| Friday, January 26, 2007 |
| Kembali Kanak |
Secara usia saya belum tua. Tapi secara ingatan, saya sudah tua. Saya sudah lupa bagaimana perasaan saya waktu masih kanak. Sungguh saya lupa dengan perasaan yang menyelimuti hati kanak saya. Kedewasaan atau ketuaan telah menggerus memori saya tentang kanak saya.
Padahal saya sangat membutuhkannya. Mengapa? Dalam pikiran saya, tentu akan lebih mudah memahami anak saya atau kanak lainnya bila saya mampu menghadirkan perasaan kanak saya di hati dewasa saya. Tentu saya tak akan sulit mengajak mereka berjalan di atas rumput tanpa sepatu, merasakan geli tusukan ujung rumput di telapak kaki. Merasai lembut dan sejuknya butir embun mengelus kulit jemari.
Mengumbar tawa lepas apa adanya. Tanpa ada yang tertahan dan ditahan. Tanpa didahului pikiran dan kekhawatiran. Tertawa ya karena tertawa. Seperti juga menangis karena menangis. Tak terikat waktu dan terbelenggu rasa, sehingga dalam sekejap beralih rupa.
Mereka yang berhasil bergaul karib dengan kanak, pasti karena tak pernah melupakan kanaknya. Sebab kanak, sejatinya hanya karib dengan kanak. Tidak dengan dewasa. Kedewasaan hanya pada wadag. Tapi hati, rasa dan sinar mata tetaplah pijar kanak yang tak henti meletup-letup. Ketika kanak terlupa dan terganti dewasa, seketika sekat terbangun antara kita dengan kanak. Sebab kita tak sepenuhnya kanak.
Karena itu saya sedang berusaha keras mengingat kembali kanak saya. Menghadirkannya dalam hati saya yang merasa dewasa dan mencoba mengurungnya kuat-kuat di sana. Kalau tidak, saya tak pernah bisa kanak dengan anak-anak. Sungguh risau hati saya. Bagaimana? Kalian tak ingin kanak juga??? |
ditera oleh abhirhay @ 9:58 PM  |
|
|
|
|
|
|