BUNGA RUMPUT TEKI
Benih rumput mengharap desau angin untuk menggebahnya dari tangkai. Mendamba dekapan sejumput tanah untuk mematangkan lembaga. Merindu titik-titik air untuk bersemi. Serta rentangan lengan sesama untuk bertahan. Apatah lagi kita, manusia. “Saya ingin berubah." Katanya sesenggukan. "Saya ingin menjadi baik. Saya ingin keluarga saya juga ikut jadi baik. Saya ingin lingkungan sekitar rumah saya ikut baik” ungkap si bapak dengan isak tertahan. Banjir air mata membasahi pipinya. Jatuh ke baju koko putih sederhana miliknya. Beberapa ibu ikut menitikkan air mata. Tak kuasa menahan haru yang membiru. Seakan merasakan hal yang sama dengan bapak itu. Itulah sekelumit ungkapan kesan seorang peserta di akhir pelatihan. Dua hari bersama belajar untuk berubah, menjadi waktu yang singkat. Ketika pertautan antar pribadi mulai melarut, perpisahan harus terjadi. Mereka, peserta pelatihan ini sangat beragam. Ada yang dari Muntilan, Semarang, Cilacap, Bandung, Jakarta, dan Lampung. Serta beberapa kota-kota lain juga kota kecamatan yang semua tak saya hafal. Usianya, sebagian besar masih muda, tapi ada juga yang paruh baya dan menjelang senja. Pendidikannya macam-macam. Ada SMA, beberapa sarjana, juga doktor statistik dan magister kesehatan. Semua antusias dan bersemangat. Dan saya makin tersengat oleh semangat mereka. Menyimak sharing dan riuh diskusi. Karena belajar, lebih menyenangkan saat hati riang. Ketika penat datang dan jenuh menyerang, saatnya bersama-sama menyegarkan suasana. Usir kantuk, enyahkan bosan. Hadirkan gembira dan senang. Pelatihan, pada dasarnya adalah belajar bareng-bareng. Sharing bareng-bareng. Saling memberi dukungan. Saling menularkan. Apa yang ditularkan? Motivasi, kegembiraan, semangat dan pengalaman. Tak ada yang jadi guru. Karena semua guru, sekaligus murid. Apa yang dipelajari? Bagaimana menjadi orang baik. Apakah sekarang belum baik? Tentunya sudah, tapi bagaimana baik itu menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Semua orang tentu mau menjadi baik. Sebab tak ada orang yang mau, apalagi disebut tek baik. Tapi manusia punya beragam sisi dan tak semua sisi jernih. Ada saja yang hitam, abu-abu atau berdebu. Karena manusia itu dhaif. Lemah. Karenanya perlu bersama-sama berkumpul untuk melapangkan kesadaran, menebalkan motivasi dan mengokohkan niat. Sebab manusia butuh manusia lainnya. Tak semua bisa dilaksanakan mandiri. Tak seluruhnya bisa dimunculkan dan ditumbuhkan sendiri. Dan jika kesadaran itu telah bersemi, selanjutnya jangan alpa menyirami. Agar tidak, tiga hari tumbuh lalu mati. Seperti bunga rumput teki. Selalu bertahan hidup meski terinjak kaki, tak berbilang kali. Cakrawala terima kasih untuk semua saudara yang sudi berbagi dengan riang dan lapang.07042008 |