kalimah tauhid di tersemat di atasnya. Innaa lil laahi wa inna ilaihi raaji'uun. Kematian terasa begitu jauh, karena kita tak menyempatkan untuk mengingatnya. Padahal kematian begitu amat dekat karena bisa saja hadir setiap saat.

Saya jadi teringat, pada diri saya sendiri...
"Manusia yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya menghadapi kematian". Demikian bunyi sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik.
ditera abhirhay @ 2:15 PM   0
|
Monday, April 07, 2008
BUNGA RUMPUT TEKI

Benih rumput mengharap desau angin untuk menggebahnya dari tangkai. Mendamba dekapan sejumput tanah untuk mematangkan lembaga. Merindu titik-titik air untuk bersemi. Serta rentangan lengan sesama untuk bertahan. Apatah lagi kita, manusia.

“Saya ingin berubah." Katanya sesenggukan. "Saya ingin menjadi baik. Saya ingin keluarga saya juga ikut jadi baik. Saya ingin lingkungan sekitar rumah saya ikut baik” ungkap si bapak dengan isak tertahan. Banjir air mata membasahi pipinya. Jatuh ke baju koko putih sederhana miliknya. Beberapa ibu ikut menitikkan air mata. Tak kuasa menahan haru yang membiru. Seakan merasakan hal yang sama dengan bapak itu. Itulah sekelumit ungkapan kesan seorang peserta di akhir pelatihan.

Dua hari bersama belajar untuk berubah, menjadi waktu yang singkat. Ketika pertautan antar pribadi mulai melarut, perpisahan harus terjadi. Mereka, peserta pelatihan ini sangat beragam. Ada yang dari Muntilan, Semarang, Cilacap, Bandung, Jakarta, dan Lampung. Serta beberapa kota-kota lain juga kota kecamatan yang semua tak saya hafal. Usianya, sebagian besar masih muda, tapi ada juga yang paruh baya dan menjelang senja. Pendidikannya macam-macam. Ada SMA, beberapa sarjana, juga doktor statistik dan magister kesehatan.

Semua antusias dan bersemangat. Dan saya makin tersengat oleh semangat mereka. Menyimak sharing dan riuh diskusi. Karena belajar, lebih menyenangkan saat hati riang. Ketika penat datang dan jenuh menyerang, saatnya bersama-sama menyegarkan suasana. Usir kantuk, enyahkan bosan. Hadirkan gembira dan senang.

Pelatihan, pada dasarnya adalah belajar bareng-bareng. Sharing bareng-bareng. Saling memberi dukungan. Saling menularkan. Apa yang ditularkan? Motivasi, kegembiraan, semangat dan pengalaman. Tak ada yang jadi guru. Karena semua guru, sekaligus murid. Apa yang dipelajari? Bagaimana menjadi orang baik. Apakah sekarang belum baik? Tentunya sudah, tapi bagaimana baik itu menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Semua orang tentu mau menjadi baik. Sebab tak ada orang yang mau, apalagi disebut tek baik. Tapi manusia punya beragam sisi dan tak semua sisi jernih. Ada saja yang hitam, abu-abu atau berdebu. Karena manusia itu dhaif. Lemah. Karenanya perlu bersama-sama berkumpul untuk melapangkan kesadaran, menebalkan motivasi dan mengokohkan niat. Sebab manusia butuh manusia lainnya. Tak semua bisa dilaksanakan mandiri. Tak seluruhnya bisa dimunculkan dan ditumbuhkan sendiri.

Dan jika kesadaran itu telah bersemi, selanjutnya jangan alpa menyirami. Agar tidak, tiga hari tumbuh lalu mati. Seperti bunga rumput teki. Selalu bertahan hidup meski terinjak kaki, tak berbilang kali.

Cakrawala terima kasih untuk semua saudara yang sudi berbagi dengan riang dan lapang.07042008

ditera abhirhay @ 6:26 PM   0
|
Wednesday, January 09, 2008

MENJADI

Sudahkah manusia? Rasanya belum. Mungkin masih dalam proses memanusia. Berarti masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan. Dan takkan mungkin selesai hingga nafas terakhir.
Namun yang terpenting, selalu berada dalam proses memanusiakan diri. Apa sih manusia itu? Salah satunya adalah makhluk yang tak sempurna. Tempat salah dan khilaf berada. Kesadaran akan dua hal itu, diiringi dengan kesadaran untuk menjadi baik, dan lebih baik yang semestinay dijalankan. Mudah-mudahan, saya sudah berada di situ.


ditera abhirhay @ 11:09 PM   0
|
 
::tentangSunyi
  • lelaki pejalan kaki
  • bersama ummi
  • mengiring najla & zayyan
  • sawangan-jombang-malang
::kiwariSunyi
::lampauSunyi
::dentingSunyi

::menitiSunyi
::jejalaSunyi
::karibSunyi
::iringSunyi
::detakSunyi
::tabikSunyi

Subscribe with Bloglines

Free Blogger Templates
Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com
BLOGGER