Monday, September 15, 2008
Cahaya Namanya
Cahaya namanya - tentangnya pernah saya tulis beberapa purnama lalu. Gadis ke berpipi gembil yang dahaga bermain. Sorot bening matanya, tentu saja belum pernah membayang masa depan itu apa dan seperti apa. Demikian juga dengan pikirannya, belumlah melalu gagasan melukisi kanvas masa datang. Melalui gagang telpon, ummi najla beroleh cerita kalau ayahnya menyuruhnya menghafal rukun islam dan iman dengan berdiri. Senyampang ujian tengah catur wulan memang menjelang. Seketika ingatan saya meloncat ke belakang. Teringat jaman esde 30-an tahun lalu.

--oOo--

Wah jangan pak! Nanti dia malah gak mau belajar! Saya dengar ummi berujar demikian setelah bertukar kalimat dengan seorang bapak di muka rumah. Saya mencuri dengar dari dalam rumah. Bapaknya permata bilang 'dikerasi saja si permata itu!'. Makanya saya tadi bilang seperti itu, papar ummi menerangkan. Selepas berbuka puasa telpon berdering. Terdengar suara yang mengaku sebagai ibu dari permata. Saya angsurkan gagang telpon ke ummi. Lalu terdengar pembicaraan tentang nilai latihan matematika permata yang 'cuma' enam. Panjang lebar ummi menjelaskan kalau itu cuma latihan untuk melihat sejauh mana pemahaman anak-anak terhadap materi yang telah dipelajari. Di bagian mana mereka masih belum mengerti. Dan kelemahan apa yang masih ada pada mereka dalam mengerjakan soal.

--oOo--

Satu catatan yang coba saya pahami dari dua kejadian tak berselang lama tersebut adalah bagaimana orang tua bersikap dan berlaku kepada anaknya sangat terpengaruh oleh bagaimana penilaiannya dan bagaimana persepsinya terhadap anak tersebut. Saya berharap tidak sedang dalam posisi itu. Dan saya selalu bermimpi, saya menjadi 'si ransel' dalam kartun Dora The Explorer, baginya.

Bagaimana dengan Anda?...
ditera oleh abhirhay @ 10:25 PM  
|
::tentangSunyi
abhirhay: pejalan kaki
::kiwariSunyi
::lampauSunyi
::detakSunyi
::titianSunyi
::tabikSunyi

Isnaini and Cool Cars Pictures
Subscribe with Bloglines


Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com
BLOGGER