<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398</id><updated>2011-07-08T18:28:14.035+07:00</updated><title type='text'>JalanSunyi</title><subtitle type='html'>jalan sunyi menuju sepi abadi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>236</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-8395381380288166554</id><published>2011-03-29T02:17:00.002+07:00</published><updated>2011-03-29T02:44:31.249+07:00</updated><title type='text'>Mengubah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.geekologie.com/2009/09/16/tetris-head-1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 116px; height: 116px;" src="http://www.geekologie.com/2009/09/16/tetris-head-1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tulisan ini kita mulai saja dengan pertanyaan. Dari mana kita mulai mengubah? Cara pandang? Bukan! Kepala dan seisinyalah yang harus diubah. Mengapa? Sebab kepala dan sekalian isinya (baca: otak atau pikiran) yang menentukan bagaimana cara pandang kita. Umpama, kita mau pintar. Cara paling mudah adalah mengubah kepala kita seperti kepala teman kita yang pintar. Atau istilah lainnya "gantilah" kepala kita dengan kepala kawan kita yang pintar. Karena dengan mengganti kepala itu, akan turut berganti dan berubah pula seluruh cara pandang kita dan semua karakter, perilaku dan kebiasaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi perlu diingat, perlu rujukan paradigma yang benar. Kalau tidak kepintaran atau kesuksesan yang dicapai sifatnya semu. Seolah-olah membawa kebahagiaan, namun sejatinya fatamorgana. Di sinilah pentingnya paradigma yang menghindarkan manusia dari kesia-siaan. Menghindarkan dari kehidupan yang seolah-olah. Seakan-akan bahagia, namun jiwa senantiasa resah dan dahaga. Dalam keramaian namun merasa terasing. Dalam keberlimpahan tapi merasa tak berarti. Dalam hubungan sosial yang intens, tetapi semu dan janggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesemuanya kembali pada satu pertanyaan: untuk apa kita hidup? lebih jauh lagi, mengapa kita diciptakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pertanyaannya demikian, tentu saja yang mampu dan berhak menjawab adalah Sang Maha Pencipta. Lalu di mana jawaban itu tertera? Tentu saja dalam kumpulan firman-firman Nya. Mari kita periksa! Wassalam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-8395381380288166554?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/8395381380288166554/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=8395381380288166554&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/8395381380288166554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/8395381380288166554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2011/03/mengubah.html' title='Mengubah'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-5324391890269399433</id><published>2009-07-30T23:02:00.006+07:00</published><updated>2011-03-14T13:33:01.807+07:00</updated><title type='text'>Mulai dari Akhir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://almuhajir.files.wordpress.com/2009/03/which-way.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 211px; height: 168px;" src="http://almuhajir.files.wordpress.com/2009/03/which-way.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Kalau membaca kredo di atas, saya jadi ingat supir taksi. Ketika kita duduk, yang ditanya pertama adalah kemana tujuan kita. Setelah itu, kalau supir taksinya termasuk yang kooperatif dia akan tanya lewat mana? Kalau dia lihat kita agak bingung, dia akan kasih gambaran dan saran. Lengkap dengan konsekuensi dan resiko tiap alternatif pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata demikian pula dalam menjalani hidup. Perlu kita tanya ke hati kita, kemana tujuan hidup kita? Dari sinilah hendaknya kita memulai (kembali) kehidupan kita. Setelah tujuan kita jelas, gamblang dan terang. Kalau tidak, sangat mungkin perjalanan kita banyak menemui ketidakjelasan yang tak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai menentukan tujuan, ternyata perlu juga ditimbang-timbang. Maksudnya, pengalaman hidup, lingkungan, bacaan, pendidikan, pergaulan, dlsb-nya sangat berpengaruh terhadap penentuan sebuah tujuan. Di sinilah pentingnya sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;paradigma, mindset dan value&lt;/span&gt; yang tepat, yang tidak keluar dari keyakinan yang hakiki tentang penciptaan dan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal ini, mungkin lain waktu saya coba menuliskannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-5324391890269399433?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/5324391890269399433/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=5324391890269399433&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/5324391890269399433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/5324391890269399433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2009/07/memulai-dari-akhir-kalau-membaca-kredo.html' title='Mulai dari Akhir'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-3111379111289138311</id><published>2008-09-15T22:25:00.002+07:00</published><updated>2011-03-14T12:26:15.072+07:00</updated><title type='text'>Cahaya Namanya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_E4OpXB1NcdE/SM6Eoey8cvI/AAAAAAAAAAQ/1v7_AjAIPaQ/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_E4OpXB1NcdE/SM6Eoey8cvI/AAAAAAAAAAQ/1v7_AjAIPaQ/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246276446929580786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Cahaya namanya - tentangnya pernah saya tulis beberapa purnama lalu. Gadis ke berpipi gembil yang dahaga bermain. Sorot bening matanya, tentu saja belum pernah membayang masa depan itu apa dan seperti apa. Demikian juga dengan pikirannya, belumlah melalu gagasan melukisi kanvas masa datang. Melalui gagang telpon, ummi najla beroleh cerita kalau ayahnya menyuruhnya menghafal rukun islam dan iman dengan berdiri. Senyampang ujian tengah catur wulan memang menjelang. Seketika ingatan saya meloncat ke belakang. Teringat jaman esde 30-an tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--oOo--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah jangan pak! Nanti dia malah gak mau belajar! Saya dengar ummi berujar demikian setelah bertukar kalimat dengan seorang bapak di muka rumah. Saya mencuri dengar dari dalam rumah. Bapaknya permata bilang 'dikerasi saja si permata itu!'. Makanya saya tadi bilang seperti itu, papar ummi menerangkan. Selepas berbuka puasa telpon berdering. Terdengar suara yang mengaku sebagai ibu dari permata. Saya angsurkan gagang telpon ke ummi. Lalu terdengar pembicaraan tentang nilai latihan matematika permata yang 'cuma' enam. Panjang lebar ummi menjelaskan kalau itu cuma latihan untuk melihat sejauh mana pemahaman anak-anak terhadap materi yang telah dipelajari. Di bagian mana mereka masih belum mengerti. Dan kelemahan apa yang masih ada pada mereka dalam mengerjakan soal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--oOo--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu catatan yang coba saya pahami dari dua kejadian tak berselang lama tersebut adalah bagaimana orang tua bersikap dan berlaku kepada anaknya sangat terpengaruh oleh bagaimana penilaiannya dan bagaimana persepsinya terhadap anak tersebut. Saya berharap tidak sedang dalam posisi itu. Dan saya selalu bermimpi, saya menjadi 'si ransel' dalam kartun Dora The Explorer, baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda?...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-3111379111289138311?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/3111379111289138311/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=3111379111289138311&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/3111379111289138311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/3111379111289138311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2008/09/cahaya-namanya-cahaya-namanya.html' title='Cahaya Namanya'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_E4OpXB1NcdE/SM6Eoey8cvI/AAAAAAAAAAQ/1v7_AjAIPaQ/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-5544730965178405885</id><published>2008-05-06T14:15:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T12:26:40.982+07:00</updated><title type='text'>Ingat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/18/53/79/18537949/42-18537949.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 97px; height: 150px;" src="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/18/53/79/18537949/42-18537949.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Siang tadi di masjid sebelah ada banyak orang berkumpul. Ternyata di dekat mihrab ada keranda bertutup kain hijau dengan kalimah tauhid di tersemat di atasnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Innaa lil laahi wa inna ilaihi raaji'uun.&lt;/span&gt; Kematian terasa begitu jauh, karena kita tak menyempatkan untuk mengingatnya. Padahal kematian begitu amat dekat karena bisa saja hadir setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat, pada diri saya sendiri...&lt;br /&gt;&lt;i&gt; "Manusia yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya menghadapi kematian". &lt;/i&gt;Demikian bunyi sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-5544730965178405885?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/5544730965178405885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=5544730965178405885&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/5544730965178405885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/5544730965178405885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2008/05/ingat-siang-tadi-di-masjid-sebelah-ada.html' title='Ingat'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-62125818831203984</id><published>2008-04-07T18:26:00.002+07:00</published><updated>2011-03-14T12:27:16.541+07:00</updated><title type='text'>Rumput Teki</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/19/22/66/19226658/42-19226658.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 200px; cursor: pointer; height: 128px;" alt="" src="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/19/22/66/19226658/42-19226658.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Benih rumput mengharap desau angin untuk menggebahnya dari tangkai. Mendamba dekapan sejumput tanah&lt;span style="font-size:0pt;"&gt; &lt;/span&gt;untuk mematangkan lembaga. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Merindu titik-titik air untuk bersemi. Serta rentangan lengan sesama untuk bertahan. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Apatah lagi kita, manusia.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;“Saya ingin berubah." Katanya sesenggukan. "Saya ingin menjadi baik. Saya ingin keluarga saya juga ikut jadi baik. Saya ingin lingkungan sekitar rumah saya ikut baik” ungkap si bapak dengan isak tertahan. Banjir air mata membasahi pipinya. Jatuh ke baju koko putih sederhana miliknya. &lt;span lang="FI"&gt;Beberapa ibu ikut menitikkan air mata. Tak kuasa menahan haru yang membiru. Seakan merasakan hal yang sama dengan bapak itu. Itulah sekelumit ungkapan kesan seorang peserta di akhir pelatihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Dua hari bersama belajar untuk berubah, menjadi waktu yang singkat. Ketika pertautan antar pribadi mulai melarut, perpisahan harus terjadi. Mereka, peserta pelatihan ini sangat beragam. Ada yang dari Muntilan, Semarang, Cilacap, Bandung, Jakarta, dan Lampung. Serta beberapa kota-kota lain juga kota kecamatan yang semua tak saya hafal. Usianya, sebagian besar masih muda, tapi ada juga yang paruh baya dan menjelang senja. Pendidikannya macam-macam. Ada SMA, beberapa sarjana, juga &lt;span style="font-size:0pt;"&gt;&lt;/span&gt;doktor statistik &lt;span style="font-size:0pt;"&gt;&lt;/span&gt;dan magister kesehatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Semua antusias dan bersemangat. Dan saya makin tersengat oleh semangat mereka. Menyimak &lt;i&gt;sharing dan &lt;/i&gt;riuh diskusi. Karena belajar, lebih menyenangkan saat hati riang.  Ketika penat datang dan jenuh menyerang, saatnya bersama-sama menyegarkan suasana. Usir kantuk, enyahkan bosan. Hadirkan gembira dan senang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Pelatihan, pada dasarnya adalah belajar bareng-bareng. &lt;i&gt;Sharing &lt;/i&gt;bareng-bareng. Saling memberi dukungan. Saling menularkan. Apa yang ditularkan? Motivasi, kegembiraan, semangat dan pengalaman. Tak ada yang jadi guru. Karena semua guru, sekaligus murid. Apa yang dipelajari? Bagaimana menjadi orang baik. Apakah sekarang belum baik? Tentunya sudah, tapi bagaimana baik itu menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Semua orang tentu mau menjadi baik. Sebab tak ada orang yang mau, apalagi  disebut tek baik. Tapi manusia punya beragam sisi dan tak semua sisi jernih. Ada saja yang hitam, abu-abu atau berdebu. Karena manusia itu dhaif. Lemah. Karenanya perlu bersama-sama berkumpul untuk &lt;span style="font-size:0pt;"&gt;&lt;/span&gt;melapangkan kesadaran, menebalkan motivasi dan mengokohkan niat. Sebab manusia butuh manusia lainnya. Tak semua bisa dilaksanakan mandiri. Tak seluruhnya bisa dimunculkan dan ditumbuhkan sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Dan jika kesadaran itu telah bersemi, selanjutnya jangan alpa menyirami. Agar tidak, &lt;span style="font-size:0pt;"&gt;&lt;/span&gt;tiga hari tumbuh lalu mati. Seperti bunga rumput teki. Selalu bertahan hidup meski terinjak kaki, tak berbilang kali. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Cakrawala terima kasih untuk semua saudara yang sudi berbagi dengan riang dan lapang.07042008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-62125818831203984?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/62125818831203984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=62125818831203984&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/62125818831203984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/62125818831203984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2008/04/bunga-rumput-teki-benih-rumput.html' title='Rumput Teki'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-4982307947682196712</id><published>2008-01-09T23:09:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T12:27:40.184+07:00</updated><title type='text'>Menjadi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/14/61/34/14613490/S0193-77.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 154px; height: 151px;" src="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/14/61/34/14613490/S0193-77.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span&gt;udahkah manusia? Rasanya belum. Mungkin masih dalam proses memanusia. Berarti masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan. Dan takkan mungkin selesai hingga nafas terakhir.&lt;br /&gt;Namun yang terpenting, selalu berada dalam proses memanusiakan diri. Apa sih manusia itu? Salah satunya adalah makhluk yang tak sempurna. Tempat salah dan khilaf berada. Kesadaran akan dua hal itu, diiringi dengan kesadaran untuk menjadi baik, dan lebih baik yang semestinay dijalankan.  Mudah-mudahan, saya sudah berada di situ.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-4982307947682196712?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/4982307947682196712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=4982307947682196712&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/4982307947682196712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/4982307947682196712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2008/01/menjadi-sudahkah-manusia-rasanya-belum.html' title='Menjadi'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-2821730977077164517</id><published>2007-12-30T23:38:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T12:36:13.081+07:00</updated><title type='text'>Patuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRvTV0hDhToLmA74lyr19_DbZXL47J0UHy_sH6BGBf8ZcrDoGd8"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 196px; height: 130px;" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRvTV0hDhToLmA74lyr19_DbZXL47J0UHy_sH6BGBf8ZcrDoGd8" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Adab tertinggi itu patuh!!&lt;/span&gt;" demikian disampaikan  Abang  di selasar suatu siang. Saya coba menangkap dan mencerna. Tetap saja sulit menyelami kedalamannya. Hanya duga menduga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Setelah patuh, ikhlas akan hadir sendiri, mengiringi&lt;/span&gt;". Jelas Beliau menambahkan. Sebab ikhlas bukan kita yang menentukan. Hadirnya seperti karunia. Turun dengan kehendak-Nya. Meski untuk itu, usaha adalah sebuah keharusan.&lt;br /&gt;Nah, usaha itu adalah berupaya taat dan patuh. Kira-kira demikian inti yang disampaikan Abang.&lt;br /&gt;Saya teringat diri sendiri. Tentang kadar ketaatan saya yang baru seolah ilalang. Tak teguh dan mudah bergoyang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-2821730977077164517?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/2821730977077164517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=2821730977077164517&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/2821730977077164517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/2821730977077164517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/12/patuh-adab-tertinggi-itu-patuh-demikian.html' title='Patuh'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-7809953369756588183</id><published>2007-12-16T17:05:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T12:39:22.361+07:00</updated><title type='text'>Halte</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTRJWCX4TyiZke7Skje-Lky-P4_-RWeltKQXEMuzbP_HPoHD19vhg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 125px; height: 103px;" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTRJWCX4TyiZke7Skje-Lky-P4_-RWeltKQXEMuzbP_HPoHD19vhg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah perjalanan, kita berhenti di halte untuk bersiap ke perjalanan selanjutnya. Sebuah halte telah menanti akhir dari perjalanan saya kali ini. Dan perjalanan selanjutnya telah menanti. Bagaimana kondisi perjalanan itu? Saya belum tahu. Satu yang harus selalu saya laksanakan, semata-mata patuh. Itu saja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-7809953369756588183?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/7809953369756588183/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=7809953369756588183&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/7809953369756588183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/7809953369756588183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/12/halte-setelah-perjalanan-kita-berhenti.html' title='Halte'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-3993144723016179301</id><published>2007-11-08T11:08:00.002+07:00</published><updated>2011-03-14T12:44:18.883+07:00</updated><title type='text'>Kosong</title><content type='html'>&lt;a href="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/18/96/50/18965098/42-18965098.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px; width: 100px; height: 136px;" alt="" src="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/18/96/50/18965098/42-18965098.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kosong. Sepi. Namun ada yang bergemuruh di sini. Jauuuh di dalam. Namun deburnya, terdengar nyaring di telinga rasa.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Gundah. Resah. Namun ada setitik tenang melayang. Tinggiii timbul tenggelam. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bila dua kutub dirumahkan jadi satu. Hingar bingar pertikaian takkan pernah benar-benar sunyi. Sampai yang satu mengalahkan yang lain. Tetapi bagaimana kalau tuba yang mengenyahkan susu. Binasalah rasanya. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-3993144723016179301?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/3993144723016179301/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=3993144723016179301&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/3993144723016179301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/3993144723016179301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/11/kosong-kosong.html' title='Kosong'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-4349266735799771608</id><published>2007-11-08T10:52:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T12:43:52.794+07:00</updated><title type='text'>Lebih Baik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRAjq23JUCJSPcfL5PZ48kkgK9nGTXtxUNDrJGbETZZueMg2A2mKw"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 171px; height: 108px;" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRAjq23JUCJSPcfL5PZ48kkgK9nGTXtxUNDrJGbETZZueMg2A2mKw" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pencapaian-pencapaian agung insani, pastilah diawali dari sebuah langkah kecil. Bahkan, setelah berbilang tahun kemudian terdengar remeh. Misalnya kisah tentang asal muasal hukum gravitasi ditemukan. Cerita tentang hukum archimedes dan banyak contoh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sekedar contoh pencapaian agung di bidang sains. Masih panjang daftar kalau kita sebutkan contoh-contoh di berbagai bidang kehidupan lainnya. Namun ada satu pencapaian yang menurut saya layak pula disebut agung. Pencapaian itu adalah &lt;em&gt;menjadi lebih baik&lt;/em&gt;.&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menjadi lebih baik &lt;/em&gt;tidak harus dimulai dengan langkah besar. Sebuah langkah kecil dan sederhana bisa membawa ke pencapaian itu. Langkah itu adalah setitik niat tulus yang terjaga kerdip cahayanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-4349266735799771608?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/4349266735799771608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=4349266735799771608&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/4349266735799771608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/4349266735799771608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/11/menjadi-lebih-baik-pencapaian.html' title='Lebih Baik'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-6234666465318852680</id><published>2007-11-08T10:22:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T12:47:31.385+07:00</updated><title type='text'>Uang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="data:image/jpg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBhQPDxAQDxAQEBAQDxAPFA8SEBAPEBAPFBAVFBUQEhQXHCYeFxkjGRQUHy8gIycpLCwtFR4xNTAqNSYrLCkBCQoKDgwOFw8PGikkHSQpKSkvKiwpLCksKSkpLC0pKikpLC4pLCwsKSkpKSosKSwpKSwpKSosLCwpKS0pKSkpLP/AABEIANgA5gMBIgACEQEDEQH/xAAcAAEAAQUBAQAAAAAAAAAAAAAABgECBAUHAwj/xABFEAABAwICBQkECAIJBQAAAAABAAIDBBEFIQYSEzFRByJBQlJhcYGRFTKhsRRicoKSosHRI1MWJDRDY7LS8PEzc8LD4f/EABkBAQADAQEAAAAAAAAAAAAAAAABAgMEBf/EACURAQACAgEEAwACAwAAAAAAAAABAgMRIQQSMUEiUWEycRNCUv/aAAwDAQACEQMRAD8A7iiIgIiICIiAiIgIiICIiAitc8DerBUt4oPVFZHKHC4V10FUVLqmuOKC5FYZRxCq14O7NBciIgIiICIiAiIgIiICIiAiIgIiICIiAiLxqKoRglxtZB6krCq8UbHlvJ3AZk+S050hFRNsI3hrtUuvvJAOdhxzWbBSNZmLlx3uObj58PBRtaIebmySm7yWN7APOPiehZMcYaLAWAVyKFmJi1XLFC51O0OeC3mlpcSL2NhxzC1dMyvmsZagQN4Naxz/AEtYeZW/RUmu58yrNImdsWmoy22tLNKeL5MvRtgspEVojS0RoWFiGkApCwOY5zX62bSLtIt0Hf6rNUe0yivHGeEhHq3/AOLPLaa1mYUyTMVmYb+g0lgnsGSAOPUfzHfHf5LZgrkBatphmks1PYBxewf3b7kW7jvCwp1f/UOaub7dMRafB9JYqmzQdSS3/Tda/wB09ZbgLsraLRuG8TE+BERWSIiICIiAiIgIiICIiAiIgKJ6eVOyp3PLtUDLxPAcSpDieJMp4nSymzGjzJ6GgdJK43pXpG6seXyGzB7kfQxv+riVlkyRXj2ra/aiVNpRJDWRVAJtFIH6vabuc0+LSR5r6GpqhsjGSMOsx7Wva4dLXC4PoVybQvk3+lObVVbSKfeyHMOm4OdwZ8/BdbijDWhrQGtaAA0ABoA3AAbgphem/MrkRFK4iIgIiIC1GlMd6Y/Vew/MfqtusDHI9amlH1b/AISD+ipkjdJ/pW8brKClqtLV62VpC8d5ry3EEZEZ3G8FSzR/TG1oqo9zZv0f+/qosWqxzVrjyWpO4Wraa+HXg6+5VUE0V0m2REM7v4ZyY8/3Z4E9n5eG6dAr1ceSMkbh2VtFo2qiItFhERAREQEREBERAVrn2BJIAGZJ3AcVcoRyl6RbGIUzDZ8wJf3Q7rfeOXgCq2t2xtEzqNonpvpb9KlIaf4ERIYO0emQ+PR3eKx9BtF/p8hqJx/VY3WDTunkHVP1B08d3FRqhon19XFSxkjXdznWvqRjNzz4D4kLu1BQsgiZDE3VjjaGtbwA+ZO+6wpXc90q467nul7gKqoi2bq3S6oiCt0urXvDQSSAALknIADpJUNxrlBDSY6Jm2du2zriIH6o3v8AgPFRMxHlE2ivlNFq6vSelhylqoGkdG1a4jxDbkLl9eKqsN6ieRwPUB1Ix3ajbD1WM3RPJYznrDGc8enTm6eUBNhWQk+En+lZ0uJQzxSBksbtaN4ycBvaRuK5CzRezrqR0NPqNAWd+oiI4UtnZCoQrlRec5FhCscF6kKxwUpeDgproZj+uPo8h5zRzCeswdXxHyUNcFSKYxva9hs5rg4HvC2xZJpba9Lds7dfCLCwfERUQslblrDMdl4yI9Vmr14ncbh2iIikEREBERAREQec0oY1znGzWtLieDQLkr590sx01E8sxvz3XaD1WDJrfQBdc5ScT2FA9oNnTuEI+ybl3wBHmuA4tPmsMnNoqzvzOnTORzB7Rz1rhzpHbCM/UZm8jxcQPuFdIWl0Lodhh1HHbPYMee9zxrk/mW6WkN6xqBES6JERWyNuCOII9RZBBdIcSdVvLAS2nabBv80g++/iOAWHDSNbuAWRJEWEtcLFpsR4JCwvNmNc88Ggn14LyL3teeXm2ta08qBqqtrS6NSvzkLYhw953oMh6rbUuj0LMy0yHi83H4dyvXpr2/F64bSi0UJebMaXHg0F3yWdFgMzupq/acApaxoAsAAOAFh6K666K9JX3LaOnj3KLf0Zl4s/Ef2XhLgEzeprfZcCpfdLq09LT9WnBVAJGFps4EEdBBB9CvMhTyromSiz2g9/WHgVFMWwd0BuOdGTk7geDv3XNlwWpzHMOe+Ka8tW4LycF6leblhDJI9BcT1JXQOPNlGs3ukaN3m3/Kp6uPQVBikZI3exzXDyN112CYPY17dzmhw8CLr0ulvuuvp1Yp3GnoiIutsIiICIiAiKhQct5Xa+88EN8o4nSH7T3W+TPiuQYg67iuico0+viNRwYI2fhjH6krnNc3nHzXNE7vLH3L6Ww2wghtu2MQHhs2rJutPonXCegpJB008YPixoYfi1bZbOpW6XVFS6C66K26XQeU1FG83fGxx4loJXqxgaLNAA4AAD0CXS6ahC66oqXVLolddLq26XQXXVLql0ugrdWyxhzS1wBDhYg7iEul0QhWL4eYJC3e05tPFv7jctc5TXHaPawut7zOe3j3jzHyUKcV5ebH2W/HDkp22eL10rQ2q2lFFfMx60Z+6eb+UtXNHlTfk5mvFOzsyNd+Jtv/Fa9NOr6Tin5JgiIvSdQiIgIiICFFQoOD6YO1sRrP8AvuHoAP0ULxOOzlNdM26uJ1g4zE+rWlRrE6e4uFxROryw9ugcjeNh9NLSOPOgeZGD/CkOdvB9/wAS6JdfOWjWOOoKuOobc6ps9vbiOTmemY7wF9B0NeyeJk0Tg+ORoc1w6Qf16D4Lqh0VnhlXS6s1kui6+6pdWXS6C+6pdW3S6C66XVl0uguul1ZrJdBfdUurbqmsgvul1ZrKmsgvuoFiMOzlkZ0Ne4Dwvkp1rKG6R5VD+8MP5AuXqo+MS588cRLUvKmHJs/nVA7oz/mChryplyaN/tJ74x8HLDp/5wwx/wAk5REXqOsREQEREBCiIOKcptPs8TkNrCSOKQd/N1SfVpUaLNYWXQuWTDv7LUgduBx/Oz/2eoXPInrhyRq0sLRy0mIUWqbhSDQTTp2Hu2U13Ur3XIGboXHfIwdI4t6ejPfSWnDwtNWYWRuWlMn2mttPoGkrWTMbJE9skbxdr2m4I/30L2uvn3BNIaigeTTvIBPOjcNaN/i3j3ixU/wvldicAKmF8Tul0f8AFZ42ycPittt4vDoV01lGI+UShcL/AEi3cY5AfkvOblIox7r5Hng2J/zNgp3CdwlWsmsoHUcpmtlT0rjwdK8NH4W3+YWunxqtqcnSmJp6kQ2f5ve+KpbJWvlSctYT3Esfgph/Gla09j3nnwaM1EMW5SZDcUkFh/MmzPiGA5eZ8lrqXA2jN2ZOZJzJPes80LbWsFzW6mPTGc/0jbuUSva+5lbv9wxM1PCwH6rpmi2kQrqZswGo4EskZvDZBa9u4ggjx7lybSOlDXZKd8mGHuio3PeCNvKXtH1GtDQ7zN/Ky6KW7o20x2mU01k1l56yprLRs9NZNZeRcmug9NZQ7SGS9Q/u1R6MClheoJXVOvI9/acT5XyXN1M/GIYZ54iGM9y6BybwWppH9uYjya0D5krnT3rruitFsaKBhFjqB5H1nkvI+NvJZ9NX5bZYo5226Ii9B0iIiAiIgIiINBp1g/0ugnjaLva3asHF8fOAHiLjzXBoXr6XIXBtPcB+g10gaLRTXmj4AOdzmeTrjwIXPmr7Z3j21sT1kBodvWvikWZFIuOYYypJhTXdC8v6PgrPZIsqC7iGtzJIAA6STYJ32hG5auLR4LPgwRo6FnOhcz3mOb4tI+aq16ra9vaszKsFE1u4BZTbDcvASL1ja53utc77LSVlzKPL1Dl4VVYGNJJWZFg8z9+rGPrG7vwhbOiwKKIhxG0eOu/Ox+q3cFvTp7W8r1xWnyjGGaIuq5BLUgsgBuIzk+Xut1W/NT1lgAAAABYAZAAbgAvPXTXXoVrFY1DrrEV8PXWTWXjrq3XUrbe+sqa68ddUMmWZt0oMbG63ZwkD3n8wfqfRQ171m4xiW2kJHut5rfDpPmtW968/Nbvs48lu6WfgeHmpqYYRuc8F3cxubj6BdpaLAAZdyg3Jpg9mPqnDN944/sA853mRb7qnS68FO2u/ttjjUCIi6GgiIgIiICIiAozp9ov7QpHNYP48V5IjxdbOO/Bwy8bKTJZRMbjQ+Y2uLSWkEEEgg5EEZEELKjkU85UtCS0ur6Zpsc6iNvQf54HDtevFc5ilXFempc9o02D6iwusSk0g2crD2ZGn0cCkkl2lR2rdZxU46xJWH0IXfMhebo2ne1p8WgrEoKnXhid2oo3eZYCV7a66nQ9Axo3NaPBoCv11j66GRB7a6a6xy9U2iG2RtFTaLH2ibRSbe+0VC9eBkVrpbC5IAGd0GRrqP41jWteKM5ddw6fqgrFxTHzJeOE2ZmHSbi7ubwHetSX2XJmy/wCtWN7+oejpFlYHhLqyoZCy4Bze7sRje79u+y18bXSOaxgLnOIa1ozJJ3ALsGh2jIoYbOsZ5LOkdvsehje4LPFj7p/FKV3LdUtM2KNsbBqsY0NaB0NAsF7Ii9F0iIiAiIgIiICKl01kFUVpkHFWmoaOkILnsBBBAIIsQcwQeghcd5QeTs0pdVUjSackufEBcwcXDjH8vBddNYztD1Xm/EY+lw9VW1YtCJjb5qEmS0tb7y7Fpryfwya0+HuYx5u51NcNjcekxHqn6u7hZcdxKNzHlr2lrgbEEWIKxrWayziunYNFarXoaV3+C0eYFv0W02iimgVTrUEQ6Wukb6PJHwIUh2i2X2yDIqbRY20VNohtkmRU2ixtqqbREbZO0VDIsYyq0yobZW0VrnXBBzBFrdyxzKrdqhtG6uLZPczoBy8Du+C8I2ukc1jGl73HVa1ouXE9AC31TgklZLGyAN1zcHWOq0NGesT3d3FdE0W0MioG6w/iTuFnTEbh2WDqj4lcn+CZt+M4puWLoVoWKNommAdUuHcRC0j3G9/E+Qy3y1EXXWsVjUNojQiIrJEREBWPkA3q9aTH9fV5iDKqMZYzpWqrNMo2dIUTrNpne91DsWfJrHfZB0Kq5RQN3zWpqOUd3QuePc7purLonSazcoUh6ywpdOJT1iosiCQSaXynrn1Xi/SiU9Y+q0qINm7H5T1j6qMY7VGR13Znj0+q2i1tfSl25EpVyc1P9Wlb2ZyfJzG/qCpXtVyCKmkZfUe9t+y5zb+hXpspTvkkPjI8/MqFJq6vJUhou5waOJIA+KwajSKnZ708fgHB5/Ldc2bhpO/PvOayI8NAUco7ZS6p06iGUTJJD4bNvqc/gtDiWmlQ+4Zqwg9kazvxH9AvBlKB/wALGxCHJV+SNSkehONukEkUjy54O0aXEklpycPI29VKDMuS4ViJp52SdDXWcOLDk4ei6aJb5jMHMHiOKvCtuGWZVTarF11iVuKMhHPdmdzBm4+A/dSptuKeudG9r2Gzmm4KzouU17XEOGYNj5KAzY0+XIcxp6Bm4jvKxEb1iY8uuUvKe0+8Fu6PTuF+91lwoL0Y9/VuoX0+i6XFo5PdcD5rMBXENFp6jaNtrWuF2ihJ1G62+wREwyERFKBWPjB3q9EGvqMGY/oWmrdCo39AUpRBzqr5NwfdWnqOTd43BddVNVBxKfQCUbmlYc2hcreqV3cxDgFa6mad7Qg4C/RSUdUrwOj0vZPovoM0LD1QvI4TGeoPRE7fPz8EkHVPoV5nB5OyV9BOwSI9Qeit9gxdgeiG3z97Gk7BVfY0nZK+gPYMXYCewYuwENvn/wBjydkp7Hk7JX0B7Ah7AT2DF2Aht8/+yJOyfRec+CSEHmn0K+hPYEXYCocBi7A9ENvlSvw1zHEFpHkploxXa1M0SGzouYb9Ld7T35ZeS6XpFoAyV92tAF+Cy8C5PoorFzQT4KEWiLQ5nN9Il5tPG5o/mEc77o6PNW0+gk7uc5ri47ybkk95Xd4cJjYLBjfRZDado3NHopIiI8OJU/J9M7qrYU3JnId66+IxwVbInbmtLyXjLWK3dHyeRM3gFTBENtdRYFHF7rQtgAqoiBERAREQEREBERAREQEREBERAREQEREBERBQtSyqiAiIgIiICIiAiIgIiIP/2Q=="&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 156px; height: 147px;" src="data:image/jpg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBhQPDxAQDxAQEBAQDxAPFA8SEBAPEBAPFBAVFBUQEhQXHCYeFxkjGRQUHy8gIycpLCwtFR4xNTAqNSYrLCkBCQoKDgwOFw8PGikkHSQpKSkvKiwpLCksKSkpLC0pKikpLC4pLCwsKSkpKSosKSwpKSwpKSosLCwpKS0pKSkpLP/AABEIANgA5gMBIgACEQEDEQH/xAAcAAEAAQUBAQAAAAAAAAAAAAAABgECBAUHAwj/xABFEAABAwICBQkECAIJBQAAAAABAAIDBBEFIQYSEzFRByJBQlJhcYGRFTKhsRRicoKSosHRI1MWJDRDY7LS8PEzc8LD4f/EABkBAQADAQEAAAAAAAAAAAAAAAABAgMEBf/EACURAQACAgEEAwACAwAAAAAAAAABAgMRIQQSMUEiUWEycRNCUv/aAAwDAQACEQMRAD8A7iiIgIiICIiAiIgIiICIiAitc8DerBUt4oPVFZHKHC4V10FUVLqmuOKC5FYZRxCq14O7NBciIgIiICIiAiIgIiICIiAiIgIiICIiAiLxqKoRglxtZB6krCq8UbHlvJ3AZk+S050hFRNsI3hrtUuvvJAOdhxzWbBSNZmLlx3uObj58PBRtaIebmySm7yWN7APOPiehZMcYaLAWAVyKFmJi1XLFC51O0OeC3mlpcSL2NhxzC1dMyvmsZagQN4Naxz/AEtYeZW/RUmu58yrNImdsWmoy22tLNKeL5MvRtgspEVojS0RoWFiGkApCwOY5zX62bSLtIt0Hf6rNUe0yivHGeEhHq3/AOLPLaa1mYUyTMVmYb+g0lgnsGSAOPUfzHfHf5LZgrkBatphmks1PYBxewf3b7kW7jvCwp1f/UOaub7dMRafB9JYqmzQdSS3/Tda/wB09ZbgLsraLRuG8TE+BERWSIiICIiAiIgIiICIiAiIgKJ6eVOyp3PLtUDLxPAcSpDieJMp4nSymzGjzJ6GgdJK43pXpG6seXyGzB7kfQxv+riVlkyRXj2ra/aiVNpRJDWRVAJtFIH6vabuc0+LSR5r6GpqhsjGSMOsx7Wva4dLXC4PoVybQvk3+lObVVbSKfeyHMOm4OdwZ8/BdbijDWhrQGtaAA0ABoA3AAbgphem/MrkRFK4iIgIiIC1GlMd6Y/Vew/MfqtusDHI9amlH1b/AISD+ipkjdJ/pW8brKClqtLV62VpC8d5ry3EEZEZ3G8FSzR/TG1oqo9zZv0f+/qosWqxzVrjyWpO4Wraa+HXg6+5VUE0V0m2REM7v4ZyY8/3Z4E9n5eG6dAr1ceSMkbh2VtFo2qiItFhERAREQEREBERAVrn2BJIAGZJ3AcVcoRyl6RbGIUzDZ8wJf3Q7rfeOXgCq2t2xtEzqNonpvpb9KlIaf4ERIYO0emQ+PR3eKx9BtF/p8hqJx/VY3WDTunkHVP1B08d3FRqhon19XFSxkjXdznWvqRjNzz4D4kLu1BQsgiZDE3VjjaGtbwA+ZO+6wpXc90q467nul7gKqoi2bq3S6oiCt0urXvDQSSAALknIADpJUNxrlBDSY6Jm2du2zriIH6o3v8AgPFRMxHlE2ivlNFq6vSelhylqoGkdG1a4jxDbkLl9eKqsN6ieRwPUB1Ix3ajbD1WM3RPJYznrDGc8enTm6eUBNhWQk+En+lZ0uJQzxSBksbtaN4ycBvaRuK5CzRezrqR0NPqNAWd+oiI4UtnZCoQrlRec5FhCscF6kKxwUpeDgproZj+uPo8h5zRzCeswdXxHyUNcFSKYxva9hs5rg4HvC2xZJpba9Lds7dfCLCwfERUQslblrDMdl4yI9Vmr14ncbh2iIikEREBERAREQec0oY1znGzWtLieDQLkr590sx01E8sxvz3XaD1WDJrfQBdc5ScT2FA9oNnTuEI+ybl3wBHmuA4tPmsMnNoqzvzOnTORzB7Rz1rhzpHbCM/UZm8jxcQPuFdIWl0Lodhh1HHbPYMee9zxrk/mW6WkN6xqBES6JERWyNuCOII9RZBBdIcSdVvLAS2nabBv80g++/iOAWHDSNbuAWRJEWEtcLFpsR4JCwvNmNc88Ggn14LyL3teeXm2ta08qBqqtrS6NSvzkLYhw953oMh6rbUuj0LMy0yHi83H4dyvXpr2/F64bSi0UJebMaXHg0F3yWdFgMzupq/acApaxoAsAAOAFh6K666K9JX3LaOnj3KLf0Zl4s/Ef2XhLgEzeprfZcCpfdLq09LT9WnBVAJGFps4EEdBBB9CvMhTyromSiz2g9/WHgVFMWwd0BuOdGTk7geDv3XNlwWpzHMOe+Ka8tW4LycF6leblhDJI9BcT1JXQOPNlGs3ukaN3m3/Kp6uPQVBikZI3exzXDyN112CYPY17dzmhw8CLr0ulvuuvp1Yp3GnoiIutsIiICIiAiKhQct5Xa+88EN8o4nSH7T3W+TPiuQYg67iuico0+viNRwYI2fhjH6krnNc3nHzXNE7vLH3L6Ww2wghtu2MQHhs2rJutPonXCegpJB008YPixoYfi1bZbOpW6XVFS6C66K26XQeU1FG83fGxx4loJXqxgaLNAA4AAD0CXS6ahC66oqXVLolddLq26XQXXVLql0ugrdWyxhzS1wBDhYg7iEul0QhWL4eYJC3e05tPFv7jctc5TXHaPawut7zOe3j3jzHyUKcV5ebH2W/HDkp22eL10rQ2q2lFFfMx60Z+6eb+UtXNHlTfk5mvFOzsyNd+Jtv/Fa9NOr6Tin5JgiIvSdQiIgIiICFFQoOD6YO1sRrP8AvuHoAP0ULxOOzlNdM26uJ1g4zE+rWlRrE6e4uFxROryw9ugcjeNh9NLSOPOgeZGD/CkOdvB9/wAS6JdfOWjWOOoKuOobc6ps9vbiOTmemY7wF9B0NeyeJk0Tg+ORoc1w6Qf16D4Lqh0VnhlXS6s1kui6+6pdWXS6C+6pdW3S6C66XVl0uguul1ZrJdBfdUurbqmsgvul1ZrKmsgvuoFiMOzlkZ0Ne4Dwvkp1rKG6R5VD+8MP5AuXqo+MS588cRLUvKmHJs/nVA7oz/mChryplyaN/tJ74x8HLDp/5wwx/wAk5REXqOsREQEREBCiIOKcptPs8TkNrCSOKQd/N1SfVpUaLNYWXQuWTDv7LUgduBx/Oz/2eoXPInrhyRq0sLRy0mIUWqbhSDQTTp2Hu2U13Ur3XIGboXHfIwdI4t6ejPfSWnDwtNWYWRuWlMn2mttPoGkrWTMbJE9skbxdr2m4I/30L2uvn3BNIaigeTTvIBPOjcNaN/i3j3ixU/wvldicAKmF8Tul0f8AFZ42ycPittt4vDoV01lGI+UShcL/AEi3cY5AfkvOblIox7r5Hng2J/zNgp3CdwlWsmsoHUcpmtlT0rjwdK8NH4W3+YWunxqtqcnSmJp6kQ2f5ve+KpbJWvlSctYT3Esfgph/Gla09j3nnwaM1EMW5SZDcUkFh/MmzPiGA5eZ8lrqXA2jN2ZOZJzJPes80LbWsFzW6mPTGc/0jbuUSva+5lbv9wxM1PCwH6rpmi2kQrqZswGo4EskZvDZBa9u4ggjx7lybSOlDXZKd8mGHuio3PeCNvKXtH1GtDQ7zN/Ky6KW7o20x2mU01k1l56yprLRs9NZNZeRcmug9NZQ7SGS9Q/u1R6MClheoJXVOvI9/acT5XyXN1M/GIYZ54iGM9y6BybwWppH9uYjya0D5krnT3rruitFsaKBhFjqB5H1nkvI+NvJZ9NX5bZYo5226Ii9B0iIiAiIgIiINBp1g/0ugnjaLva3asHF8fOAHiLjzXBoXr6XIXBtPcB+g10gaLRTXmj4AOdzmeTrjwIXPmr7Z3j21sT1kBodvWvikWZFIuOYYypJhTXdC8v6PgrPZIsqC7iGtzJIAA6STYJ32hG5auLR4LPgwRo6FnOhcz3mOb4tI+aq16ra9vaszKsFE1u4BZTbDcvASL1ja53utc77LSVlzKPL1Dl4VVYGNJJWZFg8z9+rGPrG7vwhbOiwKKIhxG0eOu/Ox+q3cFvTp7W8r1xWnyjGGaIuq5BLUgsgBuIzk+Xut1W/NT1lgAAAABYAZAAbgAvPXTXXoVrFY1DrrEV8PXWTWXjrq3XUrbe+sqa68ddUMmWZt0oMbG63ZwkD3n8wfqfRQ171m4xiW2kJHut5rfDpPmtW968/Nbvs48lu6WfgeHmpqYYRuc8F3cxubj6BdpaLAAZdyg3Jpg9mPqnDN944/sA853mRb7qnS68FO2u/ttjjUCIi6GgiIgIiICIiAozp9ov7QpHNYP48V5IjxdbOO/Bwy8bKTJZRMbjQ+Y2uLSWkEEEgg5EEZEELKjkU85UtCS0ur6Zpsc6iNvQf54HDtevFc5ilXFempc9o02D6iwusSk0g2crD2ZGn0cCkkl2lR2rdZxU46xJWH0IXfMhebo2ne1p8WgrEoKnXhid2oo3eZYCV7a66nQ9Axo3NaPBoCv11j66GRB7a6a6xy9U2iG2RtFTaLH2ibRSbe+0VC9eBkVrpbC5IAGd0GRrqP41jWteKM5ddw6fqgrFxTHzJeOE2ZmHSbi7ubwHetSX2XJmy/wCtWN7+oejpFlYHhLqyoZCy4Bze7sRje79u+y18bXSOaxgLnOIa1ozJJ3ALsGh2jIoYbOsZ5LOkdvsehje4LPFj7p/FKV3LdUtM2KNsbBqsY0NaB0NAsF7Ii9F0iIiAiIgIiICKl01kFUVpkHFWmoaOkILnsBBBAIIsQcwQeghcd5QeTs0pdVUjSackufEBcwcXDjH8vBddNYztD1Xm/EY+lw9VW1YtCJjb5qEmS0tb7y7Fpryfwya0+HuYx5u51NcNjcekxHqn6u7hZcdxKNzHlr2lrgbEEWIKxrWayziunYNFarXoaV3+C0eYFv0W02iimgVTrUEQ6Wukb6PJHwIUh2i2X2yDIqbRY20VNohtkmRU2ixtqqbREbZO0VDIsYyq0yobZW0VrnXBBzBFrdyxzKrdqhtG6uLZPczoBy8Du+C8I2ukc1jGl73HVa1ouXE9AC31TgklZLGyAN1zcHWOq0NGesT3d3FdE0W0MioG6w/iTuFnTEbh2WDqj4lcn+CZt+M4puWLoVoWKNommAdUuHcRC0j3G9/E+Qy3y1EXXWsVjUNojQiIrJEREBWPkA3q9aTH9fV5iDKqMZYzpWqrNMo2dIUTrNpne91DsWfJrHfZB0Kq5RQN3zWpqOUd3QuePc7purLonSazcoUh6ywpdOJT1iosiCQSaXynrn1Xi/SiU9Y+q0qINm7H5T1j6qMY7VGR13Znj0+q2i1tfSl25EpVyc1P9Wlb2ZyfJzG/qCpXtVyCKmkZfUe9t+y5zb+hXpspTvkkPjI8/MqFJq6vJUhou5waOJIA+KwajSKnZ708fgHB5/Ldc2bhpO/PvOayI8NAUco7ZS6p06iGUTJJD4bNvqc/gtDiWmlQ+4Zqwg9kazvxH9AvBlKB/wALGxCHJV+SNSkehONukEkUjy54O0aXEklpycPI29VKDMuS4ViJp52SdDXWcOLDk4ei6aJb5jMHMHiOKvCtuGWZVTarF11iVuKMhHPdmdzBm4+A/dSptuKeudG9r2Gzmm4KzouU17XEOGYNj5KAzY0+XIcxp6Bm4jvKxEb1iY8uuUvKe0+8Fu6PTuF+91lwoL0Y9/VuoX0+i6XFo5PdcD5rMBXENFp6jaNtrWuF2ihJ1G62+wREwyERFKBWPjB3q9EGvqMGY/oWmrdCo39AUpRBzqr5NwfdWnqOTd43BddVNVBxKfQCUbmlYc2hcreqV3cxDgFa6mad7Qg4C/RSUdUrwOj0vZPovoM0LD1QvI4TGeoPRE7fPz8EkHVPoV5nB5OyV9BOwSI9Qeit9gxdgeiG3z97Gk7BVfY0nZK+gPYMXYCewYuwENvn/wBjydkp7Hk7JX0B7Ah7AT2DF2Aht8/+yJOyfRec+CSEHmn0K+hPYEXYCocBi7A9ENvlSvw1zHEFpHkploxXa1M0SGzouYb9Ld7T35ZeS6XpFoAyV92tAF+Cy8C5PoorFzQT4KEWiLQ5nN9Il5tPG5o/mEc77o6PNW0+gk7uc5ri47ybkk95Xd4cJjYLBjfRZDado3NHopIiI8OJU/J9M7qrYU3JnId66+IxwVbInbmtLyXjLWK3dHyeRM3gFTBENtdRYFHF7rQtgAqoiBERAREQEREBERAREQEREBERAREQEREBERBQtSyqiAiIgIiICIiAiIgIiIP/2Q==" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Apapun harta benda yang diinginkan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;bisa diperoleh diri-rendah,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;ia bersandar pada semua itu,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;enggan melepaskannya karena ketamakan untuk mendapatkan lebih,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;atau karena takut akan kemiskinan dan kebutuhan.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;                                         Syaikh Jalalu'ddin Rumi&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Berlangsung begitu saja. Tubuh terduduk, tangan meraih spidol &lt;em&gt;boardmarker &lt;/em&gt;lalu menulis dan menggambar satu hal yang ingin selalu saya ingat. Selesai, tangan meraih sebuah buku kecil bersampul hijau. Kemudian jemari membuka halamannya. Dan yang terpampang adalah kata-kata bijak di atas.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ya... rasa takut harus tetap dirawat. Namun akar sebab musababnya yang harus segera diubah. Dari kemiskinan dan kebutuhan menjadi kebinasaan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-6234666465318852680?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/6234666465318852680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=6234666465318852680&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/6234666465318852680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/6234666465318852680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/11/uang-apapun-harta-benda-yang-diinginkan.html' title='Uang'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-4927651494758776519</id><published>2007-09-19T16:16:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T12:49:53.204+07:00</updated><title type='text'>Kemana Kita Pergi?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRXF9urUFHNgbQwOJ9Q6kj3E31IbDowzFutM3aG5IosY1cRNysVQA"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 223px; height: 158px;" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRXF9urUFHNgbQwOJ9Q6kj3E31IbDowzFutM3aG5IosY1cRNysVQA" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ya! Kemana kita akan pergi? Begitu yang kerap Beliau tanyakan berulang-ulang di berbagai kesempatan. Rasanya tiada pernah Beliau lelah mengulang pertanyaan repetisi itu. Pertanyaan sederhana, namun dalam maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tanya yang mengajak diri untuk berkaca kepada hakikat kita mengada. Sungguh tanya yang dalam dan menghujam. Dan harus segera diurai jawabnya. Kemana kita pergi? Tanya itu mengiang di telinga, selalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-4927651494758776519?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/4927651494758776519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=4927651494758776519&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/4927651494758776519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/4927651494758776519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/09/kemana-kita-pergi-ya-kemana-kita-akan.html' title='Kemana Kita Pergi?'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-1883168553287017080</id><published>2007-08-23T17:48:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T12:52:25.388+07:00</updated><title type='text'>Kembali</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTpI4s0hpgvJ_X5IZVPf7zr_B0q2GtVU40-o7gzkv3pEw67LvT2"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 145px; height: 123px;" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTpI4s0hpgvJ_X5IZVPf7zr_B0q2GtVU40-o7gzkv3pEw67LvT2" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Antara otak, mulut dan hati nurani tak lebih jauh dari sejengkal jaraknya. Tapi kenyataannya bisa sangat jauh dan saling tak mengenal. Buktinya, mungkin suatu ketika kita bicara dan berpikir tentang memberantas KKN, namun tanpa disadari, secarik ktp yang terselip di dompet diperpanjang melalui salah satu huruf K diatas. Atau secangkir kopi yang terhirup pagi tadi, terbeli dari sebuah proses panjang pengkapitalan modal yang salah satu mata rantainya mengandung K yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali! Cuma itu kuncinya. Kembali ke jalur yang benar sebenar-benarnya. Dan harusnya, kita bisa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-1883168553287017080?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/1883168553287017080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=1883168553287017080&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/1883168553287017080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/1883168553287017080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/08/kembali-antara-otak-mulut-dan-hati.html' title='Kembali'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-1429595608929544153</id><published>2007-07-24T13:17:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T12:55:04.157+07:00</updated><title type='text'>Free Hugs</title><content type='html'>Di&lt;a style="font-style: italic;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ6L_Yd3WdcvRJpt3-rGniLYObhj_Jh84r5M6gfE4Eyx91UEVUW"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 198px; height: 131px;" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ6L_Yd3WdcvRJpt3-rGniLYObhj_Jh84r5M6gfE4Eyx91UEVUW" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; tivi kantor - entah di saluran apa - saya sering melihat tayangan tawaran &lt;em&gt;free hugs. &lt;/em&gt;Alias pelukan cuma-cuma bin gratis. Dalam tayangan itu, beberapa gadis muda nan bening menggunakan kaus putih mengacung-acungkan poster bertulis &lt;em&gt;Free Hugs &lt;/em&gt;besar-besar di trotoar jalan. Beberapa pejalan kaki, lelaki perempuan, tua muda tertarik dengan tawaran itu. Lalu berpeluklah mereka dengan gadis pembawa poster sambil tertawa bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya coba menerka. Gadis-gadis muda itu, mungkin bermaksud membagi kehangatan dan kebahagiaan pada orang lain. Sebab di dunia yang semakin sibuk dan minim interaksi sosial yang hangat, sebuah pelukan mungkin bisa diibaratkan sebagai seteguk air kala dahaga kemarau panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat, semangat berbagi seperti ini indah sekali. Tapi tentu saja, untuk nilai budaya kita kegiatan itu tak bisa kita adopsi serta merta. Saya terpikir, kalau umpamanya &lt;em&gt;pelukan cuma-cuma &lt;/em&gt;diganti dengan &lt;em&gt;senyum dan salam &lt;/em&gt;tentu baik juga. Bagaimana Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-1429595608929544153?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/1429595608929544153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=1429595608929544153&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/1429595608929544153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/1429595608929544153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/07/senyum-salam-cuma-cuma-di-tivi-kantor.html' title='Free Hugs'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-6026659475363823204</id><published>2007-07-17T18:08:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T12:57:48.907+07:00</updated><title type='text'>Memilih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQdaM0VGDvX9Jwhup7JUebkttJ35ynn9hcG2QVk9Fk67xaCtB6L"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 115px; height: 158px;" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQdaM0VGDvX9Jwhup7JUebkttJ35ynn9hcG2QVk9Fk67xaCtB6L" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Siapa yang musti ditaruh diurutan paling atas. Tentu saja Yang Membuat Ada segala sesuatu. Selanjutnya, yang paling dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Lalu?... Yang sangat dicintai oleh Sang Kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriku?... Untuk dipertimbangkan saja sudah tak layak. Apalagi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-6026659475363823204?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/6026659475363823204/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=6026659475363823204&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/6026659475363823204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/6026659475363823204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/07/memilih-siapa-yang-musti-ditaruh.html' title='Memilih'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-2851839520253124613</id><published>2007-06-20T15:21:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T13:02:05.039+07:00</updated><title type='text'>Langkah Kecil</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRogD-9gvw2Ifvpvnk5y9N4gCGd0OWs8Kpisva7JW6XfQIBSbez"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 124px; height: 166px;" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRogD-9gvw2Ifvpvnk5y9N4gCGd0OWs8Kpisva7JW6XfQIBSbez" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah langkah sekecil dan sependek apapun, menyiratkan keberanian dan kemajuan. Salah atau serong arahnya, tak seberapa penting. Sebab melangkah itulah yang terpenting. Karena itu sebuah usaha. Usaha untuk mencoba. Tidak mencoba berarti belum belajar dalam arti sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, saya dihadapkan pada pilihan. Rumit atau tidak, tergantung dari cara melihatnya. Singkat kata, saya harus memilih, maju sekarang atau menundanya untuk satu tahun ke depan. Lazimnya tiap pilihan, keduanya memiliki konsekuensi. Dan tentu saja sama-sama bertujuan mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedang berusaha memisahkannya dari pengaruh emosional saya. Dari keinginan-keinginan atau target-target pribadi saya. Dan juga dari bisikan-bisikan surga yang mengecoh kejernihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah terpikir untuk meminta pertimbangan yang lebih ahli. Sebab perkataan bijak mewanti-wanti, tanyalah persoalan pada ahlinya. Sayangnya waktu tak cukup banyak. Sementara bertanya pada ahli, memerlukan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya saya harus lebih keras berusaha. Berfikir dan menjernihkan hati. Itu saja rasanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-2851839520253124613?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/2851839520253124613/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=2851839520253124613&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/2851839520253124613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/2851839520253124613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/06/pilih-langkah-sebuah-langkah-sekecil.html' title='Langkah Kecil'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-3276002112382092563</id><published>2007-06-13T17:44:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T13:08:26.413+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSrhrVW5aT_viKPumDUzg3rqUf6HVSXHAAk6ZUK-F4rryr2qEjT"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 223px; height: 148px;" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSrhrVW5aT_viKPumDUzg3rqUf6HVSXHAAk6ZUK-F4rryr2qEjT" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu hari Najla menggambar di atas kertas daur pakai. Ada empat sosok ia gambar tersenyum lebar di situ. Dua dewasa, laki-laki dan perempuan mengapit dua kanak. Juga laki-laki dan perempuan. Siapa mereka. Ini abhi, katanya menunjuk lelaki dewasa. Yang ini ummi. Terus yang ini Najla, terangnya. Nah, anak laki-laki itu siapa? Itu Ali, adikku. Jawabnya mantap. Seketika senyum berbunga di hati. Mencoba mafhum pada daya imaji kanak yang demikian tinggi. Percakapan pun terhenti sampai di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, berita gembira itu datang. Hanya satu kata, positif. Seketika ingatan tersambung pada gambar di atas kertas daur pakai. Mungkin kebetulan. Mungkin juga berita itu telah sampai kepadanya melalui jalan yang berbeda. Keduanya tak penting. Karena yang terpenting adalah menyiapkan kehadirannya hingga sembilan sasi ke muka. Ia pun kian rajin menggambar, juga mereka cerita tentang Ali. Banyak rencana yang ia buat untuk Ali. Senyum makin berbunga di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hari cerah. Mendung tak mengusik mentari. Dalam limpahan cahaya siang yang menyemangati keringat, ia bertolak ke rumah putih di sudut tikungan. Ini hari, Ali harus hadir di tengah kami. Begitu sang ahli ginekologi bersaksi. Sebenarnya ada jengah menerima titah itu. Tapi hidup harus memilih. Dan untuk memilih, adalah bijaksana bertanya pada ahlinya. Maka turunlah instruksi, induksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bayang mentari kian memanjang, jarum infus ditusukkan ke punggung tangan kanan. Cairan bening mulai mengalir ke pembuluh. Beberapa jam kemudian reaksi itu hadir. Peluh dan pucatnya wajah, memberi kabar tentang sakit yang hampir tak tertahan. Dan sakit itu hadir berulang-ulang. Kian lama kian cepat sambangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selewat isya, saya menemaninya ke kubus persalinan. Sudah bukaan empat, begitu suster kabarkan. Rasa sakit makin cepat hadir mendera. Tak banyak yang saya bisa lakukan untuk meringankannya. Dokternya masih di perjalanan. Kabar yang ditelinga terdengar kurang nyaman. Semoga jalan ramah padanya, tak tersumbat macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan kali lonceng berbunyi telah lewat sejak tadi. Berkaos polo, bersisir rapi ke samping dokter memasuki kubus persalinan. Perjuangan sebenarnya baru dimulai. Ketegangan menguasai diri saya. Tentu ia merasakan yang lebih-lebih dari saya. Tapi ia tabah. Berkali-kali berusaha, belum berhasil juga. Tiga puluh menit sudah waktu berlalu. Terasa oleh saya, ambang antara kehidupan dan keberpulangan hampir-hampir nisbi saat ini. Tapi, ikhtiar tak boleh lelah. Juga pinta dan doa. Beberapa kali bayangan hitam melintas. Akal sehat berusaha segera mengusirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua satu lebih empat satu lengking tangis memecah ruangan. Dua ribu sembilan ratus gram, empat ratus sembilan puluh milimeter. Lengkap dan sehat. Bulat besar binar matanya. Ah, mirip dengan si penggambar dirinya di atas kertas daur pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISA ZAYYAN MATALINO, telah enam belas hari keluar dari gambar. Kini ia sedang memulai menggambar untuk dirinya sendiri. Semoga kami tak salah mendampingi. Terima kasih untuk segenap doa, dukungan dan canda dari semua kawan dan handai taulan. Sekali lagi terima kasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-3276002112382092563?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/3276002112382092563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=3276002112382092563&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/3276002112382092563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/3276002112382092563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/06/gambar-suatu-hari-najla-menggambar-di.html' title=''/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-1958965141312746780</id><published>2007-04-03T14:19:00.002+07:00</published><updated>2011-03-14T13:08:59.637+07:00</updated><title type='text'>Menetak Pokok</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRj8YIntmVOyj3IuWTX4pxCqjEyHPNHUHjoQIOey25IoEUM6Y5g"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 136px; height: 182px;" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRj8YIntmVOyj3IuWTX4pxCqjEyHPNHUHjoQIOey25IoEUM6Y5g" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perjalanan waktu ibarat kapak menetak sebatang kayu. Kapak adalah guliran waktu, sementara pokok kayu adalah usia kita. Begitu waktu ulang tahun berlalu, satu ruas usia tertetak kapak waktu. Tebas, lepas dan lapuk dimakan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja, satu buku usiaku tanggal. Artinya, rentang usiaku bertambah. Namun dalam pengertian yang lebih hakiki, berarti akhir perjalananku makin mendekat. Sebab seperti telah dituliskan, akhir nafas anak manusia telah digoreskan bersama alam tercipta. Tak mungkin mengulur ataupun mengkeret, kecuali tentu dengan perkenanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa yang sudah kuperoleh? Apa yang telah kutabung dalam kumal saku kehidupanku? Tak ada! Kalaupun ada, sedikit sekali rasanya. Sementara, neraka adalah pasti. Sedang surga, masih angan yang mengawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh! Betapa kurasa hidup masih berputar pada ketidakpentingan. Sementara, yang penting-penting terlupa dan dilupakan. Betapa memulai dari yang kecil, yang mampu, yang rutin dan saat ini juga tiada tunda masih berat bagi jiwa yang kerdil. Ampuni aku yaa Rabb!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-1958965141312746780?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/1958965141312746780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=1958965141312746780&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/1958965141312746780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/1958965141312746780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/04/menetak-pokok-usia-img-src-perjalanan.html' title='Menetak Pokok'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-116982353483051051</id><published>2007-01-26T21:58:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T13:11:34.942+07:00</updated><title type='text'>Kembali Kanak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ8jbp-SFrzEEp44wcQ6WS3FXmwiGnhcdXe-jKX3hezxU_1w3n-"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 141px; height: 141px;" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ8jbp-SFrzEEp44wcQ6WS3FXmwiGnhcdXe-jKX3hezxU_1w3n-" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Secara usia saya belum tua. Tapi secara ingatan, saya sudah tua. Saya sudah lupa bagaimana perasaan saya waktu masih kanak. Sungguh saya lupa dengan perasaan yang menyelimuti hati kanak saya. Kedewasaan atau ketuaan telah menggerus memori saya tentang kanak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal saya sangat membutuhkannya. Mengapa? Dalam pikiran saya, tentu akan lebih mudah memahami anak saya atau kanak lainnya bila saya mampu menghadirkan perasaan kanak saya di hati dewasa saya. Tentu saya tak akan sulit mengajak mereka berjalan di atas rumput tanpa sepatu, merasakan geli tusukan ujung rumput di telapak kaki. Merasai lembut dan sejuknya butir embun mengelus kulit jemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengumbar tawa lepas apa adanya. Tanpa ada yang tertahan dan ditahan. Tanpa didahului pikiran dan kekhawatiran. Tertawa ya karena tertawa. Seperti juga menangis karena menangis. Tak terikat waktu dan terbelenggu rasa, sehingga dalam sekejap  beralih rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang berhasil bergaul karib dengan kanak, pasti karena tak pernah melupakan kanaknya. Sebab kanak, sejatinya hanya karib dengan kanak. Tidak dengan dewasa. Kedewasaan hanya pada wadag. Tapi hati, rasa dan sinar mata tetaplah pijar kanak yang tak henti meletup-letup. Ketika kanak terlupa dan terganti dewasa, seketika sekat terbangun antara kita dengan kanak. Sebab kita tak sepenuhnya kanak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu saya sedang berusaha keras mengingat kembali kanak saya. Menghadirkannya dalam hati saya yang merasa dewasa dan mencoba mengurungnya kuat-kuat di sana. Kalau tidak, saya tak pernah bisa kanak dengan anak-anak. Sungguh risau hati saya. Bagaimana? Kalian tak ingin kanak juga???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-116982353483051051?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/116982353483051051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=116982353483051051&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116982353483051051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116982353483051051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/01/ingin-kanak-secara-usia-saya-belum-tua.html' title='Kembali Kanak'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-116955447496304388</id><published>2007-01-23T18:11:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T13:13:52.332+07:00</updated><title type='text'>Ada Ide?.....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQkW5oyiZe9ApOhvCb-O2tsX-PkxpFUuFfjHJLeVZor_7Jf1nnb"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 144px; height: 122px;" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQkW5oyiZe9ApOhvCb-O2tsX-PkxpFUuFfjHJLeVZor_7Jf1nnb" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa hari ini Ummi "mumet". Semua bermula dari pertanyaan Najla. Najla yang sejatinya baru genap lima tahun akhir januari ini, mengajukan pertanyaan tentang reproduksi. Tanyanya mulai bersemi ketika ia diajak masuk ke ruang dokter kandungan saat Ummi periksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat matanya tak habis-habis melihat monitor yang menayangkan citra dua dimensi calon adiknya yang telah dia beri nama Ali bila laki-laki dan Safka bila perempuan. Sambil sesekali ia melihat ke arah alat pemindai yang digerak-gerakkan oleh dokter di atas perut Ummi. Entah tanya apa yang bertunas di balik batok kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam ia bertanya tentang bagaimana cara adik bayinya keluar. Tak ingin berbohong dan menanam benih ketidakjujuran, ummi menjawab dengan semestinya memakai istilah intern yang biasa kami gunakan. Tampaknya ia puas dengan jawaban itu. Tapi tunggu dulu... Kini ia bertanya tentang mengapa adiknya besarnya masih segitu. Sudah punya telinga belum? Sudah punya mata atau belum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ingin terjebak pada penjelasan ilustratif yang membingungkan, Ummi mengajaknya membuka-buka buku tentang penciptaan manusia. Dalam buku itu, tampak jelas poto perkembangan janin dari bulan ke bulan. Cerita sementara berhenti sampai di sini. Larut malam dan kantuk sementara memupus hasrat tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam lain, ia bertanya tentang sel telur dan sperma. Pertanyaan ini rupanya dipicu oleh jawaban Umminya pada malam sebelumnya tentang awal proses terjadinya janin. Di mana Ummi bercerita tentang sel telur yang tidak mirip telur ayam, karena tanpa cangkang, sehingga tidak keluar dan dierami. Tapi tetap berada di dalam perut ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperjelas jawaban, Ummi mengajak membuka buku. Buku cerita bergambar tentanh kisah reproduksi manusia untuk anak balita. Tiba di halaman sekian, terpampanglah gambar bulat sel telur sebesar bola tenis yang sedang didekati oleh kecebong sperma. Entah dari mana mulanya tiba-tiba ia bertanya? Bagaimana caranya sperma bertemu dengan sel telur? Tweweweng...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi pun tiba-tiba pusing tujuh keliling, meski sempat mengeluarkan jurus terakhir jawabannya, bahwa suatu ketika kamu akan tahu mungkin dari melihat binatang. Meski begitu, tampak jelas rona tidak cukup puas pias di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayooo... anda punya ide? Bagi dooonk....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-116955447496304388?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/116955447496304388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=116955447496304388&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116955447496304388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116955447496304388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/01/ada-ide.html' title='Ada Ide?.....'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-116895603600203957</id><published>2007-01-16T20:16:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T13:16:11.999+07:00</updated><title type='text'>Bahagia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSvIRJI5_bgd93XjaodC9VkqlqLRMRa7poW87YhnIeIihtn2iv2"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 227px; height: 151px;" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSvIRJI5_bgd93XjaodC9VkqlqLRMRa7poW87YhnIeIihtn2iv2" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bahagia, bukan senang apalagi suka. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana hati dan pikiran yang riang. Bahagia yang menumbuhkan. Seperti tetes hujan yang membangunkan kecambah dari tidur panjangnya dalam tempurung biji. Ya, bahagia itulah yang sempat hilang dari raut mungilnya. Sorot mata bening, menyidik tajam namun terkadang sekilat terkejap pandang usil, berganti dengan tatap sayu penuh lelah dan beban amarah yang tak mengerti, mau dilontar kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari adalah amarah tertahan yang sewaktu-waktu menggoncang seperti gempa. Lalu semua menjadi serba salah. Lalu semua berjelaga gundah. Serba tergesa, bercerai dari sabar yang enggan melembah. Hati trenyuh, terbentur pada banyak tanya dengan keserbamungkinan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diputus siklusnya. Musti kembali ke kondisi semula. Kembali menemukan irama yang lama sayupnya menghilang. Ayo, tabuh pelan-pelan. Ingat repetisi, ingat harmoni. Tak perlu gesa, perlahan saja. Biar langkah kaki kembali terbiasa pada dansa lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh kerjap binarnya, mengilat di mata. Senyumnya renyah mengunyah suasana. Ayo, semangat tabuh gendang. Biar permainan cepat fasih tereja. Gadis kecilku, jangan redup bahagia oleh lagu yang tak ramah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-116895603600203957?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/116895603600203957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=116895603600203957&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116895603600203957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116895603600203957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2007/01/bahagia-bahagia-bukan-senang-apalagi.html' title='Bahagia'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-116668100901974940</id><published>2006-12-21T12:08:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T13:22:27.854+07:00</updated><title type='text'>Titik Titik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQs4UmbyD655ypDXl8pvGLlch_H1UCus33Dzvk6PfMeRFYtyzx4HA"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 183px; height: 122px;" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQs4UmbyD655ypDXl8pvGLlch_H1UCus33Dzvk6PfMeRFYtyzx4HA" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jemari mungilnya bergerak perlahan mengikuti alur garis samar-samar terputus-putus melingkar-lingkar menuju sebuah titik di tengah. Selesai, lalu ditariknya garis lain. Sama, samar, putus-putus dan melingkar-lingkar sebelum akhirnya berhenti di titik yang sama. Rupanya semua garis bernasib sama, melingkar-lingkar tak tentu arah, tapi berpangkal di tengah. Di pusat, yang bertanda sebuah noktah putih tak lebih besar dari tetesan embun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, gambar itu begitu saja di tinggalnya pergi. Saya mengamatinya lebih dekat. Menelitinya lama-lama. Sepintas seperti benang kusut. Melingkar-lingkar, tumpang tindih, tak beraturan. Tapi, makin disimak, makin menarik. Menelusuri jejalur garis, menuju pangkalnya. Sebuah noktah putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak puas, tangan saya memungutnya. Agar bisa memandanginya lebih jelas. Perlahan sebuah pikiran menelusup di antara lapisan otak yang mulai mengabu. Seperti sebuah garis, langkah kaki setiap hari berjalan melingkar-lingkar. Kerap samar, putus-putus, tak beraturan, silang sengkarut, tumpang tindih, tiada beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah, pangkal titik kembali tertemui setelah sekian jauh kaki melangkah menghabiskan hari-hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-116668100901974940?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/116668100901974940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=116668100901974940&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116668100901974940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116668100901974940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/12/titik-jemari-mungilnya-bergerak.html' title='Titik Titik'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-116591948241483470</id><published>2006-12-12T15:07:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T13:25:28.149+07:00</updated><title type='text'>Ketika</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQAF9bQ8HklxNTPkf4sg404HXtMTykhHmBN7j8Lf8Tapvp21cQS"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 150px; height: 147px;" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQAF9bQ8HklxNTPkf4sg404HXtMTykhHmBN7j8Lf8Tapvp21cQS" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saat masih tersisa keping rupiah terakhir di kantong Anda. Atau angka dengan berderet nol terakhir di layar atm milik Anda. Semuanya sudah Anda rencanakan untuk membelanjai hidup anda beberapa hari ke depan. Sebelum rekening atau saku anda terisi kembali oleh pembagian gaji dari majikan di awal bulan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tepat pada saat itu datang seseorang - entah teman, kawan, saudara, atau siapa saja yang digerakkan dari lapisan langit tertinggi - menemui Anda. Membagi persoalannya, mencari solusi bagi jalan buntu masalahnya. Solusi itu adalah kebutuhan akan sejumlah uang. Dan isi saku atau rekening Anda - yang sudah Anda rencanakan untuk belanja beberapa hari ke depan tadi - sangat mungkin membantu memberi solusi baginya; sepertiga, separuh atau seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurut Anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-116591948241483470?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/116591948241483470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=116591948241483470&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116591948241483470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116591948241483470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/12/saat-saat-masih-tersisa-keping-rupiah.html' title='Ketika'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-116530104571541457</id><published>2006-12-05T13:07:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T13:27:29.908+07:00</updated><title type='text'>Iya, Kalau......</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTj7ypMVgCNDLjQenPezdmZjwf5kjfXmx5BFj87MVKAwfZCqrlt-8FfqRjHfQ"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 185px; height: 138px;" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTj7ypMVgCNDLjQenPezdmZjwf5kjfXmx5BFj87MVKAwfZCqrlt-8FfqRjHfQ" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Saya angsurkan selembar uang yang saya perhitungkan cukup untuk membeli onderdil sepeda yang diperlukan. Tangan keriputnya yang terbalut kulit coklat, takzim menerima. Lalu ia tunduk, sibuk membenahi tas peralatannya yang kumal oleh debu dan oli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak musti sekarang Kek! Kalau Kakek mau keliling-keliling dulu, gak apa-apa. Nanti kalau sudah keliling, baru beli onderdilnya." Kata saya memberi pilihan. Saya khawatir order pekerjaan dari saya ini, merintanginya mendapat order pekerjaan servis sepeda dari pelanggan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak Pak! Siapa tahu umur Pak! Apalagi saya sudah tua." Jawabnya tegas. Sejenak kemudian ia permisi pergi sembari menggenjot sepeda mini tua yang ban depan dan belakangnya beda warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, siapa yang tahu soal panjang pendeknya umur. Dan kematian adalah niscaya, bisa menjemput kapan saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-116530104571541457?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/116530104571541457/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=116530104571541457&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116530104571541457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116530104571541457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/12/iya-kalau.html' title='Iya, Kalau......'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-116410975984878788</id><published>2006-11-21T17:24:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T13:30:37.566+07:00</updated><title type='text'>Pengamen</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.mhevita.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RiRRuwoKCoMAACXBJRU1/anak%20jalanan2.jpg?et=xiqbMyllv%2CIRNArvPzvuUw"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 119px; height: 183px;" src="http://images.mhevita.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RiRRuwoKCoMAACXBJRU1/anak%20jalanan2.jpg?et=xiqbMyllv%2CIRNArvPzvuUw" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya merasanya sudah masuk kategori susah. Padahal sangat mungkin masalahnya karena saya kurang panjang akal dan tak banyak persediaan sabar. Jadi, tingkahnya saat pagi sehabis bangun tidur yang selalu menghindar bila disuruh mandi dan kerap kali berkata kenyang walaupun baru satu dua menyuap makanan, saya pandang sudah menyusahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis ia mandi, sembari membedaki dan membantunya memakai pakaian, saya berkisah tentang pengamen cilik yang sering terlihat di perempatan. Dalam bahasa yang terjangkau oleh nalarnya saya mencoba menjelaskan, mengapa anak-anak yang sebaya dengannya itu mengamen. Apa yang mereka tidak miliki dan betapa sulit usaha mereka untuk mengecap beberapa hal yang bagi dia tak ada sulitnya. Karena tersedia di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa, kisah saya agak ketinggian bagi dia. Tapi saya berharap, ada sekerat dua kerat pelajaran bisa ia tangkap dari kisah itu. Siangnya ia mengirim sms ke hp saya. Begini bunyinya;  &lt;em&gt;tadi pas najla berangkat ke sekolah najla ketemu pengamen se gede najla&lt;/em&gt;. Dikirim 20 Nov 2006. 13:28:51&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-116410975984878788?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/116410975984878788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=116410975984878788&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116410975984878788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116410975984878788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/11/pengamen-saya-merasanya-sudah-masuk.html' title='Pengamen'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-116365768256618700</id><published>2006-11-16T12:20:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:38:59.257+07:00</updated><title type='text'>Jendela</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/16/66/49/16664913/42-16664913.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, dalam perjalanan ke kantor, tiga kali saya temui insiden. Pertama di kelokan memanjang muka Pusdiklat Depdiknas Cinangka Depok. Sebuah sepeda motor rusak berat teronggok di pinggir jalan. Dikerumuni oleh polisi dan orang-orang. Sementara sebuah angkot coba ditarik oleh sebuah mobil. Dugaan saya sepeda motor dan angkot tersebut telah bertabrakan. Bagaimana kondisi korbannya, saya tak sempat mencari tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama, di depan pool Bus Kramat Jati mendekati perempatan Gaplek ada insiden ke dua. Entah bagaimana mulanya dan peristiwa apa yang telah terjadi, seseorang berompi dengan seragam Linmas menyuruh supir Kijang menepi. Mungkin terjadi senggolan atau kejadian yang tak menyenangkan sehingga sebuah motor sampai perlu dipalangkan menghalangi jalan si Kijang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki belantara Jakarta di Radio Dalam saya ketemu insiden ketiga. Sama juga, antara sepeda motor dan mobil. Apa sebabnya dan bagaimana akhirnya saya tak tahu. Sekejap harap menguap, mudah-mudahan perselisihan tak berujung pada baku pukul dan terjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat sebuah artikel yang terbaca di koran. Kata si penulis, tekanan keadaan ekonomi saat ini berpotensi memendekkan syaraf emosi masyarakat kita. Pencarian penghidupan yang dirasa makin berat membuat sebagian orang mudah tersulut emosinya. Tekanan tensinya selalu di atas rata-rata. Sehingga oleh sebab insiden kecil yang boleh jadi akibat ketidaksengajaan belaka, bisa berujung pada petaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata maaf menjadi mahal. Tenggang rasa makin melayang di awang-awang. Dalam sebuah artikel lain, saya pernah membaca. Salah satu kecerdasan yang sebaiknya dimiliki oleh kita adalah kemampuan menghadirkan segenap hati dan pikiran kita pada situasi dan waktu saat itu juga. Misalnya, ketika kita berkendaraan pikiran dan hati kita tidak melaju lebih dulu ke kantor. Sehingga kewaspadaan dan kehati-hatian berkurang. Begitu juga, semisalnya, saat pulang ke rumah kendaraan terjebak kemacetan parah, bagimana perasaan dan pikiran kita tidak tertawan oleh insiden yang tidak mengenakkan saat &lt;em&gt;meeting&lt;/em&gt; di kantor. Sehingga kita merutuki kemacetan bak Kanten Haddock dalam serial Tintin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemacetan tetaplah kemacetan. Dengan merutukinya tak serta merta beralih menjadi kelancaran. Dalam kondisi demikian, saya jadi teringat kredo Orang Jawa.Tentang konsep celaka dan untung. Ketika sebuah insiden yang menggores pilu menimpa, sebagian Orang Jawa memandangnya dari sudut berbeda. Masih untung sepedanya yang rusak, orangnya gak apa-apa. Atau di kali lain, masih untung gegar otak. Jadi gegar otak pun masih dipandang sebagai keberuntungan dibandingkan misalnya bila cacat atau almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu muara dari hal di atas adalah penghikmatan akan rasa syukur. Bagaimana menggalinya untuk tiba pada dasar sumurnya, rasanya kita perlu segera membikin banyak jendela. Dalam kalbu kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-116365768256618700?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/116365768256618700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=116365768256618700&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116365768256618700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116365768256618700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/11/jendela-pagi-ini-dalam-perjalanan-ke.html' title='Jendela'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-116125540906986730</id><published>2006-10-19T17:08:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:39:54.302+07:00</updated><title type='text'>Nan</title><content type='html'>&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/17/42/29/17422966/42-17422966.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu siang, selepas dzuhur berita itu datang. Lewat pesan singkat di hape ummi. Ia kecelakaan dan kini terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Sebuah tanya menyeruak di kepala kami berdua. Seberapa parahkah kondisinya. Sebaris sms terkirim sarat tanda tanya kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gemuruh rasa, kami bertanya-tanya tanpa suara. Sesekali pertukaran pikiran membahas kemungkinan-kemungkinan. Lalu jawaban itu datang. Kami tercenung. Mencoba mengulukkan doa melalui wasilahNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas Ashar, dering sms mengoyak jejaring tanya yang telah laba-laba. Ia kembali ke haribaan Nya. Innalillaahi wa inna ilaihi roji'un. Batin kami tertunduk, lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tiap kejadian termaktub hikmah bagi penggali penghikmatan. Dalam usia muda, genap dua puluh tahun baru dua bulan ditapakinya ia meninggalkan fana. Menuju baqa'. Wajah bayi, tubuh jangkung agak melengkung dan... ya! Ya... senyum yang tak pernah terenggut dari wajahnya. Emosi yang rapi tertanam dalam-dalam, tak pernah mendapat tempat untuk mencuat. Empati yang diam namun mengalir pasti seperti angin menghembus lekang kemarau panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia berbaring tenang. Dalam dekapan bumi, yang lahatnya tergali terlalu dalam sebab tanah yang gembur membuat alpa penggali kubur mengukur kedalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan Nan! Doakan kami selamat mengikuti titian jalan cahayamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;untuk nanan dalam keabadian yang terindukan, diam-diam &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-116125540906986730?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/116125540906986730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=116125540906986730&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116125540906986730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/116125540906986730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/10/nan-sabtu-siang-selepas-dzuhur-berita.html' title='Nan'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-115434318530184140</id><published>2006-07-31T17:37:00.002+07:00</published><updated>2011-03-24T23:41:51.953+07:00</updated><title type='text'>Uban</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/943/233/1600/indah%20dan%20hengki%20153.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/943/233/320/indah%20dan%20hengki%20153.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak cenderung punya daur perhatian yang tinggi. Orang dewasa bilang cepat bosan. Padahal komentar ini mungkin bisa dipandang begini. Anak-anak punya perhatian yang tinggi terhadap berbagai hal yang ada di sekitarnya. Ujungnya, mereka cepat beralih perhatian dari satu hal ke hal lain, secepat berputarnya bola mata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kira-kira dengan Najla. Saat menghadiri undangan pernikahan seorang kawan, ia mulai bosan. Hal-hal yang menarik perhatiannya sudah tak ada lagi. Ditambah kantuk yang mulai menghinggapi matanya, membuat ia mulai mencari perhatian dari saya. Kalau sudah begini, saya musti memutar otak mencari akal agar rasa bosannya memudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto di atas menggambarkan upaya itu. Bagaimana hasilnya? Belum sempurna. Belum berhasil sepenuhnya. Artinya, saya musti banyak belajar lagi. Meskipun uban di kepala sudah mulai tak malu lagi menampakkan diri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-115434318530184140?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/115434318530184140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=115434318530184140&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/115434318530184140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/115434318530184140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/07/uban-anak-anak-cenderung-punya-daur.html' title='Uban'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-115409836704092244</id><published>2006-07-28T21:30:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:42:24.547+07:00</updated><title type='text'>Mata</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/943/233/1600/indah%20dan%20hengki%20113.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/943/233/320/indah%20dan%20hengki%20113.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanyalah yang memberi inspirasi pada saya menghibahinya nama &lt;strong&gt;NAJLA&lt;/strong&gt;. Besok dia genap empat setengah tahun. Sudah dua minggu ini sekolah di TK B Sekolah Alam Depok. Tapi dua hari ini ia tidak masuk. Flu dan batuk menyanderanya di rumah. Sementara waktu, umminya tak membolehkannya menaiki sepeda roda duanya. Padahal ia sedang senang-senangnya bersepeda roda dua. Maklum baru seminggu ini ia berhasil mengendarai sepeda tanpa dua roda bantu di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang bermain sendiri. Begitu lapor gurunya. Hari senin lalu ia tak ikut tutup kelas waktu akan pulang. Ia sibuk mengejar angsa! Tulis ibu gurunya di buku penghubung. Selasanya di buku itu tertulis. Najla disengat lebah, tapi ia tidak menangis. Hanya refleks sebuah erangan yang keluar dari mulutnya. Sejenak setelah disengat lebah, ia meminta selembar kertas pada gurunya. Gurunya kontan bingung, tapi tak urung gurunya memberi kertas daur pakai padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa? Begitu tanya gurunya. Aku mau menggambar lebah yang menyengatku. Waktu siang saya menjemputnya, ditunjukkannya lembar kertas bergambar lebah mungil pas di tengah-tengah. Dan sebuah tulisan berhuruf kapital khas goresannya. &lt;em&gt;LEBAH YANG MENYENGAT NAJLA&lt;/em&gt;. Tak lupa ia tunjukkan pula bagian tangannya yang disengat lebah pada saya. Aku gak nangis Bhi! Anak hebat, ujar saya menyemangatinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-115409836704092244?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/115409836704092244/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=115409836704092244&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/115409836704092244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/115409836704092244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/07/mata-matanyalah-yang-memberi-inspirasi.html' title='Mata'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-114913912228679418</id><published>2006-06-01T09:33:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:43:12.425+07:00</updated><title type='text'>Berjalan ke Timur</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/16/05/75/16057533/42-16057533.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari baru saja lingsir dari puncak galah. Jarum jam menunjuk angka satu lewat. Aku keluar mencari becak. Hingga ke pangkalan ujung tak tampak satu pun. Sementara Najla berlari-lari menyusulku. Dalam gerah yang mulai membulir keringat, kulihat sebuah becak melintas di samping masjid. Penumpangnya turun, lalu membayar. Segera mulutku berteriak memanggil. Sebab kulihat abang becak itu sudah mengangkat roda buritan hendak balik arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak bergegas kami meninggalkan rumah. Takut terlambat tiba di stasiun. Aku mengangkat travel bag ke atas becak. Sementara sebuah &lt;em&gt;daypack&lt;/em&gt; dicangklong Ummi. Begitu juga dengan tas kecil tempat perbekalan makan Najla. Setelah menitipkan kunci ke tetangga depan dan pamitan, becakpun dikayuh perlahan. Ada perasaan asing berdesir dalam perasaanku. Meninggalkan rumah yang tiap hari aku huni, untuk pergi ke timur. Wajah Najla berpias sumringah, menatap pengalaman baru yang selalu mendebarkan buat balita seumurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di muka gerbang komplek kami turun, lalu oper naik angkot. Aku khawatir jalanan macet. Syukurlah semua lancar hingga terminal. Sopir angkot menurunkan kami di sisi stasiun. Sebelumnya ia bertanya, sebelum atau sesudah pintu kereta turunnya. Kujawab sebelum, karena aku mau ke stasiun. Dengan cekatan ia arahkan angkot masuk ke sela antrian kemacetan. Kami diturunkannya di pinggir jalan. Tak jauh dari jalan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membeli karcis, kami masuk peron. Menunggu kereta dari Bogor datang. Cukup lama, mungkin karena siang saat jadual kereta renggang. Di mukaku duduk lesehan pedagang rokok lintingan. Di depannya ia gelar dagangan. Ada tembakau, papir kertas rokok, kotak rokok, alat pelinting rokok dan rokok bermerk tiga angka terbungkus plastik. Ini yang menarik. Ia sendiri menunggui dagangan sembari melinting rokok dengan alat linting manual digerakkan tangan. Tembakau ditaruh diatas kain, lalu tangan menarik tuas penggerak separuh jalan. Ia ambil selembar papir, beri lem stick di satu sisinya. Lalu diletakkan di kain pelinting. Kemudian lanjutkan tarik tuas pelintingnya. Rokok pun jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain merk tadi ada juga merk rokok dari kota Kudus. Sebuah peniruan? Memang begitu adanya. Apakah ini penipuan? Belum tentu, sebab pembeli juga tahu dan sadar kalau itu bukan produk asli. Tak lama kemudian kereta datang, kami bertiga naik. Tak penuh, tapi semua kursi terisi. Seorang pemuda memberi kursi kepada ummi. Aku berdiri. Seperti biasa pedagang asongan lalu lalang. Mulai dari jualan minuman ringan, buah, jepit rambut, buku sampai ikat pinggang. Kereta memang mirip pasar berjalan. Selain itu rombongan pengamen silih berganti meramaikan bising kereta. Sesekali peminta-minta menadahkan tangan mengharap belas kasihan. Kereta memang potret asli negeri ini. Potret yang tak sepenuhnya resmi diakui penguasa negeri, tapi ada dan nyata. Mungkin mereka-mereka yang begini harus naik kereka setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas Stasiun Manggarai kereta mulai kosong. Aku duduk. Tak lama berhenti kereta melaju lagi. Mesin menderu keras, tanda bekerja maksimal. Maklum selepas emplasemen stasiun, jalur menanjak menuju jalan layang. Kalau lewat sini aku sering teringat masa lalu. Biasanya setelah sebelumnya janjian dengan masinis, kami bersiap-siap di tempat ini. Saat kereta Argo lewat dengan perlahan kami memanjat naik lokomotif. Yang aku sebuat dengan &lt;em&gt;kami&lt;/em&gt;, adalah beberapa orang yang belum kenal dan baru bertemu di stasiun dan ingin naik kereta Argo di lokomotifnya. Sambil guyon kami menyebut diri kami penumpang Argoloko. Ini cerita lalu yang kini jadi kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhenti di beberapa stasiun, kereta tiba di Jakarta Kota ketika senja hampir tua. Kereta Sembrani yang akan kunaiki belum masuk. Masih ada waktu dua jam senggang. Aku mengajak Najla berjalan melihat-lihat stasiun. Entah berapa tahun aku tidak kesini. Aku lihat stasiun makin kotor dan kumuh. Dulu aku suka sekali berdiri di ruang tunggunya. Di bawah atap lengkungnya yang tinggi menjulang disangga kolom-kolom besi yang meruncing di dasarnya. Mengingatkanku pada kemegahan rumah ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu dulu. Aku sempatkan berjalan ke depan. Rupanya sekarang pintu utama ditutup. Hanya yang samping yang dibuka. Kondisi yang sudah semrawut makin semrawut. Untuk jalan saja susah. Harus ekstra hati-hati kalau tidak mau di serempet bajaj atau mikrolet. Semua berubah, dan bangunan tua juga berubah. Berubah makin kumuh dan renta. Mungkin benar kata orang. Bangsa ini bernafsu besar membangun. Tapi kesadaran memelihara masih minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satelah memutar aku masuk kembali. Duduk menanti kereta tiba. Aku ingat belum membeli air mineral. Aku beli sebotol besar, aku sempat lupa meminta sedotan untuk Najla. Aku kembali untuk minta sedotan. Aku lihat ada sedotan warna-warni, ada tanya di kepalaku. Penjualnya mengambil satu dan aku terima. Sampai di tempat duduk ku teliti sedotan itu. Warna putihnya sudah kusam dan di dalam tabungnya seperti ada butir debu menempel. Curiga menyerbu kepala. Sudah aku buang saja sedotan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit sudah gelap. Maghrib sudah lewat. Keretaku datang. Travel bag aku sampirkan di pundak, lumayan berat. Gerbong empat nomor tujuh a, b dan delapan c tempat duduk kami. Ummi naik diikuti Najla, kemudian aku. AC nya lumayan dingin. Sayang sandaran kaki tempatku duduk rusak. Sudah tak bisa digerakkan lagi. Bakal menggantung kakiku kalao kursi kurebahkan. Terpaksa aku duduk rebah dalam posisi diagonal. Agar kaki bisa menyandar di sela kursi depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas 18.30 kereta berjalan. Lampu-lampu berkejaran di jendela buram. Bising kereta mengalahkan suara televisi yang menayangkan iklan. Di Gambir kereta berhenti menaikkan penumpang, lalu bergerak lagi. Selepas Jakarta kereta berjalan dengan kecepatan penuh. Sudah jam tujuh, tapi makan malam belum juga dihidangkan. Tak lama petugas restorka datang membagi-bagikan sepiring nasi goreng. Aku sempat bingung, kukira ini jatah makan malam yang ku nanti. Ummi mengingatkan kalau bukan. Piring nasi goreng yang kupegang gamang, kukembalikan. Orang berdagang kok memanipulasi situasi dan ketidaktahuan orang, rutukku. Ah sudahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sekitar jam sembilan jatah makan itu datang. Kok terlambat? Mungkin untuk memberi waktu pada &lt;em&gt;desert&lt;/em&gt; nasi goreng! Lagi-lagi sebagian wajah negeri ini terpotret di sini. Setelah makan, perut kenyang rasa kantuk pun datang. Satu persatu penumpang duduk dangan mata terpejam. Aku pun tak mau kalah, mengatur posisi siap menyongsong mimpi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-114913912228679418?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/114913912228679418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=114913912228679418&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114913912228679418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114913912228679418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/06/berjalan-ke-timur-1-matahari-baru-saja.html' title='Berjalan ke Timur'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-114733860179460327</id><published>2006-05-11T16:06:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:43:43.656+07:00</updated><title type='text'>Cari</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apapun yang aku cari, bayangan sendiri yang kutemui&lt;br /&gt;Ketika aku mencari diri sendiri, bukan diriku yang kudapati&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-114733860179460327?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/114733860179460327/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=114733860179460327&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114733860179460327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114733860179460327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/05/cari-apapun-yang-aku-cari-bayangan.html' title='Cari'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-114597030476422823</id><published>2006-04-25T19:19:00.002+07:00</published><updated>2011-03-24T23:44:29.390+07:00</updated><title type='text'>Tendang</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/16/07/21/16072151/42-16072151.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana seorang anak mengekspresikan dirinya pada temannya? Jawabnya bisa bermacam-macam. Satu yang saya temui beberapa waktu lalu, cukup membikin agak kaget. Seorang anak laki-laki usia enam tahunan gemar sekali mengayun kaki dan tangan. Menendang dan memukul ke arah temannya. Tidak sampai kena sih, dan ia melakukan itu bukan karena ia sedang menumpahkan amarah atau rasa kesalnya. Menurut pengamatan saya, ia melakukan itu dalam konteks bersenda gurau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringanan kaki dan tangan tersebut, bentuk ekspresi dia ke teman-temannya saat bercanda. Saat berkumpul, anak-anak memang senang sekali saling bergurau dengan berbagai aksi. Tapi ketika itu berbentuk pukulan dan tendangan, hal ini tentu butuh perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat mungkin anak lelaki tersebut kerap menonton film kartun yang menyajikan adegan perkelahian yang dibumbui ayunan kaki dan tangan. Dan ia terobsesi dengan hal itu, kemudian menirunya serta mempraktekkannya dalam pergaulan dengan teman-temannya. Sulitnya, bila hal ini telah dia anggap lumrah dan menjadi bentuk dominan ekpresi dia dalam bergurau. Layaknya anak-anak, mereka tentu belum berpikir bahwa apa yang mereka lakukan berpotensi menyakiti bahkan melukai temannya. Karena semua masih didasari oleh dorongan untuk berekspresi semata. Belum tiba pada pikiran bagaimana akibatnya pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu bagaimana ekspresi anak tersebut saat marah. Ringan tangan dan kakikah? Sangat boleh jadi ya, bila ia telah terbiasa berekspresi ke orang lain, meski dalam konteks bercanda, dengan cara seperti itu. Sangat mungkin ia berlaku demikian kala diliputi rasa kesal. Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan, sebab sejak dini anak telah terbiasa mengekspresikan emosinya dalam bentuk kekerasan. Sementara kekerasan, seperti yang kita tahu hanya akan berbuah kekerasan pula. Terus akan melingkar-lingkar tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya berpikir, film kartun Walt Disney meski sekedar animasi semata apakah layak menayangkan gambar &lt;em&gt;Jerry&lt;/em&gt; si tikus kecil mencelakai &lt;em&gt;Tom&lt;/em&gt; si kucing hingga ter&lt;em&gt;kaing-kaing&lt;/em&gt;... hmm... maksud saya ter&lt;em&gt;meong-meong&lt;/em&gt; kesakitan. Demikian pula sebaliknya. Terutama ketika saya menemani Najla, menonton tayangan seperti ini. Meski mata saya menatapi layar kaca, pikiran saya tersita oleh pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patutkah kita menertawai &lt;em&gt;penderitaan&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Tom&lt;/em&gt; akibat oleh ulah &lt;em&gt;Jerry&lt;/em&gt;. Atau kesialan &lt;em&gt;Donal Bebek&lt;/em&gt; akibat kelakuan tetangganya &lt;em&gt;Pokijan&lt;/em&gt;? Sekali lagi saya khawatir, cerita-cerita seperti ini turut andil mengikis bukit empati dari hati anak-anak kita. Sehingga ketika besar, ia menjadi pribadi yang tak mudah menenggang sekelilingnya. Tidak cuma sesama manusia, tapi juga semut, rumput bahkan batu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-114597030476422823?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/114597030476422823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=114597030476422823&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114597030476422823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114597030476422823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/04/tendang-bagaimana-seorang-anak.html' title='Tendang'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-114484774426041604</id><published>2006-04-12T19:31:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:45:00.924+07:00</updated><title type='text'>Tanya Ken.... apa?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/24/34/15243430/42-15243430.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mengapa Tuhan gak keliatan?&lt;br /&gt;Mengapa ada orang yang beragama Islam, Kristen, Hindu dan Budha?&lt;br /&gt;Ikan itu agamanya apa?...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kira-kira jawaban anda bila sekonyong-konyong ditodong salah satu pertanyaan di atas oleh kanak-kanak usia empat atau lima tahun. Ya... sekonyong-konyong karena anda tak pernah sedikitpun menyangka, anak kecil yang lucu, menggemaskan dan kadang-kadang agak &lt;em&gt;menjengkelkan&lt;/em&gt; karena tingkahnya yang selalu ingin mencuri perhatian anda, tiba-tiba mengajukan pertanyaan berat seperti di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri, bila didudukkan dalam posisi seperti itu tak bisa membayangkan, kata-kata apa yang akan saya lontarkan sebagai penjelasan. Sangat mungkin, saya mengikuti naluri kreatifitas pikiran saya kemudian mengemasnya dalam kata-kata. Sambil terbata-bata menyusun runtutan pikiran yang kira-kira terjangkau kemurnian logika kanak-kanak. Ini pekerjaan yang tak mudah saya kira. Syukurlah, saya belum tertodong pertanyaan seberat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deretan tanya tadi saya pungut dari pengalaman seorang kawan dan dari cerita yang dialami &lt;a href="http://binarsunyi.blogspot.com/"&gt;ummi&lt;/a&gt; &lt;a href="http://najlahanisa.multiply.com/"&gt; anak&lt;/a&gt; saya. Yang bertanya adalah anak kawan saya dan salah satu murid &lt;a href="http://binarsunyi.blogspot.com/"&gt;istri&lt;/a&gt; saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita istri saya, awal perbincangannya dengan si kecil Brian - begitu nama si kecil pendiam namun matanya lincah berloncatan - cukup menarik. Ia mendekati ummi, lalu mengajukan beberapa pertanyaan sekedarnya. Naluri ummi menangkap siratan terpendam pada kilat matanya. Lalu diajaknya Brian kecil masuk ke ruang kelas dan disilahkannya ia bertanya bila ada yang ingin diketahuinya. Kemudian muncullah pertanyaan itu, terlontar begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanak-kanak memang memiliki kecerdasan falsafi yang tak tersangka-sangka. Kerapkali pertanyaan anak-anak yang terdengar sederhana, bila kita sempatkan untuk sejenak merenungkannya ternyata penuh kedalaman tafakkur yang hujam. Permasalahannya, cukup banyakkah orang dewasa dengan penuh kesabaran mendengarkan dan berbagi pemahaman dengan mereka. Bukan dalam posisi cerek yang menuangi gelas minuman, tapi sebagai teman bertualang menuai pemahaman pada jalan kura-kura pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya khawatir, belum banyak kanak-kanak yang berjalan beriring dengan orang dewasa yang demikian. Yang memahami keleletan berjalan anak-anak bukan sebagai waktu terbuang, tapi langkah besar menyauk pelajaran tertinggi dari sekitar. Yang memaklumi kecerewetan kanak-kanak bukan sebagai kenyinyiran, tapi sebagai fakir yang haus ilmu. Yang memafhumi, bahwa pada tiap jaga, kanak-kanak senantiasa mengasah pedangnya. Pedang untuk memerangi dirinya guna menuntunnya ke cahaya abagi. Bukan pedang yang akan membunuh dirinya dan menciderai orang-orang di sekitarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-114484774426041604?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/114484774426041604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=114484774426041604&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114484774426041604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114484774426041604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/04/tanya-ken.html' title='Tanya Ken.... apa?'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-114484362981449576</id><published>2006-04-12T18:11:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:45:30.952+07:00</updated><title type='text'>Takut</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/14/73/53/14735319/CB068386.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah mendekati dua minggu saya pindah ke gedung kantor yang baru. Kalau yang dulu mepet terminal dan dikepung pub dan bar - tetangga kiri, kanan dan depan, bar semua - yang sekarang agak beda. &lt;em&gt;Girli&lt;/em&gt;, pinggir kali atau kerennya &lt;em&gt;riverside&lt;/em&gt;. Hahaha... Benar-benar di pinggir kali, sebab berbatas sedikit tanah kosong yang bertebing curam, mengalir kali ciliwung yang kecoklatan. Tenang tanpa riak, hanya alunan gemulai air mengalir perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepohonan liar dan semak belukar yang merimbuni tebing curam, sedikit memberi pemandangan berbeda. Warna hijau yang menyejukkan mata. Kontras memang dengan air kali yang coklat kelam. Tapi setidaknya tidak hitam legam. Kalau sedang beruntung, di &lt;em&gt;hutan&lt;/em&gt; kecil itu kita bisa menemukan biawak &lt;em&gt;berkerosak&lt;/em&gt; lari ngumpet ke liangnya. Atau sepasang burung derkuku, yang rukun mencari makan berdua bak kisah dalam lagu dangdut bang oma. Konon ular kobra juga ada bersemayam di sana. Begitu setidaknya kisah yang empunya cerita yang pernah disambangi rajanya ular ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu air ciliwung banjir, pernah pula seekor anak buaya dengan nyaman bertengger di pokok kelapa. Awalnya saya dan teman-teman mengira, itu biawak yang sedang berjemur di panas matahari. Tapi setelah diamati dalam jarak agak dekat baru ketahuan kalau itu buaya. Ekornya yang bergerigi dan bangun tubuhnya yang khas, seolah berkata... &lt;em&gt;saya buaya lho...&lt;/em&gt; Beberapa kawan bergidik, bukan takut pada buaya kecil itu. Tapi pada bapak-ibunya, om dan tantenya atau mungkin kakek-neneknya. Siapa tahu, mereka sedang mengawasi anak/keponakan/cucunya sedang berlatih memanjat pohon kelapa. Setidaknya kisah sahibul hikayat bahwa di kali ciliwung ada buayanya, benar adanya. Meski yang saya dan kawan-kawan temui baru bocah buaya. Tapi siapa nyana lima atau enam tahun lagi? Tentu dia sudah jadi remaja atau pemuda buaya. Ngeri juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sedikit cerita tentang penghuni &lt;em&gt;hutan&lt;/em&gt; kecil di belakang kantor saya. Kisah lain - masih kata sahibul hikayat - konon gedung kantor saya juga ada &lt;em&gt;penghuni&lt;/em&gt;nya. Secara kondisi, gedung ini memang sempat lama kosong tak berpenghuni. Sementara ia juga terletak di kompleks bangunan yang didirikan sejak jaman penjajah belanda. Kenyataan seperti ini, sangat mungkin menggiring persangkaan orang pada adanya &lt;em&gt;penghuni&lt;/em&gt; lain ikut berdomisili. Masalahnya, bagaimana setiap pribadi menyikapi realita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang menjadikannya sebagai bahan guyonan, tanpa mengurangi keyakinan mereka tentang hal-hal tak kasat mata. Sebagian lain, menanggapinya dengan serius. Kerangka pikiran mereka melihat, fenomena ini harus disikapi dan diantisipasi. Layaknya menghadapi ancaman bahaya laten demo pekerja yang menuntut hak-hak konstitusionalnya. Lebih-lebih lagi, setelah beredar beberapa cerita &lt;em&gt;seram&lt;/em&gt;,- yang masih sangat perlu dikritisi otensitas dan sumber terjadinya - mereka yang masuk dalam golongan ini, makin serius dan waspada. Meski tak terlihat di permukaan, tapi gelagat dan hawa yang menyebar memberi tanda ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kisah itu pun berkulminasi pada inisiatif beberapa orang menghadirkan &lt;em&gt;orang pintar&lt;/em&gt;. Sampai di sini, masalahnya makin silang sengkarut. Seperti diketahui, rasa khawatir dan takut adalah kondisi yang mudah dimanipulasi untuk tujuan tertentu. Dalam bentuk apa buah kepentingan itu dipetik, tentu saja bisa bermacam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena semacam mungkin pernah pula anda alami. Setidaknya sesuatu yang bisa kita simak sebagai bahan renungan adalah, rasionalitas yang tinggi seperti yang tercermin dari tingkat pendidikan, jabatan atau strata sosial tak serta merta berbanding lurus dengan cara menyikapi hal-hal seperti ini. Kadangkala, kondisi seperti itu pada realitanya malah bertolak belakang. Layaknya batu, bagaimana pejalnya tetap ada rongga tersembunyi di dalamnya. Seberapa besar rongga yang kita punya, tergantung pada apa dan bagaimana cara kita menutupnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-114484362981449576?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/114484362981449576/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=114484362981449576&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114484362981449576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114484362981449576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/04/takut-sudah-mendekati-dua-minggu-saya.html' title='Takut'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-114352508607877912</id><published>2006-03-28T09:47:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:45:55.066+07:00</updated><title type='text'>Bullying</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/14/34/25/14342515/CSM107057.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil usia jelang empat tahun itu sejak tadi sudah merasa tak nyaman. Teman lelakinya yang berusia dua tahun lebih tua kerap mengganggunya. Pria kecil ini mungkin berpikir, gadis kecil ini 'sasaran empuk' untuk unjuk kuasa seperti yang biasa ia lakukan pada teman sekelas lainnya. Tapi kali ini ia salah mengira, sebuah teriakan protes diiringi sebuah &lt;em&gt;jab&lt;/em&gt; mendarat telak di dadanya. Sejenak pria kecil itu kaget dan setengah tak percaya akan reaksi gadis kecil itu. Tapi ia tak bisa berbuat lebih jauh, karena ibu guru menengahi perselisihan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu belum pernah diajari bertinju oleh ayahnya. Atau beladiri silat seperti yang pernah dipelajari ibunya dahulu saat remaja. Karena itu, saat tahu respon spontannya - kebetulan ibunya berada tak jauh dari situ - ibunya terkejut. Sang ibu merasa kurang nyaman, karena ia tak ingin kekerasan menjadi bagian tabiat dari putrinya. Pun itu sebuah pembelaan diri sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam hari hal ini diceritakan kepada ayahnya, si ayah masygul juga. Sembari memeluk si gadis kecil, si ayah bertanya &lt;em&gt;mengapa kamu memukulnya. Ia nakal&lt;/em&gt;, jawabnya pendek. Masih tersisa kesengitan di wajah mungilnya. Si pemilik wajah mungil itu adalah gadis kecil saya, &lt;a href="http://najlahanisa.multiply.com/"&gt;Najla&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bullying&lt;/em&gt;, begitulah istilah yang saya baru tahu setelah membaca &lt;a href="http://kompas.co.id/"&gt; Kompas&lt;/a&gt; edisi minggu 26 Maret 2006 lalu, untuk perlakuan yang diterima oleh Najla. Menurut situs &lt;a href="http://www.nobully.org.nz/advicek.htm#one"&gt;www.nobully.org.nz&lt;/a&gt; &lt;em&gt;bullying&lt;/em&gt; adalah jika seseorang melakukan perbuatan dan atau melontarkan perkataan untuk mengunjukkan kekuasaannya atas orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seseorang anak memanggil nama temannya secara menghinakan dan melecehkan, ini sudah termasuk &lt;em&gt;bullying&lt;/em&gt;. Berkata dan menulis sesuatu yang mengganggu tentang anak lain, mengucilkannya dari aktivitas kelompok, tidak mau berbicara dengan dia, menghalanginya melakukan sesuatu, membuat perasaannya tidak nyaman dan diliputi rasa takut, merebut dan merusak barang-barang miliknya, memukul dan menendangnya serta menyuruh dia melakukan perbuatan yang ia tidak ingin lakukan adalah bentuk-bentuk &lt;em&gt;bullying&lt;/em&gt; yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat, sewaktu kelas dua atau tiga esde pernah mem-&lt;em&gt;bullying&lt;/em&gt; dua orang kawan saya. Maksud hati bercanda, tapi saya sadar waktu itu saya sedang unjuk kuasa. Buku teman saya yang tubuhnya kecil lagi pendek (&lt;em&gt;bagaimana kabarmu Poet?&lt;/em&gt;) saya rebut lalu saya sembunyikan di rak yang tinggi di ruang gudang peralatan kesenian. Dengan menghiba ia minta bukunya dikembalikan. Seorang kawan lain yang tahu di mana buku itu saya sembunyikan, memberitahu. Saya kecil tak suka, saya jitak kepala si pengadu ini (&lt;em&gt;bagaimana kabarmu Par?&lt;/em&gt;) Sambil mengaduh mengelus kepalanya yang bercukur ala tamtama, ia meringis mengajukan protes. Saya merasa bersalah dan malu setelah menyadari perbuatan saya itu. Karena itu, kejadian ini sulit terhapus dari ingatan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa kita pernah mem-&lt;em&gt;bullying&lt;/em&gt; teman saat kecil dulu. Dalam berbagai bentuk dan intensitas dengan bermacam akibat yang diderita oleh kawan korban kita. Tindakan ini ternyata bisa berakibat mendalam bahkan fatal bagi anak-anak yang menjadi korban. Seorang kawan sepermainan Najla, yang sudah mendaftar penuh mogok dan tidak mau sekolah. Diduga ia korban aktivitas buruk ini. &lt;em&gt;Bullying&lt;/em&gt; bisa membuat korban tertekan, kehilangan kepercayaan diri dan yang fatal adalah keinginan bunuh diri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-114352508607877912?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/114352508607877912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=114352508607877912&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114352508607877912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114352508607877912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/03/bullying-gadis-kecil-usia-jelang-empat.html' title='Bullying'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-114344264875291063</id><published>2006-03-27T12:36:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:46:19.350+07:00</updated><title type='text'>Sebenarnya...</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/16/05/63/16056346/42-16056346.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sudah kenal cukup lama dengan kawan satu ini. Dan hampir tiap minggu ketemu satu dua kali. Tapi baru semalam rahasia itu terkuak. Awalnya bermula dari seorang teman yang duduk bergabung di meja kami. Lazimnya pergaulan, saya kenalkan dia dengan kawan saya. Seperti biasa, saya menyebut pula kalau kawan ini satu almamater dan satu fakultas dengan dia. Kawan saya menyergah, wah saya lulusan poltek, bukan teknik. Sangka saya selama ini ia alumni teknik, ternyata bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini cerita menjalar. Saya tanyakan tentang seorang teman yang sejurusan dengannya saat kuliah. Lho itu temanku, teman mengerjakan tugas akhir. Teman yang saya tanyakan itu satu kost dengan saya. Kamarnya berhadap-hadapan dengan kamar saya. Hanya terpisah lorong selepar sembilan puluh senti. Kalau gitu, dulu kamu sering ke kosan saya dong! Iya mantap mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut saya dulu gondrong. Saya dulu juga kurus. Terangnya sembari mengeluarkan sebuah pas poto enam kali empat. Tampak wajah mudanya dengan balutan jaket almamater biru benhur. Susah payah saya mengais ingatan yang sudah sekian tahun mengendap di kedalaman memori. Sebuah samar-samar visual sekuel masa lalu berhasil saya ungkap kembali. Ya... ia pernah hadir dalam kehidupan saya, sekitar tiga belas tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup kadang memang aneh. Suatu waktu kita pernah berjumpa dan saling menyapa, sekejap dan tak berapa akrab. Kemudian berpisah saling sibuk dengan masing-masing urusan. Oleh garis, kemudian ditautkan, dipertemukan kembali tanpa langsung teringat kalau dulu pernah bersua dan bertegur sapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah kalian pernah mengalami hal yang mirip, bahkan serupa?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-114344264875291063?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/114344264875291063/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=114344264875291063&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114344264875291063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114344264875291063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/03/sebenarnya.html' title='Sebenarnya...'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-114319116826672378</id><published>2006-03-24T10:59:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:46:44.349+07:00</updated><title type='text'>Sahabat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/16/07/06/16070672/42-16070672.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jika kau jadi sahabatku, soal hakekat bukan pernyataan. Jika pada malam aku berkata, &lt;/em&gt;"Aku dekat: Kemarilah, jangan takut pada malam, aku masih keluargamu,"&lt;em&gt; Kedua penegasan ini nyata, selama kau mengenali suara kerabatmu sendiri; bahkan kegembiraan mendengar suara sanak keluargamu menjadi saksi bagi kehadiran sahabat kesayanganmu yang jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Jalaluddin Rumi&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-114319116826672378?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/114319116826672378/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=114319116826672378&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114319116826672378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114319116826672378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/03/sahabat-jika-kau-jadi-sahabatku-soal.html' title='Sahabat'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-114292756895390600</id><published>2006-03-21T13:32:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:47:15.254+07:00</updated><title type='text'>Kalau Saja...</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/16/21/56/16215646/42-16215646.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan lebar, lurus dan agak lengang seakan mengundang pengendara kendaraan menarik gas dalam-dalam. Itulah kenyataan yang sering kita temui, terutama pada pengendara kendaraan roda dua. Kecepatan maksimum bagi rata-rata pengendara lain, buat mereka yang adrenalinnya gampang naik, justru jadi batas terendah. Tak pelak lagi, bawaannya ingin menyalip melulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu saya melintas di jalan depan markas sebuah lembaga tak berpapan nama di Kalibata. Jalan ini sejajar dengan rel kereta api. Waktu itu sekitar jam tujuh malam. Jalanan lebar dan cukup lengang, namun agak remang-remang karena penerangan kurang. Sebuah pick up berjalan dengan kecepatan sedang, saya nyalakan lampu sein kanan memberi tanda hendak mendahului. Gas saya tarik, motor mulai menyalip. Sebelumnya saya pastikan cukup aman mengambil jalur kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setengah badan pick up, telinga saya mendengar suara knalpot motor bebek meraung kencang dari arah belakang. Dari beberapa saat tadi knalpot ini menggerung-gerung seakan memberi sinyal tak sabar hendak melesat ke depan. Benar saja, raungan panjang knalpot terdengar makin dekat ke telinga. Reflek, mata saya menegaskan kembali kondisi jalur sebelah kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkesiap! Dua buah sinar terang melaju mendekat. Jaraknya tak lebih dari sepuluh meter. Sekelebat saya menangkap bayangan penyalip terkaget sehingga motornya oleng, sepertinya hendak menghindar ke arah kanan. Pengendara motor yang dari depan juga terkejut, namun dia tak sempat bereaksi apa-apa. &lt;em&gt;Astaghfirullaaahal'adziem&lt;/em&gt;... Begitu saja mulut saya berseru kencang memohon ampunan. Suara benturan benda keras, terdengar seakan merobek gendang telinga. Menggedor pintu hati. Tiba-tiba nyeri seketika menjalar. Kaki menginjak rem, mata menyigi kondisi. Motorpun saya pinggirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja, pengendara bebek tadi menunda menyalip barang satu dua detik untuk memastikan jalur kanan memang benar-benar aman. Kalau saja, penyalip tadi sebelum memutar kontak menyalakan mesin ingat bahwa pengendara lain juga sangat berhak selamat dalam perjalanan. Kalau saja saat melaju pertama dia berpikir bagaimana kalau dia berposisi sebagai korban kecerobohan pengendara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, jarum waktu tak mungkin diputar kembali. Kalau saja penyalip tadi sempat berpikir &lt;em&gt;kalau saja...&lt;/em&gt;. Padahal dengan &lt;em&gt;kalau saja&lt;/em&gt; satu langkah telah dimulai untuk berhati-hati. Dan orang lain - atau bisa jadi suatu waktu orang yang kita cintai - tidak akan menjadi korban kebodohan diri sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-114292756895390600?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/114292756895390600/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=114292756895390600&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114292756895390600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114292756895390600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/03/kalau-saja.html' title='Kalau Saja...'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-114198627397322777</id><published>2006-03-10T16:57:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:47:38.079+07:00</updated><title type='text'>Membawa Soal</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi, menjelang jumatan sekuriti datang ke bilik saya. Ada tamu, katanya. Saya tinggalkan tatapan monitor, beranjak ke lobi depan. Dalam benak bertanya, gerangan siapa jam segini mencari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria bertubuh tinggi lagi gempal berkulit sawo matang, tersenyum lebar menyambut langkah saya. Kening saya berkerut sebentar, sebab tak kenal. Ia beranjak dari duduk, mengangsurkan tangan memperkenalkan diri. Tambah lagi seorang kawan baru. Dipertemukan di atas jembatan yang bernama bisnis. Saya turut tersenyum seraya meraih amplop besar berwarna coklat yang diangsurkannya pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengerti tujuan dia mencari saya. Tanpa banyak prolog, pertanyaan-pertanyaan teknis saya berondongkan kepadanya. Mata saya meneliti deretan angka-angka dalam tabel. &lt;em&gt;Wah kalau ke sini masak tarifnya segini,&lt;/em&gt; tanya saya. &lt;em&gt;Memangnya berapa pak? &lt;/em&gt;Tukasnya tanggap. Saya menyebut angka, nilai yang saya anggap &lt;em&gt;fair&lt;/em&gt;. Ia cepat menyergah &lt;em&gt;kami bisa pak segitu&lt;/em&gt;. Saya tersenyum dalam hati. Ini sebuah permulaan, gumam hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saya yang banyak bercerita. Memberi gambaran tentang apa saja yang dikehendaki tempat saya mencari sesuap nasi. Jawaban-jawaban positif mengalir. Janji-janji manis bergulir. Saya bergeming, melanjutkan bercerita tentang hal-hal ganjil yang saya dengar mengenai dunianya. Ia &lt;em&gt;surprised&lt;/em&gt; memuji pengetahuan saya tentang ladangnya. Lagi-lagi saya tertawa, meski kerontang terdengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan terus berlanjut. Ekor mata saya melirik jam dinding. Apa yang sedari tadi saya khawatirkan, akhirnya menjadi kenyataan. Dalam maksud terbungkus kata, ia singgung sebuah hal yang sangat ingin saya hindari. Secara terang saya katakan, mari kita kerjakan pada jalur yang benar. Masing-masing saling berusaha untuk tidak menciderai janji. Sampai di sini saya tak tahu. Apakah ia cukup mengerti. Hanya sebuah &lt;em&gt;pe er&lt;/em&gt; yang saya berikan, besok-besok kalau kembali tolong isikan angka yang benar di tabel. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah soal, baru saja disodorkan kepada saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-114198627397322777?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/114198627397322777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=114198627397322777&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114198627397322777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114198627397322777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/03/membawa-soal-siang-tadi-menjelang.html' title='Membawa Soal'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-114189118911125592</id><published>2006-03-09T13:43:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:48:08.045+07:00</updated><title type='text'>......</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/00/06/15000681/CRB003451.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak menemukan kata sebagai judul coretan kali ini. Kenyataan yg bersirobok dengan saya beberapa saat yang lalu, membuat saya tertegun. Namun saya kuatkan saja niat untuk menulis. Setidaknya melalui tulisan, saya bisa membagi penglihatan saya pada teman-teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah beranjak siang ketika saya berlalu melewati pertigaan itu. Bila ke kanan kita akan tiba di Depok. Saya mengambil kiri, ke Cinere. Di antara deretan angkot-angkot yang sedang ngetem, mata saya menangkap dua tubuh beranjak akil baligh berjalan berirama mengayun. Sebab di pundak keduanya menggantung pikulan. Di kanan tergantung sebuah lumpang batu dengan beberapa ulekan tersembul keluar. Di sebelah kiri, setidaknya empat atau lima buah cobek batu menggantung pada empat utas tali yang terikat di ujung pikulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah cobek taruhlah beratnya dua kilogram. Dilipatkan lima sudah sepuluh kilogram berat beban di satu sisi. Total dua puluhan kilogram semuanya. Tentu saja bahu seorang anak yang menjelang akil baligh tak sepadan untuk beban hidup seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tengah hari, saat di mana matahari bersinar terik sekali, meloncat turun dua orang anak dari sebuah bajaj. Di sisi luar sebuah pasar yang sangat ramai. Seorang anak kecil, rasanya umurnya belum lagi lewat sepuluh tahun, menggendong karung yang tingginya hampir sama dengan dirinya. Entah isinya apa. Yang seorang lagi berusia sekitar lima belas tahunan, bergegas mengangkat sebuah kotak mirip kandang. Saya memperlambat langkah, ingin menegaskan penglihatan. Ada seekor monyet meringkuk di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kedua anak tadi adalah rombongan topeng monyet yang hendak berkeliling mengais rejeki di gang-gang kampung padat dekat pasar ini. Karung tadi sepertinya berisi peralatan pertunjukan topeng monyet. Sejenak kemudian jejak mereka hilang, ditelan padatnya orang berlalu lalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang mengeluh, karena merasakan semakin hari perasaannya semakin majal. Kehidupan sehari-harinya yang berkutat dengan kenyataan-kenyataan memedihkan, kini tak lagi membuat gerimis hatinya. Ia merasa hatinya kini baja. Padahal dulunya ia seorang yang peduli lagi peka. Tak kan tahan melihat kenyataan yang pedih berlangsung di depan matanya. Kontan saja hatinya trenyuh, bahkan dari matanya bergulir air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasa kehilangan sebagian dari dirinya. Dan menemukan kembali sisi yang hilang ini, bukan perkara mudah. Tempalah besi ketika panas. Bentuklah lempung selagi belum mengeras. Begitu pepatah lama bilang. Maka ketika perasaan telah besi, tiada jalan lain untuk melunakkannya adalah dengan membuatnya &lt;em&gt;panas&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;cair&lt;/em&gt;. Persoalan &lt;em&gt;memanaskan&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;mencairkan&lt;/em&gt; adalah sebuah proses. Proses yang bisa saja berlangsung sekejap, dapat juga panjang dan bahkan tak tuntas meski usia sudah impas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap detik kita disodori beraneka kenyataan. Kenyataan itu adalah halaman-halaman buku yang dibukakan untuk kita, agar matahati kita membaca. Menyesap maknanya untuk memberi vitamin pada penghayatan kita akan hakikat kehidupan yang kita jalani sendiri ini. Karena begitu banyak kenyataan ditabrakkan ke hadapan kita, sehingga kadang kita tak lagi sempat membacanya. Meliriknya pun tidak. Tetapi lembar-lembar kenyataan itu tak berhenti membuka halaman-halamannya. Kadang kita sempatkan membacanya hingga tamat. Tapi tak setetes kebeningan dapat kita sauk dari lubuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tak beres dengan diri ini. Sebab ada yang hilang atau berproses menghilang dari diri sendiri. Kita bergerak menjadi makhluk lain, tanpa kita sadari. Semoga ini lekas tersadari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-114189118911125592?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/114189118911125592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=114189118911125592&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114189118911125592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114189118911125592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/03/blog-post.html' title='......'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-114042420515700722</id><published>2006-02-20T14:04:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:48:26.869+07:00</updated><title type='text'>Langit</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/16/05/79/16057955/42-16057955.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka berdiri di antara kanak-kanak. Menatap sorot mata jernih dengan paras bersih. Ada yang tak sungkan langsung mendekat, ada pula yang malu-malu mencuri lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya saya akan membalas tatap mereka dengan senyum. Senyum dari orang sedewasa saya, tentu saja bukan lawan sepadan untuk kepolosan mereka. Maka selanjutnya saya akan mengelus kepala beberapa anak yang berdiri dekat saya. Sembari menanyakan, siapa namanya. Seorang anak yang paling aktif, biasanya langsung menyebut. Berseru lantang menyebutkan nama si teman. Kemudian saya sibuk mengingat-ingat nama mereka satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, ingatan saya yang lemah tak mampu bertahan lama menyimpan nama mereka. Tapi mereka, anak-anak itu, tak pernah lupa pada saya. Ketika pada suatu kesempatan kami bertemu lagi, beberapa anak memanggil-manggil saya. Seolah tanpa jeda mereka berceloteh menceritakan berbagai hal yang menurutnya perlu diketahui saya. Saya membungkuk dan kadang berjongkok duduk. Mencari posisi yang enak berdialog dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi senyum dari bibir dewasa saya yang menjawab serbuan laporan mereka. Satu dua kali, saya ungkapkan penghargaan saya pada apa yang mereka ceritakan. Sambil berharap besok, mereka pasti mampu bikin yang lebih baik lagi. Ya, saya sedang belajar. Belajar memandang kalau tidak ada yang tak mungkin diraih oleh anak-anak. Sebab cuma langit orang dewasa yang berbatas. Angkasa anak-anak selalu mencakrawala.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-114042420515700722?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/114042420515700722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=114042420515700722&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114042420515700722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114042420515700722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/02/langit-saya-suka-berdiri-di-antara.html' title='Langit'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-114017015871396058</id><published>2006-02-17T15:04:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:48:47.792+07:00</updated><title type='text'>Teriak</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/29/06/15290645/42-15290645.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja pantat saya duduk di atas sadel motor dan kaki bersiap menjejak pedal starter, sekonyong-konyong terdengar teriakan kencang dari ambang pintu bercat hijau tua.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Mikel!!!... Kursinya dirapikan!!!" &lt;/em&gt;Teriak sebuah suara kencang melengking.&lt;br /&gt;Sekejap saya terkaget. Tampang saya yang melongo separuh tak percaya, menengok ke daun pintu yang terbuka. Mencari tahu gerangan siapa perempuan yang berteriak itu. Kaki kanan saya urungkan menendang pedal starter. Tapi yang kelihatan oleh saya cuma deretan beberapa murid memakai seragam kaos olah raga sedang duduk di kursi mungil warna warni. Si Mikel tak tampak, rupanya ia duduk di sisi yang tertutup dinding. Sedang si empunya suara belum keliatan sosoknya. Saya tunggu lagi sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Mikel!!!... Kursinya dirapikan!!!" &lt;/em&gt; Lantang teriak suara itu. Lebih melengking dari yang tadi. Sejurus sebuah tangan tampak menunjuk-nunjuk ke arah si Mikel yang belum juga menuruti perintah nan berteriak itu. Kesabaran si pemilik suara sudah mendekati ambang, sehingga ia bergerak mendekat ke arah duduk Mikel. Tampaklah sesosok perempuan muda berbalut kaos lengan panjang dan celana training. Oooh... ini dia yang berteriak-teriak itu. Guru dari anak-anak TK kelas ini. Pedal saya jejak, gas saya tarik dan motor pun melaju bersamaan dengan pikiran saya yang terpacu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja saya bertemu dan mengobrol agak panjang dengan orang tua murid yang menjadi ketua panitia penerimaan murid baru sekolah itu. Keperluan saya mencari informasi berkaitan dengan rencana menyekolahkan &lt;a href="http://najlahanisa.multiply.com/"&gt; Najla&lt;/a&gt; tahun ajaran depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang bersemangat memperbaiki diri terus-menerus. Begitu simpulan saya dari pembicaraan tersebut mengenai sekolah ini. Pihak yayasan dan kepala sekolah menjalin kemitraan aktif dengan orang tua murid. Orang tua murid diberi kesempatan untuk memberikan ide-ide dalam pelaksanaan proses kegiatan belajar-mengajar. Bahkan ada program orang tua mengajar di kelas. Program ini cukup menarik, meski masih perlu dikaji lebih jauh. Tapi setidak-tidaknya ada semangat untuk melibatkan orang tua secara aktif dalam proses pendidikan anak mereka di sekolah. Karena diharapkan melalui kegiatan seperti ini terjadi proses saling berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sudah saatnya orang tua, dalam berbagai tingkatan sesuai kemampuan dan kesempatan, aktif dalam proses mendidik anaknya. Karena sekolah pada dasarnya penerima mandat dari orang tua yang tak mampu mendidik semua aspek pendidikan kepada anaknya. Sekolah dalam hal ini mewakili peran orang tua. Tanggung jawab penuh tetap pada orang tua si anak. Oleh karena sepatutnya orang tua mengetahui perkembangan kemajuan pendidikan anaknya di sekolah dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi untuk pendidikan usia dini. Di mana pembentukan karakter anak saatnya dibangunkan. Untuk keberhasilannya mutlak memerlukan keselarasan dan keberlanjutan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Sulit untuk maksimal apabila apa yang diajarkan di sekolah ternyata tidak ditunjang di rumah. Terlebih bila bertolak belakang. Ada kontradiksi yang akhirnya membuat anak kebingungan, kemana harus mengikuti. Yang muncul akhirnya kepribadian yang tanggung. Karakter yang tak begitu kokoh serta aspek nilai-nilai yang kelam, abu-abu dan putih sama-sama mendapat porsi dalam diri si anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan karakter, tak melulu bicara soal pengajaran dan pendidikan. Yang terutama adalah soal contoh dan teladan. Anak-anak adalah sosok peniru. Mereka akan mencari patron pada lingkungan terdekatnya untuk sesuatu yang sedang dia pelajari. Maka berhadapan dengan anak, apapun kondisi yang sedang berkecamuk dalam hati, semestinya tetap tertampak dalam satu warna. Warna yang baik, santun lagi jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu guru Mikel tadi, mungkin sedang dalam kondisi agak lolos kendali. Mikel dalam benaknya selama ini, mungkin, ia pandang sebagai anak yang 'bandel', sehingga ia merasa harus berteriak untuk mengingatkan Mikel agar menuruti perintahnya. Ia rasanya lupa dengan berteriak belum tentu keinginannya terturuti. Bahkan sangat mungkin tidak dipatuhi dengan sewajarnya oleh Mikel. Tapi ia sudah terlanjur beranggapan bahwa ia harus berteriak untuk menyelesaikan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan selalu saja ada. Seperti membuat jalan, bukit-bukit kadang perlu dipapas. Kalau tidak, mungkin kita harus berjalan melingkar. Melewati jalur lain yang lebih memungkinkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-114017015871396058?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/114017015871396058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=114017015871396058&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114017015871396058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/114017015871396058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/02/teriak-baru-saja-pantat-saya-duduk-di.html' title='Teriak'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-113990179650154541</id><published>2006-02-14T12:53:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:49:16.957+07:00</updated><title type='text'>Ular</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kemarin sore Sawangan hujan deras. Angin menderu kencang, mengibaskan butiran hujan kemana-mana. Halilintar juga menyambar-nyambar, seakan cemeti cahaya mencari sasaran cambukan. Saat itu saya masih melaju diatas kendaraan. Membelah jalan yang sudah berubah menjadi selokan besar. Pijar-pijar cahaya berkali-kali menyala di angkasa. Tak tahu kalau itu terjadi di atas langit Sawangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan deras berangin kencang seketika membuat got tumpah. Batang sungai yang melintas di sisi perumahan airnya juga meninggi. Saluran air kini berbalik, mengalirkan air dari kali ke perumahan. Beberapa blok langganan banjir tergenang air. Sebetis orang dewasa tingginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cukup malam ketika saya tiba di rumah. Hujan sudah berhenti, menyisakan basah di sana-sini. Susunan genting yang tak begitu rapi, ternyata tak tahan hempasan angin berhujan. Air jatuh mengalir seperti pancuran dari sela plafon. Begitu lapor Ummi. Aku cuma tersenyum. Pasti air itu tertampung di plafon terlebih dahulu. Menggenang hingga memperoleh jalan untuk mengalir keluar. Ke bawah ke ruang tamu dan tengah. Akibatnya bila dilihat dari bawah tampak seperti air yang memancur dari cerek minuman. Ini pekerjaan rumah besok pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membereskan sisa hujan semalam, ada kabar berhembus. Tetangga blok menangkap ular sawah. Ular itu masuk ke dapur rumah. Besar, sepaha ukurannya. Begitu kata empunya berita. Wajar kata hati saya membatin. Blok sebelah berbatas langsung dengan kebun dan empang. Habitat yang cocok untuk si hewan. Sebesar paha? Ah yang benar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ke kantor saya sempatkan melihat. Benar juga, besar sekali ukuran ular sawah ini. Coba saya kira-kira, tiga meter lebih panjangnya. Ular itu meringkuk di kandang dari kawat. Pasti sakit tertekuk di kandang dengan ukuran enam puluh kali empat puluhan. Tapi ini kondisi darurat, mudah-mudahan ada yang bersedia meminjamkan kandang lebih besar untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Daripada nanti mengganggu jadi saya tangkap. Soalnya sudah masuk ke dapur". Begitu ujar Pak Kadut (sungguh demikian beliau dipanggil entah apa ada hubungan dengan nama sejenis ular). Ia menangkapnya berdua dengan anaknya yang berusia belasan dan dibantu oleh seorang tetangga. Sebab saat ia pegang kepalanya ular itu meronta dan hendak melilit tubuhnya. Bahkan ular itu sudah sempat menggigit ekornya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sering menangkap ular, biasanya saya pindahkan saja. Biar tak mengganggu". Paparnya sederhana, tanpa bumbu. "Tadi malam ada yang datang menawar, mau membayar lima ratus ribu. Saya bilang: biar di sini dulu dua tiga hari". Sambung Pak Kadut, datar. Ia berharap ular itu tetap hidup wajar dalam lingkungannya sendiri. Pilihan menjual, saya rasa tidak ada dalam benaknya. Ada kearifan berbagi tempat hidup dan kehidupan dalam ujarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia mengeluarkan dan memasukkan ular itu, karena seorang tetangga mau merekamnya, dengan sabar ia mengangkatnya. Seakan pada kawan sendiri ia berlaku. "Masuk...masuk..." Sembari ia tepuk-tepuk tubuh si ular yang enggan menggelung ke dalam kandang. Ia tidak berlaku seakan-akan ular sanca itu adalah musuh taklukan. Tak juga seperti penegak hukum yang menggelandang tangkapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya takjub pada prinsip keselarasan yang dipraktekkannya. Pada hal kecil dan remeh. Tapi tepat dan menghujam ke intisari. Saya cukup malu sendiri. Terdorong oleh hal itu saya hubungi seorang kawan yang bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional yang mengurusi binatang. Ia memberi saran menghubungi temannya. Temannya saya hubungi. Sayang jawabannya tak mencukupi, informasi yang ia beri juga mengandung bias yang musti dicek lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya saya tak berpikir lembaga tempat seseorang berkarya mencerminkan pula totalitas idealisme orang tersebut. Atau wajar tak semua orang dalam satu lembaga sama mendalam idealismenya. Rasanya saya terlalu awam dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan saya bisa membantu Pak Kadut. Menemukan jalan untuk menuntaskan harapannya berbagi tempat hidup dan kehidupan dengan sesama makhluk. Meskipun itu seekor ular pun. Hari ini, saya merasa banyak sekali belajar. Moga-moga saya selalu diberi ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gambar diatas hanya sebagai ilustrasi. Jenis dan ukuran ular kira-kira sama dengan ular pada gambar tersebut. Gambar dipinjam dari &lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/012006/12/0215.htm"&gt; Pikiran Rakyat&lt;/a&gt;. Menurut koran tersebut nasib ular itu akan jatuh ke tangan pembeli. Sebab si penemu berniat menjualnya.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-113990179650154541?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/113990179650154541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=113990179650154541&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113990179650154541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113990179650154541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/02/ular-kemarin-sore-sawangan-hujan-deras.html' title='Ular'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-113887265439362748</id><published>2006-02-02T15:02:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:49:42.544+07:00</updated><title type='text'>Sawah dan Hujan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/14/77/26/14772650/CRB002627.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma tanah kering tersiram air menguar kencang. Deru jarum-jarum air yang menimpa genting, seolah-olah seruan yang memanggil lelaki kecil untuk segera berlari keluar. Tak berapa lama, aroma wangi tanah menghilang. Bersamaan dengan munculnya genangan yang sedikit demi sedikit meluas di atas tanah halaman rumah. Berjuta kelopak air tumbuh di atas genangan itu. Sekejap terbentuk lalu menghilang, tergantikan oleh kelopak baru. Seiring dengan derasnya hunjaman tetes-tetes air hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki kecil itu tak sabar ingin segera berlari keluar. Teriakan ibunya tak ia hiraukan, tertelan oleh deru hujan. Bersipat kuping, ia lari ke jalanan. Bergabung dengan teman-teman sebayanya dalam keriangan yang merdeka. Air, hujan dan genangan adalah besi sembrani bagi setiap anak lelaki. Apalagi di desa, tanpa listrik dan minim televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berderap langkah kaki mereka berlari-lari kecil menuju sawah. Mencari burung gemak, sebangsa puyuh liar. Burung gemak sebesar kepalan tangan, dengan sayap tak seberapa panjang tidak mampu terbang. Terlebih lagi bila hujan deras datang. Sayapnya akan basah kuyup, dan daya larinya pun meluruh. Burung gemak akan bersembunyi di antara rerumpunan tebu, padi atau gerumbulan semak. Warna bulunya yang coklat &lt;em&gt;blorok&lt;/em&gt; adalah karunia yang besar. Memberinya kamuflase yang nyaris sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok lelaki kecil itu kini telah meniti pematang menuju sawah yang agak di tengah. Celoteh suara mereka sesekali beradu dengan gemuruh guntur yang berdentum-dentum bak meriam sundut. Bila pijar kilat sontak menerangi alam sekitarnya, tanpa dikomando mereka menjatuhkan diri sekenanya. Yang beruntung mendapatkan pematang sawah dengan rumput tebal menjadi alasnya. Yang tak beruntung mesti rela mencium tanah berlumpur dengan genangan air di atas. Setelah pijar kilat lewat, tertawa-tawalah mereka mengelakari kawan yang tak beruntung tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup naif. Ketika hujan lebat dengan kilat berkelebat-kelebat, anak-anak itu malah pergi ke tengah sawah. Tempat yang sebenar-benarnya lapang. Tanpa tumbuhan yang tingginya melebihi ubun-ubun mereka. Tumbuhan yang kiranya dapat mengalihkan perhatian sambaran kilat dari ujung rambut mereka. Tetapi dalam kamus dunia anak, rasanya bahaya belum tertulis di sana. Yang ada hanyalah keberanian dan kepolosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama mengejar-ngejar burung gemak yang ternyata tak juga luruh kemampuan berlarinya, rasa capek menjalari tubuh-tubuh kecil. Derai air hujan pun makin mereda. Tak lagi sederas tadi. Kedua jari jemari saling ditautkan mendekap dada, mengharap sepercik hangat bertahan di sana. Gigi geligi pun bergemeletuk, bak alu menutu lumpang kayu. Langkah kaki tak lagi gesit berlari. Dalam barisan panjang kumpulan lelaki kecil itu pulang. Di antar gerimis yang menyudahi derasnya hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak berubah hanyalah keriangan mereka. Gelak tawa dan canda mengiring perjalanan mereka. Satu persatu mereka berpisah, berbelok pulang ke rumah. Ketika rimbun pohon mangga gadung melengkung terlihat, tiba-tiba debar bergetar di dada. Dedaunan jambu bergoyang-goyang digebah angin, seakan menyoraki lelaki kecil itu. Sejenak langkahnya tertahan ketika hendak memasuki halaman. Ah! aku anak lelaki. Sebuah jeweran di telinga kiri tak boleh ditangisi. Gumam hati kecil milik lelaki kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menyambut &lt;a href="http://www.wwf.or.id/index.php?fuseaction=newsroom.detail&amp;amp;id=NWS1138264872&amp;amp;language=i"&gt; Hari Lahan Basah Sedunia&lt;/a&gt; yang jatuh pada hari ini, 2 Februari 2006. Di Jakarta, &lt;a href="http://jakartagreenmonster.com/index.php?option=com_frontpage&amp;amp;Itemid=1"&gt; Komunitas Pemerhati Suaka Margasatwa Muara Angke &amp;amp; Pulau Rambut &lt;/a&gt; memperingatinya dengan &lt;a href="http://jakartagreenmonster.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=87&amp;amp;Itemid=9"&gt; acara seperti ini&lt;/a&gt;. Tertarik menjadi volunteer atau berwisata gratis ke sana, Rekan-rekan bisa mendaftar &lt;a href="http://jakartagreenmonster.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=65&amp;amp;Itemid=65"&gt; di sini &lt;/a&gt;. Atau bila mau langsung - sekalian kenalan - boleh saja mengontak &lt;a href="http://wandi.airputih.or.id/"&gt; lelaki ini,&lt;/a&gt; yang bila berkenalan selalu berkata "maaf saya sudah menikah!". Sebelum menyebut namanya.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-113887265439362748?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/113887265439362748/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=113887265439362748&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113887265439362748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113887265439362748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/02/sawah-dan-hujan-aroma-tanah-kering.html' title='Sawah dan Hujan'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-113878491179213921</id><published>2006-02-01T14:42:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:50:05.050+07:00</updated><title type='text'>Empat Tahun</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, genap empat tahun saya menjadi seorang ayah. Setelah sebelumnya kurang lebih setahun menjadi seorang suami. Sebuah waktu yang pendek jika diukur dalam takaran umum. Tetapi waktu yang pendek kerap kali adalah waktu yang &lt;em&gt;emas&lt;/em&gt;. Saat-saat yang paling berharga serta menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat saat-saat setelah menemani kelahiran si kecil, sesudah subuh yang terasa panjang dan mendebarkan, saya keluar dari ruang persalinan. Setelah semuanya selesai. Sinar matahari pukul tujuh milik musim hujan, bersinar terang. Demikian juga kiranya dengan wajah saya yang semalaman bergadang. Namun ada sedikit tanya membersit dalam hati. Akan menjadi ayah seperti apa saya bagi gadis kecil ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenak pertanyaan itu menggantung. Karena memang tak perlu ada jawaban. Ini lebih sebuah repetisi ke diri sendiri. Kala pasti memberi waktu untuk belajar. Begitu hibur hati saya. Berbagai buku dan artikel yang pernah saya baca, tiba-tiba tak banyak memberi arti. Lalu saya sibuk membagi berita ceria ke orang tua, handai tolan dan sahabat. Bahwa saya telah menjadi ayah. Ada rasa syukur, juga terselip bangga di situ. Sebuah kelemahan yang masih saja melekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini setelah empat tahun, pertanyaan itu menggugat kembali. Tak lagi ditemani tatap matahari jam tujuh pagi, tetapi arakan awan kelabu. Yah! Ayah seperti apa saya telah, sedang dan akan menjadi? Sebuah repetisi yang tak perlu dijawab dengan kata-kata lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/rhay31/najlajilbab1.JPG" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Selamat ulang tahun, &lt;a href="http://najlahanisa.multiply.com/"&gt; Najla&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-113878491179213921?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/113878491179213921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=113878491179213921&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113878491179213921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113878491179213921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/02/empat-tahun-kemarin-genap-empat-tahun.html' title='Empat Tahun'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-113740687847107720</id><published>2006-01-16T16:58:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:50:26.145+07:00</updated><title type='text'>Cukup</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/16/11/65/16116567/42-16116567.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tua duduk terpekur di pinggir jalan. Di tatap matahari siang di sapa desau dedaunan. Wajah tuanya menyimpan gelegak yang telah lama diam lagi tenang. Namun segaris risau tergurat di sana. Gerangan apa yang menggayut dalam ruang hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupiah. Tak ada lagi rupiah bersisa di kantong dangkalnya. Sementara tujuan masih    teramat jauh. Rumahnya di ujung selatan pulau perca. Perlu dua hari untuk tiba di ambang pintu dari titik yang dipijaknya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak bimbang melayang. Sekelebat waswas melintas gegas. Matanya menerawang satu dua kendaraan yang lalu, menyisakan debu. Selebihnya sepi menelikung situasi. Lelaki tua itu terdiam dalam duduknya. Diam yang berdegup. Ada denyar melesat secepat kilat. Teramini oleh matahari siang dan gugurnya dedaunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sepeda motor melintas kencang dengan derum knalpot lantang. Dari sebuah kantong yang disandang pengendara motor berhamburan lembaran kertas persegi panjang. Persis seperti tumpukan dedaunan digebah angin kencang. Berputar-putar dipermainkan angin, menyebar ke segala arah. Si pengendara motor tak sadar, terus saja melaju kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak wajah tua itu terperangah. Seperti wajah anak lelaki kecil memandangi binar kembang api. Lalu seulas senyum menyabit lengkung di bibirnya yang keriput. Lelaki tua itu beranjak sambil menggendong tas tuanya. Dipungutnya selembar kertas berlogo bank sentral yang dihantarkan angin ke dekat kakinya. Lalu ia pergi tanpa menghiraukan lembaran-lembaran lain yang kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan langkah ringan lelaki tua itu pergi ke tempat terbenam matahari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-113740687847107720?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/113740687847107720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=113740687847107720&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113740687847107720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113740687847107720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2006/01/cukup-seorang-tua-duduk-terpekur-di.html' title='Cukup'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-113517029553903074</id><published>2005-12-21T19:09:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:50:52.586+07:00</updated><title type='text'>Ketemu Tupai</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/14/61/30/14613036/S0036-18.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang yang benderang. Manik mata tertarik rerimbunan hijau yang tumbuh subur tanpa diatur. Dari jendela kaca bujur sangkar, sayapun menatap keluar. Menelusuri gerigi dedaunan pepaya, lengkung sulur-suluran yang lebat daunnya lalu tiba di kelam pokok kelapa sawit yang tak rata. Ketika mata menuruni pangkalnya, aha... ada dua ekor burung yang sedang mematuki tanah berpasir. Mungkin ini ritual yang disebut &lt;em&gt;ngasin&lt;/em&gt;. Melahap pasir atau batu kecil untuk membantu mencerna makanan di tembolok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna bulunya abu-abu keunguan seperti beras ketan dengan titik-titik putih kecil mengalung di lehernya. Perkututkah? Kalau perkutut, kok ukuran tubuhnya cukup besar. Rasanya ini derkuku (Streptopelia chinensis). Mungkin mereka pasangan jantan dan betina. Maaf saya bukan pengamat burung yang baik. Tapi setidaknya kehadiran mereka membuncahkan kesenangan tersendiri dalam hati saya. Menemui jenis burung yang biasanya terkurung, asyik mematuki tanah. Entah kapan saya terakhir kali melihat pemandangan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, ketika masih berdomisili di seputar Tebet, setiap pagi saya mendengar kicauan burung yang enak didengar. Entah apa nama burungnya. Mata saya mencoba mencari-cari di antara kerimbunan kanopi angsana yang tumbuh berderet di pinggir jalan depan rumah. Tapi saya tak pernah berhasil memergoki si penyanyi pagi ini. Mudah-mudahan burung itu masih bersarang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali lain, sehabis dari toilet, saya melihat sebuah bentuk berbulu coklat bergerak di atas dinding pagar. Oh... seekor tupai dengan surai ekor tegak menandakan sedang waspada. Ini sebuah kejutan baru. Beberapa tahun lalu ketika masih berkantor di geung ini, saya tak pernah berjumpa  dengan seekor tupai pun. Kini telah ada tupai menambahi &lt;em&gt;koleksi&lt;/em&gt; rerimbunan di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau musang jangan ditanya. Gedung tua dengan plafon luas tempat saya pernah berkantor telah bertahun-tahun menjadi sarang baginya. Sehingga tak heran, mungkin karena kebelet gak sempet ke emceka, si musang pipis tidak pada tempatnya. Akibatnya air seni tersebut menetes lewat celah triplek. Sekali pernah tepat menimpa keyboard yang sedang saya pakai mengetik. Bedanya dengan punya orang, air seni produksi musang beraroma &lt;em&gt;cocopandan&lt;/em&gt;. Hehehe... eh pandan aja ding!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini memang saya hadir lagi ke bekas kantor yang kini berubah menjadi gudang. Sekarang ternyata makin beraneka hewan yang ikut bercengkerama di sekitarnya. Kalau makhluk yang tak kasat mata yang konon katanya memang banyak jumlahnya, entah bertambah apa tidak. Saya tidak bisa menyensusnya. Lha bagaimana, mendeteksi keberadaannya aja gak tahu bagaimana caranya. Hehehe...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-113517029553903074?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/113517029553903074/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=113517029553903074&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113517029553903074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113517029553903074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/12/ketemu-tupai-dan-derkuku-siang-yang.html' title='Ketemu Tupai'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-113514445485397262</id><published>2005-12-21T12:41:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:51:15.223+07:00</updated><title type='text'>Tokek</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/09/90/15099020/AB008026.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika isya lewat melenggang, ia mulai menyembulkan kepala dari balik lemari jati. Perlahan se-mili demi se-mili, seakan-akan penuh waspada pada ancaman yang tak terperi. Lalu bila ia tiba pada titik yang diingini, ia berhenti merayap. Menempel diam pada tegak lurus dinding hingga berjam-jam. Tak sekalipun bergerak. Hanya bola matanya kadang berkedip-kedip mengamati mangsa yang lalu dalam jangkauan pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hap! Dalam sekejap seekor nyamuk ia tangkap dengan mulutnya yang nganga selebar-lebarnya. Sebentar kepalanya bergerak-gerak, mendorong makanan ke dalam lambung. Lalu ia diam lagi. Tengah malam ketika tv sedang menayangkan film seru, ia pamer suara. Kekekeke… tokeek... tokeek… tokeek… Suara lain yang meningkahi stereo tv, jelas terasa mengganggu keasyikan melihat sang jagoan sedang berlaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hush! Diam!!… Tiba-tiba langsung senyap. Hanya suara ketoplak sepatu berlari dari sang jagoan di tv yang memantul seantero ruangan. Memang ia tak mengerti bahasa manusia. Tapi rupanya ia mampu menangkap maksud saya. Setelah itu ia tak mencoba lagi menarik suara. Menempel diam di dinding bak pajangan. Kulitnya yang abu-abu kelam dengan totol-totol kejingga-jinggaan sangat kontras dengan cat berwarna hijau yang melaburi dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kapan ia berdomisili di balik almari, saya sudah tak ingat lagi. Pertama kali keberadaannya sempat membikin polemik. Ada yang usul membuangnya ke gudang belakang tapi ada juga yang menginginkan ia tetap di situ, tak dipindahkan. Salah satunya saya. Akhirnya yang berpendapat pertama bisa memahami. Karena toh keberadaannya di situ tak mengganggu dan mengotori. Malahan membantu. Membantu mengurangi suplai nyamuk dari kebun belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu besarnya baru setelunjuk orang dewasa. Kini setelah berbilang tahun ukurannya sudah setara dua jari orang dewasa. Saat siang ia menempel diam di balik almari. Baru bila malam merambat tua, ia keluar dari persemayamannya. Cukup sopan dan tidak ganjen. Tak pernah saya temui ia pergi jauh, apalagi pindah, dari balik lemari hitam kuno itu. Ia juga tak tergerak untuk sedikit-sedikit pamer suara seraknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam saya mendengar suara yang telah lama sekali tak saya dengar. Kekkekkeke…. tokeek… tokeek… tokeek… Sayang suara itu berasal dari balik dinding. Di rumah yang saya tinggali saat ini belum ada tokek yang bersedia diajak berkawan. Berbagi satu naungan. Pernah terbersit mencari tokek, remaja tokek atau anak tokek untuk dipelihara dengan membuatkannya tingkap untuk bersarang saat siang. Tapi pikiran satu lagi mengingatkan, apakah tindakan memindahkan tokek ke tempat yang saya maui sudah tepat? Apakah ia akan menjadi lebih bahagia bila berada di sini? Atau malah membikin dia makin sengsara, kelaparan lalu mati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemanusiaan saya memang mampu berbuat untuk memenuhi keinginan seperti ini. Dengan aneka pembenaran dan pemakluman yang seiring menyertai. Tapi sebuah tragedi, akan selalu terlambat tersadari, akibat titik pandang cuma satu sisi. Sisi sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa, saya belum mampu menanggung ini. Jadi saya batalkan saja. Saya berharap saja, suatu ketika ada tokek bersedia secara sukarela datang ke tempat saya untuk berbagi naungan yang sama. Dan ternyata sampai kini belum juga ada. Mungkin keberbagian saya belum serata dinding, sehingga tak mampu menarik buat seekor tokek merayapinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-113514445485397262?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/113514445485397262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=113514445485397262&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113514445485397262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113514445485397262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/12/tokek-ketika-isya-lewat-melenggang-ia.html' title='Tokek'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-113284022286066742</id><published>2005-11-24T20:02:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:51:42.479+07:00</updated><title type='text'>Wajah Terakhir</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/20/71/15207122/42-15207122.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana akhir menjadi? Tak seperti mula yang tertengarai, akhir adalah sebuah tanda tanya yang senantiasa.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa kita nanti pergi. Bagaimana wajah terakhir kita dikenang oleh orang-orang terdekat. Wajah yang diam terpejam, dingin lagi pucat sebab darah tak lagi mengaliri pembuluhnya. Jernih seperti bayi tertidur di atas tilam. Menyungging sesimpul senyum bak beroleh kegembiraan hati tak terkirakan. Ataukah keruh penuh kerut-merut, seperti wajah buruh saat tanggal tua mendera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kita adalah mencari akhir, bukan berusaha membuat perjalanan memanjang tiada berakhir. Bila akhir yang dinanti, maka tiap kini adalah penghujung. Karena akhir, meski telah dituliskan, beritanya adalah kerahasiaan Pemilik hidup abadi. Dan akhir adalah keniscayaan yang tak terbantahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak wajah-wajah terakhir, tiba-tiba mengingatkan saya pada wajah sendiri. Pada raut muka yang saat tidur pun kerap kali tetap keruh. Apalagi ketika terjaga, saat kepala, hati dan raga sepenuhnya bekerja. Menimang persoalan, menimbang keputusan dan menenggang perasaan, campur aduk silih berganti memeri diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana raut wajah terakhir nanti? Begitu pertanyaan yang tiba-tiba hadir dan membikin sekejap hati terkesiap. Apakah mungkin kembali ke tidur bayi? Atau menatah selekuk sabit senyum di ujung bibir? Ataukah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah... bagaimana pula saya berandai-andai, bila diri saja selalu lupa pada tiap kini adalah menyongsong akhir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-113284022286066742?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/113284022286066742/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=113284022286066742&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113284022286066742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113284022286066742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/11/wajah-terakhir-bagaimana-akhir-menjadi.html' title='Wajah Terakhir'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-113073670319797608</id><published>2005-10-31T12:23:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:52:11.108+07:00</updated><title type='text'>Ingsut</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/43/90/15439094/42-15439094.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;assalaaamualaikum&lt;br /&gt;.....&lt;br /&gt;mohon pamit beringsut sejenak&lt;br /&gt;mohon maaf atas segala kekhilafan di atas kekhilafan&lt;br /&gt;selamat iedul fitri&lt;br /&gt;semoga ridha tak henti gerimis&lt;br /&gt;di hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalaaamualaikum&lt;br /&gt;rhay+ummi=najla&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-113073670319797608?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/113073670319797608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=113073670319797608&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113073670319797608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113073670319797608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/10/ingsut-assalaaamualaikum.html' title='Ingsut'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-113033472698897101</id><published>2005-10-26T19:18:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:52:34.339+07:00</updated><title type='text'>Dunia Kecil</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/03/04/15030432/CRB003526.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dunia besar dengan hiruk pikuknya, setiap kita juga punya dunia kecil. Lengkap dengan sunyi senyapnya. Dunia besar, seperti ukurannya adalah sesuatu yang tak tergayut oleh lengan kita. Meski kita berada di dalamnya. Turut berputar dalam pusingannya. Tapi kita tak memiliki kemampuan mengubah arah putarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang dunia besar sangat mungkin mempengaruhi arah bersikap kita. Di sinilah pentingnya memiliki dunia kecil. Dunia milik kita sendiri, tempat kita merawat segala sesuatu yang berbeda dengan yang ada di dunia besar. Menjaga dunia kecil agar tetap apa adanya dan bersahaja, ternyata cukup sulit. Ditambah lagi mengendali rasa agar tetap senyap, tak tergoda berbisik apalagi berbincang riuh. Sengaja mengundang perhatian datang atau mengunjukkan siapa pemilik suara lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak apa, kita memiliki saja dunia kecil dahulu. Soal mengendali dan menjaga, tetap kita pelajari sambil berjalan tertatih. Sebab ini bukan semata keterampilan atau ilmu pengetahuan, tapi lebih ke soal kerendahhatian. Menyadarkan diri kalau tak cukup layak mengaku berada lebih tinggi dari titik nadir. Meski dagu tetap harus tegak saat bersikap di muka sesama. Karena tak ada yang perlu ditakuti dan khawatiri. Nasib manusia tidak pada genggaman sesamanya. Nasib manusia ada pada Pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehlah sedikit berbangga diri ini bila masih memiliki dunia kecil, sekecil apapun ukurannya. Tempat kita menyimpan dan memelihara keheningan gaung suara batu yang tercebur di kedalaman sumur. Bila kita tak lagi punya dunia kecil, rasanya kita harus segera berkemas. Senyampang senja tak berjadual datang menggebah siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-113033472698897101?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/113033472698897101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=113033472698897101&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113033472698897101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/113033472698897101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/10/dunia-kecil-selain-dunia-besar-dengan.html' title='Dunia Kecil'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112971352581887898</id><published>2005-10-19T15:32:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:53:05.541+07:00</updated><title type='text'>Menganyam Hening</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/46/46/15464691/42-15464691.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma ada hening padaku, sedang padamu hingar bingar kau telan sendirian. Tandas. Celoteh riuhmu kutahu, sembilan puluh sembilan persen adalah kutipan dari kitab kebajikan. Sekedar kutipan yang entah kapan kau menghafalnya, sehingga kini kau fasih sekali merapalnya. Seperti kertas-kertas penuh bertuliskan huruf-huruf yang terburai dari bendelnya lalu beterbangan tak tentu arah. Mungkin cuma satu persen saja yang mengandung kebenaran, menemui kenyataan pada perilaku dan bisik hatimu. Selebihnya, aku khawatir telah berubah menjadi omong kosong belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, betapa sulit menerungku prasangka buruk busukku. Kemanusiaanku masih sepenuhnya manusia, tapi tak berusaha mengerangkeng pikiran buruk bukanlah sebuah kebaikan. Ini hanya memindahkan keburukan orang lain dalam bentuk berbeda pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa aku tak coba saja menganyam hening milikku, sementara biarkan saja riuh rendahnya membahana bak debur ombak. Ini hanya masalah memisahkan dua materi, satu tak berbentuk yaitu suara, dan satu lagi berbentuk yakni manusia yang menyaringkannya. Lalu pisahkan kembali suara, menjadi bunyi dan isi. Sebagai bunyi anggaplah suara seperti derum knalpot bajaj, gerombyang piring pecah berantakan atau ketuk ritmis tetes air kran di malam kelam. Sedang isi, boleh kau sikapi dengan rendah hati, tapi boleh juga tak kau hiraukan tetapi tetap dengan rendah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi alangkah sulitnya untuk tetap bergeming pada kejernihan prasangka batin, ketika mata berkomplot dengan benak membuka kembali ingatan tentang keganjilan, keanehan dan ketidakberesan yang pernah tertemui. Betapa dua hal yang kontradiktif cepat memicu hati dan otak bereaksi memposisikan diri beroposisi. Kau telah di sana dan aku tetap di sini, tidak kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, alangkah jumawanya. Betapa angkuhnya diri yang seperti ini. Pemain tak pernah sekalipun sekaligus merangkap menjadi wasit. Ia harus memilih satu saja. Tak mungkin keduanya pada saat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari anyam hening milik sediri, agar menjelma perahu. Untuk berlayar ke keluasan samudera diri, yang kian tak bertepi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112971352581887898?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112971352581887898/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112971352581887898&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112971352581887898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112971352581887898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/10/menganyam-hening-cuma-ada-hening.html' title='Menganyam Hening'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112929687524992149</id><published>2005-10-14T19:02:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:53:36.889+07:00</updated><title type='text'>Batubata</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/14/41/83/14418309/CB067866.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak batu bata dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah rumah model mediterania tingkat tiga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hanya sebuah batu bata.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112929687524992149?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112929687524992149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112929687524992149&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112929687524992149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112929687524992149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/10/batubata-berapa-banyak-batu-bata.html' title='Batubata'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112902197201224087</id><published>2005-10-11T15:30:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:54:04.035+07:00</updated><title type='text'>Pernah Ketemu</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/21/24/15212463/42-15212463.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya kok kayaknya pernah ketemu sampeyan!&lt;/em&gt; Katanya tiba-tiba, setelah sebelumnya kami terlibat obrolan serius membahas perilaku pengemudi kijang yang barusan bertabrakan dengan kendaraan saya. Sorot matanya setengah bertanya dari balik kacamata perseginya. Ingatannya mencoba berpikir dengan keras. Saya tersenyum memegang bahunya, mencoba meretas jarak yang baru beberapa saat teretas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mungkin kita pernah ketemu pak!&lt;/em&gt; Tengarai saya agak sekenanya, tetap dengan senyum di sudut bibir.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bapak dinas di mana?&lt;/em&gt; Tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya di Mabak di bagian anu!&lt;/em&gt; Katanya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kantor saya dekat situ pak! Mungkin kita pernah ketemu secara tak sengaja&lt;/em&gt; Papar saya berpraduga, mencoba mengurangi beban tanya yang menggelayut di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal saya tak sepenuhnya yakin pernah bertemu dengan bapak ini. Tapi perkenalan yang diawali oleh musibah yang menimpa saya yang kemudian membersitkan simpatinya pada saya, tak enak kalau diisi dengan main tebak-menebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bapak aslinya mana?&lt;/em&gt; Tanya ummi. &lt;em&gt;Kok logatnya beda...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ooo.. saya asli Surabaya...&lt;/em&gt; Ahaa... tepat sudah!&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya nJombang pak!&lt;/em&gt; Sahut saya tanpa lupa membubuhi huruf n di depan Jombang.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Peterongan, Cukir, Mojoagung, Mojokerto...&lt;/em&gt; Katanya mengabsen kota-kota seputaran Jombang dengan fasih.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mojoagung pak!... Mojoagung!&lt;/em&gt; sergah saya.&lt;br /&gt;Lalu obrolan mengular ke soal tempat tinggal, dari mana dia barusan dan sedang apa dia di sini. Kami juga bertukar cerita dengan topik serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Adik mau kemana?...&lt;/em&gt; Tanyanya pada Najla yang sedari tadi melihati kami riuh berbincang. Najla menunduk malu.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mau sungkem ke eyangnya pak... mau romadon&lt;/em&gt; Jelas saya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oh ya ya...&lt;/em&gt; Tukasnya mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mohon diri sembari mengucapkan terima kasih atas simpati dan bantuannya. Ia membalikkan badan menyeberang jalan. Saya bersama ummi dan Najla melanjutkan perjalanan yang tertunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kejadian kesekian, bertemu orang yang bersikeras merasa telah pernah berjumpa sebelumnya dengan saya. Sementara saya merasa belum pernah bertemu sekalipun dengannya. Mungkin tampang saya cukup ramai di pasaran. Atau mungkin beginilah cara tak terduga Tuhan mengirimkan seorang kawan (baru). Ah kok jadi tebak-menebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oh ya! Gimana kabar sampeyan Pak Subakir? Matur suwun Pak!&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112902197201224087?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112902197201224087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112902197201224087&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112902197201224087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112902197201224087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/10/kita-pernah-ketemu-saya-kok-kayaknya.html' title='Pernah Ketemu'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112840164263948486</id><published>2005-10-04T09:33:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:54:38.542+07:00</updated><title type='text'>Kagetan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/45/89/15458990/42-15458990.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama juga saya tak menulis. Sejak tersengat ingatan lama untuk lugas 'bertidak', saya belum lagi menulis. Terlalu banyak 'kekagetan' yang hadir di depan mata dan menyita pikiran saya yang cupet ini. Dan saya merasa belum banyak beranjak. Masih saja 'kagetan', &lt;em&gt;'nggumunan'&lt;/em&gt; - terpesona -, dan 'tidak habis pikir'. Ah, saya masih selemah-lemahnya manusia. Belum bisa 'memindahkan' rasa kaget, &lt;em&gt;nggumun&lt;/em&gt; dan 'tidak habir pikir' untuk memandangi 'ayat-ayat' yang bertebaran di mana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa-rasa itu toh tak akan banyak 'memberi diri sesuatu' kecuali impresi semata, bila saya tak berefleksi dengannya. Berefleksi pun tak akan 'menggurat' apa-apa jika itu berhenti menjadi 'kegenitan' emosi saja. Ah, ternyata rumit juga berusaha 'menjadi' baik. Begitu kata hati kecil saya seraya tersenyum kecut pada suatu ketika. Saat menyadari bahwa agar hati 'sederhana', 'ringkas' dan 'apa adanya' dalam bersikap memerlukan 'kerja' tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja apa? Wah ini pertanyaan pendek yang panjang dan ragam jawabannya. Sambil bercanda, saya pernah berkata pada seorang teman kerjanya ya kerja pasukan kuning, itu lho 'kerja bersih-bersih'. Teman ini, gak &lt;em&gt;ngeh&lt;/em&gt; dengan tamsil itu. Wajah tanda tanyanya mengharap penjelasan lebih. 'Kalau badan saja setelah seharian beraktivitas rasanya kotor, dekil dan tak enak sehingga kita ingin cepat-cepat &lt;em&gt;nyebur&lt;/em&gt; ke bak mandi, apalagi hati yang sepanjang umur bekerja tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hati memang bukan badan, di mana rasa gerah dan tak enak bisa cepat terasakan. Hati - yang katanya demikian halusnya - sehingga tak mudah tergejala bila sudah tak 'nyaman' kondisinya. Terlebih lagi, hati adalah sesuatu yang tak tetap sifatnya. Sangat mudah berbolak-balik, seperti sabut dipermainkan gelombang lautan. Sebentar terbersit tak mau begitu, tapi sejurus kemudian malah berbuat lebih dari begitu. Lalu akal yang senantiasa cerdas, secepat kilat memproduksi alasan, mau se-paragraf, se-bab, atau berjilid-jilid, tinggal pesan. Dalam sekedipan, jadi dan tinggal paparkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lagi yang perlu saya ingat juga, soal 'membuka' hati adalah hak prerogratif Sang Penciptanya. Memahami ini, terus terang otak saya yang cupet tak mampu mencapainya. Tapi seperti juga hukum logis yang kita pahami, tak cukup cuma ingin harus ada usaha dan bukti. Bukti akan keteguhan mencari dan menjaga. Bila yang sudah cukup dekil kurang dijaga sehingga makin dekil lagi, bagaimana keteguhan didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, akal yang cerdas dan hati yang bolak-balik adalah komplot yang piawai di ruang gelap. Mampu memerankan peran dan adegan apapun dalam ruang dan waktu kapanpun. Karenanya 'kecerdasan' akal yang bisa dibaca sebagai kemahiran meliuk-liukkan diri di bawah cahaya abu-abu akibat angan yang mengimpi kesenangan yang melebihi kecukupan diri, perlu diikat erat-erat. Diikat dengan temali hati yang lembut tapi kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merindu lagi 'sederhana', 'ringkas' dan 'apa adanya'. Padahal banyak yang telah saya lupa a-b-c-nya. Ah! mulai saja dari yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mohon maaf atas segala kekhilafan, kesalahan dan kecongkakan. Semoga kita tak lagi mampu mengelak dari deras cahaya ridha-Nya. Sesungguh-sungguhnya, kitalah anak bandel yang senantiasa ingin berlari dari dekapan penuh rahmatan. &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112840164263948486?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112840164263948486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112840164263948486&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112840164263948486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112840164263948486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/10/kagetan-nggumun-lama-juga-saya-tak.html' title='Kagetan'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112790511740449749</id><published>2005-09-28T17:32:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:55:05.367+07:00</updated><title type='text'>Tidak!!!</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/21/25/15212564/42-15212564.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak! Tadi mustinya saya langsung bilang tidak. Jangan. Tak usah. &lt;em&gt;No Way!&lt;/em&gt;. Tapi lidah saya tak bilang begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata saya harus menidakkan hati sendiri kalau mau lidah lugas mengucap tidak di hadapan mereka. Ya... saya harus bertidak pada hati. Pokoknya tidak! Titik!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112790511740449749?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112790511740449749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112790511740449749&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112790511740449749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112790511740449749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/09/tidak-tidak-tadi-mustinya-saya.html' title='Tidak!!!'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112782055010054763</id><published>2005-09-27T17:41:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:55:37.929+07:00</updated><title type='text'>Sampah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/36/82/15368223/42-15368223.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup lebih modern memang seakan-akan menyelesaikan masalah. Tenaga tak banyak terkuras, waktu tak banyak terbuang dan kinerja juga lebih meningkat. Sebelum &lt;em&gt;mixer&lt;/em&gt; ada, mengocok telur untuk membikin kue dilakukan dengan tangan. Lengan esde saya yang tak seberapa daya tahannya, selalu minta istirahat tiap beberapa kali mengayunkan tongkat pengocok. Berkali-kali saya bertanya pada ibu, apakah telurnya sudah cukup mengembang. Ketika gelengan kepala yang saya dapat, seketika keluh membersit dalam hati. Kini dengan &lt;em&gt;mixer&lt;/em&gt; tak perlu ada bayangan lengan pegal-pegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mixer&lt;/em&gt; berfungsi bila ada catu daya, yaitu listrik. Listrik bisa mengalir bila pembangkitnya yang digerakkan oleh air, solar atau sumber tenaga lainnya terjamin pasokannya. Bila tidak, lupakan listrik. Kita kembali ke tenaga otot berbahan bakar nasi. Memanfaatkan cahaya api untuk penerangan di malam hari. Kondisi demikian tak terbayangkan. Sangat menyusahkan. Air, kebutuhan utama yang harus selalu tersedia, terpaksa musti diirit-irit. Sebab pompa air tak bisa berfungsi. Setengah hari saja listrik mati, banyak rumah tangga yang kelimpungan. Belum lagi bila dihitung dengan mereka yang memanfaatkn listrik untuk memutar roda bisnis. Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini gambaran kecil tentang kemodernan. Di satu sisi menciptakan kemudahan, tapi di sisi lain kemudahan itu ternyata membutuhkan ongkos yang mahal. Sebagai contoh polusi. Bahan buangan baik berupa sampah padatan, cair atau gas menimbulkan pening kepala karena tak mudah hilang. Keberadaanya membawa dampak negatif terhadap manusia, alam dan makhluk lainnya. Akhirnya keseimbangan sebuah ekosistem terganggu. Manusia yang berada pada tingkat tertinggi piramida yang paling banyak menuai dampak negatifnya. Muncullah penyakit-penyakit yang menjangkit tubuh manusia. Makin hari makin ragam dan berubah jenisnya. Bikin pusing kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memproduksi hidup modern juga membutuhkan bahan baku yang banyak. Untuk bangunan dan perabot juga infrastruktur lain kita butuh kayu. Demikian pula untuk kertas tempat menumpahkan gundah hati, butuh pohon sebagai bahan baku. Akibat keserakahan ekonomi, manusia menebangi pohon menggunduli hutan. Sungai-sungai surut akibat sumber air menyusut. Tak ada lagi skar-akar pepohonan yang mengikat air yang dikirim dari langit. Bila penghujan, banjir seolah sudah melanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama kemudahan hidup modern, manusia sangat biasa mengukur sesuatu atas dasar durasi waktu dan daya minimal yang terpacu. Tetapi lupa memperhatikan berapa jumlah unsur alamiah yang dibutuhkan untuk menghasilkan kemudahan itu. Juga berapa banyak sampah dan kotoran yang dibuang ke lingkungan untuk mendapat kemudahan itu. Manusia dalam kondisi ini menjadi makhluk yang sangat tidak sadar ekonomi, karena tak menghitung pemasukan dan pengeluaran secara seimbang. Hanya sisi pendapatan saja yang dikejarnya, sementara sisi lainnya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, suatu waktu, satu hari saja! Ya... cukup satu hari saja kita menyempatkan menengok tempat sampah di rumah. Agar tahu, berapa banyak sampah yang kita hasilkan dalam satu hari. Seperti yang dilakukan teman-teman kecil di sekolahnya di selatan Jakarta. Sampah dalam pemahaman yang mereka pelajari bukanlah sesuatu yang harus dibuang dan dijauhi. Sampah dalam istilah mereka adalah tabungan. Maka setiap hari sampah-sampah yang mereka hasilkan dari aktivitas mereka adalah tabungan untuk hari esok mereka. Mereka akan memilahnya, mana yang bisa dimanfaatkan untuk aktivitas lainnya dan  mana yang memang benar-benar tak lagi dapat didaurulang sehingga harus dienyahkan secara bijak, selaras dengan semangat alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah, menurut hemat saya memang tabungan. Tetapi tabungan ini bukanlah celengan semar atau ayam jantan. Tapi tabungan amunisi yang suatu waktu siap meledak mencederai kehidupan anak manusia. Dan itu sudah pernah terjadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112782055010054763?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112782055010054763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112782055010054763&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112782055010054763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112782055010054763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/09/sampah-hidup-lebih-modern-memang.html' title='Sampah'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112720131614499252</id><published>2005-09-20T13:03:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:56:06.260+07:00</updated><title type='text'>Cakrawala Kesemestian</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/31/52/15315298/42-15315298.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam, waktu masih belum larut benar, dari atas motor tampak oleh saya bulan sedang purnama. Ia seakan-akan berlari petak umpet di antara tajuk-tajuk pohon. Sejenak saya terpana. Menengadah, mengarahkan pandang ke langit utara. Sebuah pemandangan yang tak selalu bisa saya temui tiap malam. Entah karena langit berselubung mendung atau saya yang tak ingat kapan purnama tiba. Maka pada purnama semalam, saya menemukan impresi yang sudah lama terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan tentang bulan bulat penuh bersinar terang, seakan terbang rendah di atas petak sawah yang tergenang air. Kesan yang melekat dari masa kecil saya. Atau di atas padang rumput di atas punggung gunung, berpagar jajaran pinus menjulang kelam. Sebuah impresi yang terpungut saat semangat menjelajah alam menjadi nafas dambaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan purnama masa kecil, atau sepuluh tahun silam dan masa kiwari tetaplah bulan yang sama. Keindahan yang terindera pun keindahan yang kurang lebih sama. Tapi tetap ada kesan yang berbeda di antara ketiganya. Lokasi, situasi, dan lansekap yang berbeda, memang mempengaruhi kesan yang dituai. Tapi saya rasa ada lagi yang menentukan yaitu bagaimana diri kita menyambungkan rasa dengan alam. Meletakkan entitas kita lebur dalam kosmis semesta. Untuk kemudian tiba pada tunas kesadaran yang bertumbuh, kesadaran akan tak terpisahkannya diri kita dengan alam. Dan seperti alam yang senantiasa berendah hati, kita bertahu diri untuk bercukup dan berhenti pada titik batas yang garisnya kita gores sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, garis ini memang harus kita gores sendiri. Bukan oleh orang lain, sebab berapa cepat orang berlari dan berapa jauh ia mampu berjalan hanya dirinyalah yang mengetahui. Alam menyediakan bacaan. Matahari, bintang, pohon, batu dan rembulan adalah huruf-hurufnya. Kerendahhatian dan ketahudirian menjadi kacamatanya. Kalau tidak, kita sulit keluar dari keadaan &lt;em&gt;"seolah-olah"&lt;/em&gt;. Untuk masuk kecakrawala kesemestian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112720131614499252?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112720131614499252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112720131614499252&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112720131614499252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112720131614499252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/09/cakrawala-kesemestian-semalam-waktu.html' title='Cakrawala Kesemestian'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112667411860528876</id><published>2005-09-14T10:36:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:56:36.331+07:00</updated><title type='text'>Tidak Pasti</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/21/36/15213671/42-15213671.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mengajukan pertanyaan ini ke istri. Sebenarnya orang yang kuat itu seperti apa? Dia terdiam, tak segera menjawab. Matanya lurus menatap jalanan lengang yang lekang oleh panas kemarau. Sebelum akhirnya menoleh dan menatap saya. Tatapan meminta saya menjawab sendiri pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, mata saya juga menatap lurus ke depan. Terfokus pada ujung pertigaan, kelokan ke kanan. Beberapa detik yang lalu, kelokan itu telah menelan punggung pedagang buah. Ada tiga empat sisir pisang tergolek di dua keranjang yang terayun di pikulan. Pisang-pisang yang sebenarnya belum cukup umur untuk dipanen. Wajah pedagang itu datar, tak tertera kesal dan susah di situ. Meski bulir-bulir keringat tak henti menetes dari garis topinya yang lusuh. Mulutnya berteriak menawarkan dagangan dalam irama  yang terjaga. Saling meningkahi dengan ayunan langkah kaki. Entah berapa tahun berlangsung untuk tiba pada harmoni ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya apa? Suaranya memangkas jejalar pikiran saya. Saya menarik napas sejenak. Menurut hematku, orang kuat itu orang yang tenang dan penuh keyakinan tetap berusaha meskipun &lt;em&gt;ketidakpastian&lt;/em&gt; menghadang pada tiap detik yang bergulir ke muka. Itulah yang kumaksud sebagai orang kuat. Berusaha pada jalur yang lurus lagi benar, tak tergoda untuk serong. Lalu yakin, bahwa ketidakpastian hanyalah wujud ketidakmampuan manusia mengatur dan mengendalikan semua faktor yang berkaitan dengan nasib dan dirinya sendiri, sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dalam ketidakpastian tadi, ia yakin telah menanti sebuah kepastian. Mengenai kapan, di mana dan berapa, lagi-lagi keterbatasan manusiawi tak bisa menjangkaunya. Keyakinan dan kebutuhan adalah bara yang mendidihkan semangat agar tak mudah pupus. Menyerah pada ketidakpastian atau tergoda serong serta bertindak instan tanpa mengindahkan martabat kemanusiaan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagang buah tadi, adalah orang kuat. Kita patut hormat padanya. Dan belajar padanya. Bagaimana berusaha dan yakin di tengah ketidakpastian yang kita cipta sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112667411860528876?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112667411860528876/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112667411860528876&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112667411860528876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112667411860528876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/09/tidak-pasti-saya-pernah-mengajukan.html' title='Tidak Pasti'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112615729741898883</id><published>2005-09-08T12:03:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:57:02.836+07:00</updated><title type='text'>Cahaya Kaca</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/37/34/15373421/42-15373421.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaca adalah sebuah tabir yang dapat meloloskan cahaya. Sebagai tabir ia menjadi pembatas dua ruang. Sehingga udara dan suara tak leluasa bertukar di antara keduanya. Hanya cahaya saja yang bisa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri menatap jendela berkaca patri warna-warni saat pagi hari, memberi kesan yang khas pada mata. Cahaya matahari menerobos jendela lalu terspektrum sesuai warna kaca patri yang dilalui. Kita biarkan mata bersimbah cahaya aneka warna. Cahaya pagi nan lembut membasuh mata bagai pita sutera aneka warna. Padahal sejatinya, cahaya itu satu saja warnanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sejatinya warna mula cahaya tadi? Mata, tak pernah benar-benar dapat meneranya. Hanya hamburan aneka warna yang bisa ditinjau mata. Sebanyak pasang manik mata yang ada di atas dunia, itulah warna yang dikenal manusia. Oleh karena itu, rasanya sia-sia memperdebatkan gerangan berwarna apa cahaya pagi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memafhumi malam, tampaknya sulit pagi ketupa menamatkan pagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112615729741898883?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112615729741898883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112615729741898883&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112615729741898883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112615729741898883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/09/cahaya-kaca-kaca-adalah-sebuah-tabir.html' title='Cahaya Kaca'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112598515416897608</id><published>2005-09-06T08:52:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:57:31.863+07:00</updated><title type='text'>Tongtek</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/53/52/15535222/42-15535222.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tongtek, sebuah tempat yang mengingatkan saya pada jembatan berpagar besi di makan karat di sana-sini. Rumah-rumah papan saling berhimpit menyisi sungai. Ibu-ibu yang mencuci pakaian dengan air kali pekat kecoklatan, sementara di dekatnya anak-anak mandi mencebur sungai dengan riang gembira. Di atas jembatan sebuah metro mini bercat jingga kusam ngetem menanti penumpang. Lalu tepat di seberangnya, sebuah pertokoan berdiri menggantikan tapak penjara Bukit Duri. Penjara yang pernah menawan &lt;a href="http://www.pdat.co.id/hg/apasiapa/html/P/ads,20030625-40,P.html"&gt; Pram&lt;/a&gt;,  kala jaman revolusi. Penjara yang berdiri menggantikan loji milik VOC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu beberapa kilo meter ke arah barat ada kampung, Pal Meriam namanya. Di sinilah dulu sebuah pal berdiri menandai titik terjauh peluru meriam loji mampu menjangkau. Semantara agak ke tenggara ada tempat yang dulu berjuluk Rawa Bangkai, sebelum bersulih menjadi Rawa Bunga, kini. Lagi-lagi konon, dulu tempat ini adalah rawa, di mana para prajurit Mataram banyak yang tewas di sana. Mungkin karena malaria, mungkin juga sebab kolera atau kepedihan peperangan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas jembatan itu, saya biasanya melintas. Kemudian menyeberang jalan, lalu masuk sebuah gang menuju pasar. Gang kecil yang pada beberapa ruas lebarnya tak lebih dari dua meter, masih juga dipakai tempat berjualan di tepi kiri dan kanannya. Ada penjual buah, alat dapur, pakaian, makanan dan daging babi. Ya, penjual daging babi. Penjualnya seorang tionghoa tua berkacamata tebal dengan kabel alat bantu dengar menjulur keluar. Bila tak terlalu siang melintas di gang itu, saya mendapati sepotong besar masih menanti pembeli. Dari situ saya sedikit tahu seperti apa bentuk, warna dan baunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab sebelumnya saya tidak pernah tahu seperti apa daging babi itu. Waktu saya kecil saya memang sering ikut mbak ke pasar. Lalu kemudian setelah agak besar ke pasar sendirian. Tapi di pasar-pasar itu tak secuilpun di jual daging hewan ini. Mengapa? Alasan logisnya karena di kawasan sekitar pasar itu penyantap daging ini sangat sedikit. Yang dominan yang tidak memasak daging ini karena keyakinannya tidak membolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang membedakan dengan Gang Tongtek di Jatinegara. Sebagai sebuah pasar besar dengan kawasan sekitar banyak dihuni oleh peminat masakan dari daging ini, logis bila ada yang menjualnya di sini. Pembeli potensial ada maka wajar bila barang juga tersedia. Logika ekonomi berlangsung dengan wajar di sini. Tak perlu ada kekhawatiran penjualannya bertentangan dengan kearifan menenggang keyakinan. Karena ada kaidah yang wajar dan terang yang melandasi keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari babah tionghoa tadi, duduk penjual ikan dan udang berlogat madura kental. Di seberangnya, beberapa depa, ada penjual ikan asin dan ikan kering. Di sisi penjual ikan asin, ada penjual makanan matang dan kue kering. Agak jauh, dengan aksen minang, uda tak berhenti menawarkan pakaian kepada setiap pelintas gang. Cara yang sama juga ditempuh penjual perabot dapur. Ia menyapa pejalan kaki sembari meningkahi dengan denting tetabuhan alat dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan babah tionghoa, ia bergeming duduk di kursi kayu kecilnya. Tak sepatah kata keluar dari mulutnya, menawarkan dagangan. Rasanya ia sadar, yang datang padanya adalah mereka yang memang menggemari dan membutuhkan dagangannya. Maka tak perlu sibuk menawar-nawarkan kepada orang-orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112598515416897608?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112598515416897608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112598515416897608&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112598515416897608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112598515416897608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/09/tongtek-tongtek-sebuah-tempat-yang.html' title='Tongtek'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112555666440635298</id><published>2005-09-01T11:54:00.003+07:00</published><updated>2011-03-24T23:57:58.084+07:00</updated><title type='text'>Mauludan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/14/06/00/14060026/AX046376.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sholat gak boleh dilanggar!&lt;/em&gt;. Ini guyonan garing bin basi. Pasti kita semua pernah dengar. Sekarang saya mau cerita tentang langgar yang boleh untuk sholat. Yaitu langgar alias musholla di kampung saya. Kampung halaman saya nyempil di sudut &lt;a href="http://jombang.go.id./"&gt; Jombang&lt;/a&gt;. Sebuah desa kecil yang dilalui oleh dua sungai sebesar Ciliwung, yang kemudian menyatu membentuk &lt;em&gt;tempuran&lt;/em&gt; - pertemuan dua sungai - di belakang rumah. Di kali itu saya belajar berenang, &lt;em&gt; gogon&lt;/em&gt; - menangkap udang dengan tangan, memerangkap udang dengan umpan &lt;em&gt;yuyu&lt;/em&gt; - kepiting sungai, dan kadang-kadang patungan membeli &lt;em&gt;potas&lt;/em&gt; untuk menuba ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah diketahui, Jombang tempat lahirnya &lt;a href="http://nu.or.id/"&gt; NU&lt;/a&gt;, organisasi massa islam dengan ummat jutaan. Wajar bila penduduk desa saya mayoritas menjadi jamaahnya. Termasuk keluarga embah saya. Ibu saya menempuh pendidikan dasar dan menengahnya di pondok. Tapi ketika sekolah lanjutan atas, beliau meneruskan di sekolah milik &lt;a href="http://muhammadiyah.or.id/"&gt; Muhammadiyah&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://jogja.go.id/"&gt; Jogja&lt;/a&gt;. Embah kakung membolehkan tapi dengan satu syarat, harus tinggal mondok di pondok pesantren. Maka jadilah beliau sekolah di sekolah &lt;a href="http://muhammadiyah.or.id/"&gt; Muhammadiyah&lt;/a&gt; dan tinggal mondok di Pondok Pesantren &lt;a href="http://krapyak.org/"&gt; Krapyak&lt;/a&gt; yang notabene &lt;a href="http://nu.or.id/"&gt; NU&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah jadi masalah? Sepanjang cerita yang saya dengar tak ada masalah berarti. Semua berjalan baik-baik saja. Tentang perbedaan kecil dalam beribadah, saya belum pernah tanya pada ibu, bagaimana beliau waktu itu menyikapi. Sebab saya pun enggan bertanya, karena ini bukan hal substansial menurut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menginjak kanak dan sudah mulai pergi ke langgar untuk sholat magrib dan isya, seperti juga saudara-saudara saya, saya pergi ke langgar &lt;em&gt;De Aqim&lt;/em&gt;. Lalu setelah beliau berhaji, kami memanggilnya &lt;em&gt;Abah&lt;/em&gt;, semoga Alloh SWT melapangkan kuburnya. Beliau mantri kesehatan yang bila tiap sore sehabis ashar ramai sekali pasiennya mengantri. Layaknya tradisi yang sudah ada, pada hari-hari tertentu di langgar diadakan selamatan. Masing-masing keluarga yang tinggal seputaran langgar membawa baki berisi makanan untuk nanti disantap bersama setelah doa dibaca. Demikian pula dengan keluarga saya. Bila masih sisa - dan biasanya pasti tersisa - jamaah mem&lt;em&gt;berkat&lt;/em&gt;nya dalam bungkusan daun pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling khas bila &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Maulid_Nabi_Muhammad_SAW"&gt; Maulud Nabi&lt;/a&gt; menjelang . Remaja dan pemuda-pemuda jamaah langgar kami akan sibuk menghias langgar. Guntingan kertas minyak warna warni berlubang-lubang aneka pola dibentangkan silang menyilang di langit-langit langgar. Di luar ditancapkan beberapa bambu dengan sumbu lampu minyak tanah mencuat di tiap ruas. Kala malam mauludan tiba, langgar kami semarak oleh benderang nyala obor dan lampu minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah isya dan doa-doa, dimulailah pembacaan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Barzanji"&gt; Barzanji&lt;/a&gt;. Yang unik, beberapa anak muda yang peduli musik mengganti melodi Barzanji dengan melodi lagu yang sedang ngetop saat itu. Di jaman itu tentu saja dangdut Rhoma Irama dengan Soneta Grupnya. Beberapa pemuda dua tiga hari sebelumnya melatih diri dengan melodi yang dia pilih. Dan di antara mereka hal ini menjadi perbincangan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kami anak-anak kecil yang dinanti-nanti adalah saat Barzanji khatam dilagukan. Semua kami dengan deg-degan menanti sembari bersiap-siap pasang kuda-kuda. Karena pada saat itulah &lt;em&gt;Abah&lt;/em&gt; akan melambaikan tangan dengan genggaman penuh uang logam. Bersamaan dengan denting keping logam bergemerincing, kami anak-anak sibuk memunguti uang recehan lima, sepuluh dan dua puluh lima rupiah. Sejenak suasana yang sebelumnya haru biru berubah kacau dengan celoteh suara kanak yang berebutan memunguti uang recehan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua recehan habis tak bersisa, suasana kembali tenang. Anak-anak dengan riang menggenggam  erat recehan perolehannya di telapak tangan. Sebagian memasukkannya di saku pakaian. Terbayang besok bisa jajan kerupuk upil, es &lt;em&gt;thung thung&lt;/em&gt; atau memberi emak tambahan untuk membeli beras. Lamunan tak boleh lama-lama, karena saatnya kenduri telah tiba. Baki-baki berisi makanan disorongkan diletakkan melingkar di depan jamaah yang bersila. Mulailah mata-mata mungil mengintip-intip dari celah penutup daun pisang, lauk apa gerangan yang bersemayam di dalam. Ada yang berbinar-binar seketika, ada pula yang sekonyong-konyong muram wajahnya. Beberapa anak harap-harap cemas parasnya, karena daun pisang menutup sempurna baki di mukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berbinar mungkin menengarai ada paha ayam bersemayam di dalam, padahal ketika penutup dibuka ternyata monyong mulut bandeng yang ada. Serentak yang lain tersedak menahan tawa. Tak apalah masih bandeng, lumayanlah. Yang harap-harap cemas, wajahnya makin lemas, sebab ternyata baki di mukanya isinya kue apem semua. Maka ia bergabung ke sebelah santap kendurinya. Sedang yang sebelumnya tak bergairah menyangka cuma mendapat urap saja, kontan girang bukan alang kepalang hampir-hampir bersorak dan tepuk tangan, karena mendapati sepasang paha ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada-ada saja kelakuan anak-anak. Entahlah kini, apakah Mauludan masih penuh riang seperti dahulu lagi??&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112555666440635298?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112555666440635298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112555666440635298&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112555666440635298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112555666440635298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/09/mauludan-di-langgar-sholat_112555666440635298.html' title='Mauludan'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112546620450088322</id><published>2005-08-31T10:17:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:58:29.927+07:00</updated><title type='text'>Keping Uang</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/14/45/28/14452859/40146-30.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada sengketa atau masalah antara dua pihak lalu dilanjuti dengan berhantam tanpa atau dengan alat aneka macam, kita kecam sebagai penyelesaian ala manusia purba. Maksudnya tidak beradab dan mengindahkan harkat mulia makhluk manusia. Sebab sebagai makhluk paling mulia di bawah cakrawala, semestinya manusia bertindak dialasi etika dan perilaku yang mulia pula. Meskipun itu sebuah perselisihan yang menggeramkan dan membakar ubun-ubun, namun hendaklah akal budi yang diutamakan. Bukan amarah atau emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tak tepat bila sikap seperti itu diidentikkan dengan perilaku orang purba. Meski dalam sebagian budaya-budaya lama kita temui adu kekuatan sebagai penyelesaian permasalahan, namun pelaksanaannya memakai aturan yang ketat. Walaupun itu kelahi, bukan berarti segala cara untuk menang dibolehkan. Ada aturan main yang menjunjung nilai-nilai kesatriaan seumpama; tidak boleh membokong, menyerang lawan ketika posisinya tidak memungkinkan melawan dengan seimbang, mengeroyok lawan tanpa sepengetahuan dan lain-lain cara yang dipandang curang. Cara seperti ini dipandang nista, kemenangan kalaupun diraih sudah pasti akan dipandang hina oleh khalayaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebagai sebuah cara penyelesaian, kelahi mungkin mewakili cara masa lalu. Masa ketika sistem hukum belum mengatur aspek sosial secara menyeluruh. Meskipun cara ini kurang beradab, namun dalam pelaksanaannya ada adab-adab. Ada nilai-nilai kesatriaan atau yang dikenal sekarang sebagai &lt;em&gt;fairplay&lt;/em&gt;. Mari bertarung tapi harus dalam kondisi, posisi dan kesempatan yang seimbang, kira-kira begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang menyebabkan cara tarung semacam ini dibilang purba, adalah karena rasio, akal sehat dan budi pekerti tidak diindahkankan sebelum diambil tindakan. Perilaku semacam ini cenderung naluriah dan reaktif. Tak ada pikir panjang. Apalagi semangat komunal yang terseleweng makin mudah mendidihkan adrenalin para anggota kelompok. Keberanian seseorang bisa seketika berlipat ganda bila ia berada di tengah kelompok. Beda jauh bila ia sendirian terlepas dari induk kawanannya. Mengenai ini ada kesamaan sedikit dengan naluri kawanan karnivora strata tengah yang mengandalkan perkomplotan dalam melumpuhkan buruan. Meski buruannya hewan lebih kuat dan besar, tiap-tiap individu dalam kawanan nyalinya membesar. Tetapi ketika mereka, terpisah dan terbuang sehingga harus hidup soliter, nyali dan kegarangan itu serta merta hilang. Yang tampak justru sikap mengharap belas kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhir delapan puluhan berseragam abu-abu, saya tak pernah habis pikir mengapa kawan-kawan saya sesama pelajar tingkat atas itu tawuran. Bertarung tanpa kekesatriaan, saling berusaha menghabisi lawan. Bukan lagi sekedar mengalahkan, melumpuhkan atau mencederai sekedarnya, tapi menghabisi sampai ajal. Alasan yang kerap didengungkan mirip kredo para serdadu ketika jaman perang. Kalau saya tidak menyerang, saya akan diserang, nyawa saya pasti terancam. Begitu menyeramkan, sehingga tak layak kalau beberapa kelompok pelajar itu hari-harinya dihantui rasa was-was. Mungkin mendekati paranoid barang kali. Akibatnya tak jarang korban yang sendirian atau berdua-bertiga diserang sekelompok besar hingga jatuh korban jiwa - ternyata bukan sasaran yang mereka cari. Teriakan korban yang menyatakan kalau dia dari sekolah anu bukan anu seakan-akan sorakan yang menyemangati. Menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu waktu, oleh sebuah sebab sekolah saya didatangi oleh sekolah lain yang cukup jauh jaraknya. Meski sudah mencapai bibir gerbang, tapi mereka tak masuk ke halaman. Mungkin kesigapan petugas pengamanan, atau bisa jadi mereka jeri juga bila harus bertarung di dalam. Karena ibarat masuk sarang macan, sementara pintu keluar hanya satu, ya gerbang itu. Di sisi lain, dari sekolah saya tak banyak yang tertarik terlibat melayani tantangan ini. Akhirnya karena situasi tak mendukung, kelas siang diliburkan. Siswa disarankan mengganti baju seragam, agar badge nama sekolah tak terpampang di lengan. Tentu tak lupa diingatkan agar hati-hati di jalan kala pulang. Berikut daftar panjang kiat-kiat membaca keadaan dan menghindari kesialan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah seketika sepi mencekam, hanya ada beberapa senior berkumpul di kantin. Saya menggabung turut mencuri dengar percakapan mereka. Seseorang cerita dengan semangat keberhasilannya mencegat metromini yang separuhnya ditumpangi siswa sekolah kami. Menyuruh mereka turun dan mencari jalan lain untuk pulang, sebab beberapa ratus meter di depan siswa sekolah yang berseteru telah menunggu. Beberapa yang lain juga bercerita tentang detil &lt;em&gt;penyerbuan&lt;/em&gt; tadi. Tapi tentu saja sulit dicek kebenarannya. Sampai tiga hari kemudian, suasana tegang masih terasa. Meski antarkepala sekolah sudah mencapai kesepakatan untuk mendamaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah atau lembaga pendidikan tentulah tempat orang-orang yang terdidik. Orang yang belajar menggunakan pikiran dan akal sehat ketika menghadapi persoalan. Tapi di masa itu - dan masa-masa sesudahnya juga masih terjadi - tawuran di antara para pelajar masih saja berlangsung. Pelajar, bagi mereka yang demikian tak lebih identitas semata. Karena pada kenyataannya perilaku mereka bertolak belakang dengan pelajaran yang mereka pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa heran saya kian bertambah, ketika ternyata fenomena tawuran tak hanya terjadi pada murid sekolah menengah, tetapi juga mahasiswa. Mahasiswa secara usia tentunya lebih tua dari pelajar. Sejalan dengan itu selayaknya mereka juga lebih dewasa dan matang pemikirannya. Tak sereaksioner murid es el te a. Lagi-lagi kenyataan berbeda, predikat boleh mahasiswa tapi soal tawuran tetap sama. Dilakoni juga. Terlepas apa sebabnya dan pihak mana yang kurang benar atau banyak salah, tawuran tetaplah tawuran yang merugikan semua pihak yang terganggu akibat perseteruan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah-sudah, masa orientasi mahasiswa baru adalah masa yang rawan tawuran. Terlebih lagi bagi, beberapa perguruan tinggi yang memiliki &lt;em&gt;tradisi&lt;/em&gt; ini. Dari tahun ke tahun terjadi, hanya berbeda intensitas dan frekuensi. Seakan-akan tak ada penyelesaian yang bisa tuntas menghentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dulu jaman masih orba dan saya juga mahasiswa, saya merasa jengah juga. Mahasiswa mengejek dan menggugat kaum serdadu karena kekerasan yang mereka lakukan pada rakyat dan mahasiswa. Sementara mahasiswa lama - yang sangat mungkin sebagian dari mereka termasuk yang ikut mengejek dan menggugat itu - melakukan kekerasan dan keburukan atas nama kegiatan orientasi pada mahasiswa baru. Kadang juga pada sesama mahasiswa, meski beda jurusan atau fakultas, atas nama tawuran oleh sebab yang sulit diterima akal pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia dan hari-hari yang kita jalani adalah sekeping mata uang. Di mana suatu yang kita yakini, amalkan, upayakan dan perjuangkan terhampar di satu sisi. Sedang di sisi sebaliknya telah bersiap ujian demi ujian terhadap konsistensi kita menggenggam yang kita yakini, amalkan, upayakan dan perjuangkan itu. Dan sangat mungkin ujian itu hadir dalam rupa, waktu, dan intensitas yang berbeda. Tapi secara azasi ia sama persisnya. Hadir menguji dan mencobai seberapa kuat dan dalam kita menjiwai apa yang kita yakini dan kita perjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita selalu dalam bertahu dan bersadar diri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112546620450088322?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112546620450088322/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112546620450088322&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112546620450088322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112546620450088322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/08/kekerasan-dan-keping-uang-bila-ada.html' title='Keping Uang'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112529143127428617</id><published>2005-08-29T11:11:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:59:12.733+07:00</updated><title type='text'>Pasar Blok M</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pengujung januari, dengan langkah satu dua saya menuruni anak tangga. Sengaja saya tak berjalan melingkar, memutari ceruk dengan anak tangga menurun di sekeliling. Meski harus ekstra naik turun, tapi saya lebih suka. Berada ditengah ceruk dikelilingi dinding tegak dengan jendela-jendela kusam, memberi kesan yang berbeda. Suara cakap manusia terpantul menggema panjang, seakan-akan datang dari dunia lain. Tak tampak lalu lalang orang, juga kesemrawutan laiknya sebuah pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu beberapa saat, semua indera coba saya hadirkan di situ. Seakan tak ingin kehilangan momen sesaat itu. Lalu semuanya menghilang bersamaan dengan tertelannya tubuh saya oleh pintu kaca bersaput debu, dekil. Kaki saya menaiki anak tangga menuju lantai dua. Lorong-lorong sempit terhimpit barang dagangan membentuk gang-gang yang membingungkan. Saya mendekat ke sebuah kios penjual aneka plastik. Pemiliknya duduk terkantuk-kantuk di balik tumpukan gulungan plastik. Saya lewatkan saja, tak tega membangunkannya dari mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusur mengikuti alur gang, saya mencari kios lain yang memajang barang yang saya inginkan. Tas dari terpal plastik. Tas yang cukup praktis, kuat, kedap air dan murah. Cocok untuk mengepak peralatan elektronik. Tak terasa saya melewati pedagang terkantuk tadi. Sejurus di muka, tampak tas yang saya cari digantung. Berapa? Tanya saya pada ibu paroh baya penjualnya. Sepuluh ribu, jawabnya. Lima, ujar saya menawar. Akhirnya harga putus pada angka tujuh ribu lima ratus. Empat buah tas dibungkusnya untuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membayar saya bergegas turun. Kembali melalui rute tadi. Mendengar percakapan menggema panjang, menurun-naiki undakan anak tangga. Lalu melipir tepi gedung. Sebelum menghilang ke perut mal bawah tanah hendak menyeberang ke sisi sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis minggu lalu terakhir saya kesana - &lt;em&gt;dan sepertinya telah menjadi yangg terakhir kali&lt;/em&gt;. Saat itu saya tak melewati ceruk itu. Saya agak tergesa, saya melintas di sampingnya. Tak ada gema suara yang memanjang. Malah saya agak kesulitan mencari jalan, di antara rapatnya mobil-mobil yang parkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi tadi, dari arah panglima polim, tampak asap hitam pekat membubung tinggi. Saya mengira-kira dari mana asalnya. Pun ketika melintas di melawai raya, belum dapat saya pastikan dari mana asalnya. Baru ketika melintas iskandarsyah dan bayang pasaraya menghilang mula asap menjadi jelas. Pasar Blok M terbakar. Pasar yang dikelola PD Pasar Jaya mengeluarkan asap dari jendela lantai dua dan tiga. Sesekali bunyi letupan terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pukul satu siang api masih belum dapat dijinakkan. Kolam Taman Martha Tiahahu airnya hampir kering disedot untuk pemadaman. Sepertinya api masih terlalu perkasa, sehingga yang masih dapat dilakukan adalah melokalisasi area kebakaran. Kerugian, tentu tak terkirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tadi saya lalu di dekat pasar, gema panjang suara itu seakan terngiang. Tapi yang terdengar gaung kesedihan. Semoga mereka yang tertimpa musibah, dapat cepat berdiri tegak di tengah suasana yang tak lagi ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kalau di foto atas, letak pasar di belakang aldiron plaza, yang khas dengan atap miringnya yang berwarna coklat gelap. foto dari &lt;a href="http://www.marmaladechainsaw.com/archives/000291.html"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112529143127428617?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112529143127428617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112529143127428617&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112529143127428617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112529143127428617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/08/pasar-blok-m-pengujung-januari-dengan.html' title='Pasar Blok M'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112511853796990144</id><published>2005-08-27T10:46:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T23:59:49.795+07:00</updated><title type='text'>Lengkung Pelangi telah Terlewati</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/12/81/00/12810085/AX026154.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid kecil yang megah. Dua pilar kotak besar agak menjorok keluar, menjulang berlapis marmer kelam. Langsung berbatas dengan aspal jalan. Di seberang taman kecil memanjang, memberi kelegaan pada mesjid yang diapit rumah. Bila kau pertama ke situ, tak mudah bagimu menera bahwa itu masjid. Terlebih bila kau berlalu dari arah samping kiri atau kanannya. Mungkin yang terkesan, sebuah kantor, bukan tempat ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke sanalah, beberapa jam yang lalu saya singgah. Telah ada keramaian di dalam. Di lantai pertama yang menjadi ruang serbaguna telah tertata dengan apik sebuah pelaminan dengan gebyok sebagai latar belakang. Juntaian bebungaan menjulur-julur seakan hendak menyentuh kepala. Membagi keceriaan melalui warna-warninya. Aroma pandan... hmmm meruap memenuhi ruang yang terasa sesak oleh meja-meja untuk sajian. Prang... prang, dua buah gelas jatuh berturutan tersenggol lengan. Ah, mestinya gelas itu diletakkan agak ke tengah. Tak minggir di gigir meja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya naik. Dari lantai atas, dengan bahasa meliuk indah dan suara renyah pembawa acara meminta hadirin menaiki anak tangga. Ke ruang utama masjid, tempat rukuk dan sujud ditunaikan dengan membungkuk dan luruh. Tangga setengah terpilin, dengan marmer putih sebagai alasnya mengantar ke lantai dua. Sebuah lampu berujud kerucut terbalik terdiam mengawasi dari langit-langit. Saat kepala menjembul di ruangan, angin pagi berhembus deras menerpa dari kiri. Jendela-jendela yang berderet sepanjang dinding dibiarkan terbelalak nganga. Bebas mengalirkan angin dan cahaya. Meski begitu, seakan tak yakin pada angin, lima kipas angin ditegakkan, menderu menghembus penjuru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah tak kuasa menengadah, menuruti ajakan mata menelisik lengkung kubah. Motif dekorasi yang menarik dengan pilihan warna-warna yang berani membentuk motif setengah geometri setengah sulur bunga juga tetumbuhan. Tentu saja di antaranya tergores nama-namaNya dan juga nama rasulNya. Sebuah kutipan ayat menyabuk melingkar. Kemampuan membaca yang pas-pasan tak berhasil mengejanya tanpa cela dan kesalahan. Tentu cukup sulit menggambari bidang parabolik dengan pengaturan bidang yang geometris. Entah dari mana pelukisnya memulainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang asyik menerka-nerka, pembawa acara dengan bahasa melekuk liuk mengajak ke acara utama. Penghulu dengan tangkas mengambil alih, sepertinya sedikit agak tergesa. Mungkin di lain tempat sepasang mempelai sedang menanti kehadirannya. Seperti biasa, sedu-sedan pengantin wanita mengisak tersendat saat memohon izin dirinya dinikahkan pada sang Bapak. Dengan kebijaksanaan seorang bapak, beliau menjawab dengan kerendahhatian kedhaifan manusia. Oh alangkah indahnya, bila tiap hari kita di rumah adalah seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya malaikat sudah siap dengan kitab terbuka siap mencatat. Sayapnya tak henti berkepak, agar terbangnya tak menghunjam. Di mihrab, di bawah lengkung kubah, di antara liukan sulur berbunga dan pada tiap jengkal ruang yang ada, mereka bersiap mengaminkan ijabah dan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Asyhadu alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadurrasulullah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dengan namaNya saya bersaksi tiada Illah selain Allah, dan saya bersaksi Muhammad adalah utusan Allah. Partikel udara seketika bergetar. Lengkung parabola, tiba-tiba blong plong menampakkan keluasan langit biru yang tak berbatas. Memberi jalan persaksian melesat mempersembahkan ketakbermilikan pada Sang Khalik yang bersinggasana di 'arsy. Suhu menyejuk, angin pegunungan berputar-putar di sentero ruang. Cahaya benderang bersinar teduh, tak menyilaukan dan tiada melekangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas namaMu dan semata untukMu, kami tautkan jiwa kami, lelangkah kami, dan ketidaksempurnaan yang senantiasa menyertai diri kami. Kami mohon ampunanMu, untuk meretas semak penghalang lalunya titik-titik ridhaMu. Dan hanyalah itulah yang kami tuju, semata ridhaMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;al-ihsan, sabtu 270805: segumam doa untuk &lt;a href="http://kation2.blogdrive.com/"&gt; ivan&lt;/a&gt; &amp;amp; win. lengkung pelangi telah terlewati, bening telaga menanti.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112511853796990144?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112511853796990144/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112511853796990144&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112511853796990144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112511853796990144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/08/lengkung-pelangi-telah-terlewati.html' title='Lengkung Pelangi telah Terlewati'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112479120370494390</id><published>2005-08-23T14:35:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:00:15.700+07:00</updated><title type='text'>Guru</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/13/07/39/13073917/AX928299.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru, kata orang jawa merupakan kependekan dari &lt;em&gt;digugu&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;ditiru&lt;/em&gt;. Dipercayai penuh kebenaran kata-katanya dan patut ditiru perilaku dan perbuatannya. Meski begitu, bukan berarti guru adalah manusia sempurna, yang tak bisa digugat akibat terpeleset oleh sifat manusiawinya. Bukan! Tapi yang dimaksud adalah sebuah pengingatan, kalau sebagai guru, seseorang harus menjaga satu kata dengan perbuatan serta selalu berada di koridor lurus lagi benar. Sesekali salah sebab khilaf, alpa atau akibat terbatasnya ilmu, adalah kewajaran yang harus dipaparkan sebagai sebuah bukti sahih ketidaksempurnaan setiap manusia. Yang harus disikapi apa adanya, karena bukan bahan tertawaan atau ejekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu berada dalam sikap &lt;em&gt;"guru"&lt;/em&gt; adalah sebuah kerja keras. Sebab diri pribadi dituntut membiasakan diri menjadi sosok yang &lt;em&gt;layak dicontoh&lt;/em&gt;. Tidak ada alasan, bahwa diri sedang &lt;em&gt;"rehat"&lt;/em&gt; atau sedang &lt;em&gt;"tidak dinas"&lt;/em&gt;. Karena jam belajar berlangsung 24 jam penuh, pun sedang tidur sekalipun. Proses belajar tetap berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya memang sulit menjaga sikap selalu dalam &lt;em&gt;"guru"&lt;/em&gt;. Karenanya diperlukan kerja ekstra keras untuk membiasakan diri senantiasa konsisten terhadap nilai-nilai &lt;em&gt;"guru"&lt;/em&gt;. Perlu ditumbuhkan kesadaran bahwa tiap detik yang bergulir adalah waktu yang berharga untuk belajar. Agar kesadaran tumbuh subur, kecintaan terhadap objek dan proses mutlak diperlukan. Akan sulit mencapai kesadaran yang melekat bila rasa cinta pada kanak dan proses belajar tak mampu dihayati dengan baik. Pengetahuan akan tetap berujud deretan huruf vokal dan konsonan semata. Tak tertemui kedalaman aksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan terhamparnya kesadaran, terbuka pula cakrawala kesabaran. Kemampuan menahan diri agar tak mendominasi, menguasai dan serbamengetahui. Sikap-sikap seperti itu berubah menjadi kesiapsediaan mendengar, menjelaskan, membesarkan hati, mendorong semangat, serta memantik keyakinan pada diri sendiri. Membuat anak nyaman dengan dirinya sendiri. Merasa tak ada yang salah dan kurang pada pribadinya, sehingga ia menjadi pribadi yang genap. Tak tercuil atau tergores bening kristal jiwanya. Percaya diri dan yakin akan kemampuan yang dimiliki selalu menyertai langkah-langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama, tentu saja mengaca!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ter&lt;/em&gt;semoni&lt;em&gt; kisah nirgombal &lt;a href="http://gombal.blogdrive.com/archive/695.html"&gt; bapak nirkere turkoyo&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;. Tabik &lt;em&gt;sam&lt;/em&gt;!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112479120370494390?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112479120370494390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112479120370494390&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112479120370494390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112479120370494390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/08/guru-guru-kata-orang-jawa-merupakan.html' title='Guru'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112470244300275681</id><published>2005-08-22T15:19:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:00:42.532+07:00</updated><title type='text'>Sehabis Hujan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/14/11/23/14112359/N-197-0156.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya hujan telah lama habis. Pelajaran geografi bilang, april adalah akhir musim penghujan. Tapi hingga kini, pengujung agustus, hujan masih saja sambang. Setidaknya di seputaran Jakarta begitu. Di Sawangan, tempat saya tinggal, hujan lebih sering lagi datang. Meskipun tak sesering saat musimnya. Padahal wilayah Nusa Tenggara, Selatan Jogja dan beberapa daerah langganan krisis air sudah mengeluhkan sumber-sumber air yang sudah berhenti mengalir. Kontradiktif, rasanya inilah wajah dunia sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan adalah kabar gembira. Kabar tentang keberlangsungan hidup dan kehidupan. Rasanya tak terbayang manusia bisa bertahan tanpa tetes air dalam kesehariannya. Bagaimana ia minum, dengan apa ia makan sebab tetumbuhan tak dapat hidup tanpa siraman hujan dan bagaimana pula ia memenuhi kebutuhan lain yang terkait dengan air. Hampir-hampir tiada mungkin manusia bercerai dengan air. Karenanya memandang deras hujan - kapan pun ia datang - hendaklah dalam bingkai kesemestaan. Mungkin hadirnya menghambat ketergesaan urusan pribadi, tapi ia melancarkan semesta hajat manusia dan makhluk lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kecil saya suka lingkungan siang pascaguyuran hujan. Terlebih bila sekian lama, tanah dan pepohonan lekang terpanggang. Bau tanah yang meruap memenuhi udara, khas sekali. Udara yang mendadak sejuk dengan semilir angin menghembus sayu. Daun-daun basah merunduk sehabis dihunjam ribuan jarum air yang meluncur dari langit. Suara-sura tetes air yang jatuh di atas daun pisang, seakan bunyi gendang bersahut-sahutan. Sensasi-sensasi seperti inilah yang tertangkap oleh segenap indera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi betulkah itu sekedar sensasi. Rasanya lebih dari itu. Belakangan baru saya menyadari. Sensasi-sensasi yang hinggap tertangkap itu adalah sebuah kelegaan. Kelegaan akibat terkabulkannya sebuah harapan. Semesta - dengan seluruh ekosistem membaur di dalamnya - berlega atas sebuah rahmat yang tak terhingga. Tidak seperti manusia yang mudah meminta - berdoa adalah memenuhi suruhNya - dan gampang lupa, tetumbuhan selalu taat pada &lt;em&gt;sunnah&lt;/em&gt;. Tak mungkin terbersit pengkhiatan sekelebatpun. Dari keberadaannya yang pasif, tidak &lt;em&gt;mobile&lt;/em&gt; keberterimaan mutlak itu dapat terbaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila manusia berterima kasih dengan mengucap puji syukur, maka tetumbuhan tentunya juga punya cara. Mungkinkah &lt;em&gt;sensasi-sensasi&lt;/em&gt; seperti yang saya jaring dan ceritakan di atas ucapan syukur yang tak lugas itu. Tampaknya ini sudut pandang yang terlalu pribadi. Sebab tetumbuhan seperti takdirnya, senantiasa bertasbih sepanjang usianya. Rasanya, perlu kesegeraan belajar menginternalisasikan pengalaman tetumbuhan untuk tiba pada arti sebenarnya kehadiran diri di dunia ini. Ini mungkin perjalanan panjang, tapi mungkin juga singkat. Sebab, ini bentang jalan tanpa pal kilometer.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112470244300275681?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112470244300275681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112470244300275681&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112470244300275681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112470244300275681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/08/sehabis-hujan-mestinya-hujan-telah.html' title='Sehabis Hujan'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112174927724706184</id><published>2005-08-16T03:08:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:01:17.255+07:00</updated><title type='text'>Setelah Fajar 17</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/11/84/62/11846261/U1494259.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papan pertanda itu sudah tak lagi tegak. Miring condong ke belakang. Ukurannya tak lebih dari empat lembar folio berjajar. Penyangganya dari kayu sebesar lengan orang. Tingginya sekira satu setengah meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicat warna putih yang sudah mengelupas di sana-sini. Bekas-bekas menghitam oleh sisa jamur musim penghujan menghiasi. Ada empat baris tulisan warna hitam yang mulai samar terpampang di atas papan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di tempat ini pada tanggal sekian bulan sekian tahun sekian telah terjadi pertempuran antara pejuang Indonesia dengan Tentara Belanda&lt;/em&gt;. Hanya itu. Tak ada kalimat puja-puji penuh wangi bunga. Sayang ingatan saya yang lemah tak mampu mengingat tanggal yang tertera di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukannya secara kebetulan. Hasrat bertualang anak usia esde, mendorong saya mengayuh sepeda bersama seorang teman ke selatan. Pokoknya ke selatan, tempat di mana batang sungai terbesar di pulau Jawa membelah daerah ini menjadi dua. Iya, saya ingin melihatnya. Ingin berdiri diatas tanggulnya memandang airnya yang kecoklatan mengalir tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mimpi itu tertuntaskan, sebuah cerobong asap pabrik gula menggoda saya membuat petualangan berikutnya. Sosoknya yang tinggi menghitam dengan kepulan asap penuh jelaga berkibar seakan memanggil-manggil. Tak kuasa menahan gejolak kembara, sepakat kemudi kami arahkan ke timur. Mengejar cerobong asap yang tak henti memanggil itu. Padahal sudah lebih dari 12 kilometer jarak yang telah tertempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena rasa penat mendera di kedua kaki, kami berhenti di batas tepi sebuah desa. Sepeda kami sandarkan di bangunan pos kamling. Teman saya duduk meluruskan kaki. Sementara saya meninjau sekeliling, menikmati hamparan luas padi yang baru di tanam. Air yang menggenang di selanya memantulkan siang yang telah menua. Warna kuning keemasan memantul di antara daun padi yang bergoyang ditiup angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenikmatan buaian angin, mata saya tersangkut pada papan separoh miring itu. Saya membaca pesan di atasnya. Kemudian imaji kanak saya seketika membayangkan tentara Belanda yang datang dari timur menumpang jip diberondong tembakan para gerilya. Seperti dalam film-film perjuangan produksi tahun 80-an. Lalu ada beberapa prajurit Belanda tertembak sementara pasukan gerilya tak berkurang suatu apa. Oleh karena siasat gerilya, bukan sebab takut atau kehabisan peluru, gerilyawan lalu mundur. Menghilang diantara rumpun bambu dan kebun-kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya banyak tempat yang kita kenal karena kita pernah melewati atau mengakrabinya, menyimpan cerita kepingan mosaik sejarah bangsa ini. Tetapi kisah yang tersimpan itu, mungkin sedikit kita tahu. Atau malahan tak tahu sama sekali. Dari yang kita ketahui, hanya aspek heroismenya yang mengutara. Berjuang mempertahankan kemerdekaan adalah sebuah tindakan mulia dan suci. Wajah sejatinya sebagai sebuah perang tak cukup tertangkap oleh kita. Perang sendiri - oleh apapun sebabnya - hakikinya adalah sebuah tragedi kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya menghilangkan nyawa, tapi juga membikin cidera raga dan jiwa yang berkelanjutan hingga bermasa-masa. Ketika membaca kekejian atas kemanusiaan, kepada diri sendiri kadang saya tak habis mengulangi tanya, &lt;em&gt;kok bisa???&lt;/em&gt;. Dan nyatanya bisa! Berulang terjadi kembali hanya bertukar tempo dan tempat. Termasuk di negeri ini. Negeri yang dalam kitab PMP dinyatakan &lt;em&gt;gemah ripah loh jinawi&lt;/em&gt;, berpenduduk ramah, murah senyum dan terbuka. Semoga setelah fajar tujuh belas agustus, tak lagi bertambah wajah sedih memendam pedih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112174927724706184?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112174927724706184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112174927724706184&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112174927724706184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112174927724706184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/08/setelah-fajar-tujuh-belas-papan.html' title='Setelah Fajar 17'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112409922187511752</id><published>2005-08-15T16:09:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:01:49.182+07:00</updated><title type='text'>Puisi Merentang Versi</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/11/53/08/11530820/CB018553.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH. Achmad Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus, menulis puisi yang selalu beliau gubah ulang tiap tanggal tujuh belas Agustus. Sejak 1996 beliau menulis puisi ini. Versi terakhir di bawah ini, adalah versi yang ke sembilan di gubah pada 17 Agustus 2004. Pada 17 Agustus 2005 besok akankah keluar versi ke sepuluh? Tentu hanya Tuhan dan Gus Mus saja yang tahu. Membaca puisi ini seperti menelusur ulang perjalanan bermasa ke belakang. Seperti apa? Silakan Anda membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RASANYA BARU KEMARIN (Versi IX)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya&lt;br /&gt;Baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno dan Bung Hatta&lt;br /&gt;Atas nama kita menyiarkan dengan seksama&lt;br /&gt;Kemerdekaan kita di hadapan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya&lt;br /&gt;Gaung pekik merdeka kita&lt;br /&gt;Masih memantul-mantul tidak hanya&lt;br /&gt;Dari para jurkam PDIP saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya&lt;br /&gt;Baru kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.&lt;br /&gt;Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia&lt;br /&gt;Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya&lt;br /&gt;Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa&lt;br /&gt;Sudah banyak yang turun tahta&lt;br /&gt;Taruna-taruna sudah banyak yang jadi&lt;br /&gt;Petinggi negeri&lt;br /&gt;Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi&lt;br /&gt;Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya&lt;br /&gt;Baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.&lt;br /&gt;Menteri-menteri yang dulu suka korupsi&lt;br /&gt;Sudah banyak yang meneriakkan reformasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat yang selama ini terdaulat&lt;br /&gt;sudah semakin pintar mendaulat&lt;br /&gt;Pemerintah yang tak kunjung merakyat&lt;br /&gt;pun terus dihujat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.&lt;br /&gt;Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh&lt;br /&gt;Padahal pembangunan badan yang kemarin dibangga-banggakan&lt;br /&gt;sudah mulai runtuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan semu sudah semakin menyeret dan mengurai&lt;br /&gt;pelukan kasih banyak ibu-bapa&lt;br /&gt;dari anak-anak kandung mereka&lt;br /&gt;Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi sudah menutup mata&lt;br /&gt;banyak saudara terhadap saudaranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging yang selama ini terus dimanjakan kini sudah mulai kalap mengerikan&lt;br /&gt;Ruh dan jiwa&lt;br /&gt;sudah semakin tak ada harganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan&lt;br /&gt;para penguasa berlaku sewenang-wenang&lt;br /&gt;kini sudah pandai menirukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya&lt;br /&gt;Semakin bertambah besar pengaruhnya&lt;br /&gt;Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda&lt;br /&gt;Kepentingan sendiri dan golongan&lt;br /&gt;sudah semakin melecehkan kebersamaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya&lt;br /&gt;Baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka&lt;br /&gt;Pahlawan-pahlawan idola bangsa&lt;br /&gt;Seperti Pangeran Diponegoro&lt;br /&gt;Imam Bonjol, dan Sisingamangaraja&lt;br /&gt;Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam,&lt;br /&gt;dan Kura-kura Ninja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang pandai sudah semakin linglung&lt;br /&gt;Banyak orang bodoh sudah semakin bingung&lt;br /&gt;Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan&lt;br /&gt;Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya&lt;br /&gt;Baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh angkatan empatlima sudah banyak yang koma&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah banyak yang terbenam&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya sudah banyak yang tak jelas maunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya&lt;br /&gt;Baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hari ini ingin rasanya&lt;br /&gt;Aku bertanya kepada mereka semua&lt;br /&gt;Sudahkah kalian Benar-benar merdeka?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya&lt;br /&gt;Baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri zamrud katulistiwaku yang manis&lt;br /&gt;Sudah terbakar nyaris habis&lt;br /&gt;Dilalap krisis dan anarkis&lt;br /&gt;Mereka yang kemarin menikmati pembangunan&lt;br /&gt;Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban&lt;br /&gt;Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri&lt;br /&gt;Sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang kemarin sudah terbiasa mendapat kemudahan&lt;br /&gt;Banyak yang tak rela sendiri kesulitan&lt;br /&gt;Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum&lt;br /&gt;Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa-mahasiswa pejaga nurani&lt;br /&gt;Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni&lt;br /&gt;Para oportunis pun mulai bertampilan&lt;br /&gt;Berebut menjadi pahlawan&lt;br /&gt;Pensiunan-pensiunan politisi&lt;br /&gt;Sudah bangkit kembali&lt;br /&gt;Partai-partai politik sudah bermunculan&lt;br /&gt;Dalam reinkarnasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur&lt;br /&gt;Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur&lt;br /&gt;Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta&lt;br /&gt;Kini sudah pandai menembakkan kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya&lt;br /&gt;Baru kemarin&lt;br /&gt;Padahal sudah lima puluh sembilan tahun kita&lt;br /&gt;Merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili&lt;br /&gt;Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali&lt;br /&gt;Mereka yang kemarin dijarah&lt;br /&gt;Sudah mulai pandai meniru menjarah&lt;br /&gt;Mereka yang perlu direformasi&lt;br /&gt;Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi&lt;br /&gt;Mereka yang kemarin dipaksa-paksa&lt;br /&gt;Sudah mulai berani mencoba memaksa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang selama ini tiarap ketakutan&lt;br /&gt;Sudah banyak yang muncul ke permukaan&lt;br /&gt;Mereka yang kemarin dipojokkan&lt;br /&gt;Sudah mulai belajar memojokkan&lt;br /&gt;Mereka yang kemarin terbelenggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu&lt;br /&gt;Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupa&lt;br /&gt;Sudah mulai banyak yang lupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua&lt;br /&gt;Tentang makna merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri&lt;br /&gt;Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa&lt;br /&gt;Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri&lt;br /&gt;Hanya dengan meludahkan kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah mengajak kebaikan&lt;br /&gt;Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan&lt;br /&gt;Dialog dan diskusi&lt;br /&gt;Sudah digantikan peluru dan amunisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia yang berketuhanan&lt;br /&gt;Sudah banyak yang kesetanan&lt;br /&gt;Bendera merahputih yang selama ini dibanggakan&lt;br /&gt;Sudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legislatif yang lama sekali non aktif&lt;br /&gt;Dan yudikatif yang pasif&lt;br /&gt;Mulai pandai menyaingi eksekutif&lt;br /&gt;Dalam mencari insentif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik&lt;br /&gt;Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik&lt;br /&gt;Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya&lt;br /&gt;Baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh orde lama sudah banyak yang mulai menjelma&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh orde baru sudah banyak yang mulai menyaru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya&lt;br /&gt;Baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang NU yang sekian lama dipinggirkan&lt;br /&gt;Sudah mulai kebingungan menerima orderan&lt;br /&gt;NU dan Muhammadiyah yang selama ini menjauhi politik praktis&lt;br /&gt;Sudah kerepotan mengendalikan warganya yang bersikap pragmatis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya&lt;br /&gt;Baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Harto yang kemarin kita tuhankan&lt;br /&gt;Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan&lt;br /&gt;Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri&lt;br /&gt;Atau lenyap seperti disembunyikan bumi&lt;br /&gt;Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan&lt;br /&gt;oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan&lt;br /&gt;Anak dan antek kesayangan Bapak sudah berani tampil lagi&lt;br /&gt;Mendekati rakyat lugu mencoba menarik simpati&lt;br /&gt;Memanfaatkan popularitas dan kesulitan hidup hari ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habibie sudah meninggalkan&lt;br /&gt;Negeri menenangkan diri&lt;br /&gt;Gus Dur sudah meninggalkan&lt;br /&gt;Atau ditinggalkan partainya seorang diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;Padahal sudah limapuluh sembilan tahun lamanya&lt;br /&gt;Megawati yang menghabiskan sisa kekuasaan Abdurrahman&lt;br /&gt;Mengajak Hasyim Muzadi merebut lagi kursi kepresidenan&lt;br /&gt;Membangkitkan nafsu banyak warga NU terhadap kedudukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi Wiranto yang mengalahkan Akbar&lt;br /&gt;menggandeng Salahuddin keturunan Rais Akbar&lt;br /&gt;Ikut bersaing merebut kekuasaan melalui Golkar&lt;br /&gt;Dan didukung PKB yang dulu ngotot ingin Golkar bubar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY yang mundur dari kabinet Mega juga ikut berlaga&lt;br /&gt;Dengan Jusuf Kalla menyaingi mantan bos mereka&lt;br /&gt;Bahkan dalam putaran pertama paling banyak mengumpulkan suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin Rais yang sudah lama memendam keinginan&lt;br /&gt;Memimpin negeri ini mendapatkan Siswono sebagai rekanan&lt;br /&gt;Sayang perolehan suara mereka tak cukup signifikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamzah Haz yang tak dicawapreskan PDI maupun Golkar&lt;br /&gt;Maju sendiri sebagai capres dengan menggandeng Agum Gumelar&lt;br /&gt;Maju mereka berdua pun dianggap PPP dan lainnya sekedar kelakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat yang sekian lama selalu hanya dijadikan&lt;br /&gt;Obyek dan dipilihkan&lt;br /&gt;Kini sudah dimerdekakan Tuhan&lt;br /&gt;Dapat sendiri menentukan pilihan&lt;br /&gt;Meski banyak pemimpin bermental penjajah yang keberatan&lt;br /&gt;Dan ingin terus memperbodohnya dengan berbagai alasan&lt;br /&gt;Rakyat yang kebingungan mencari panutan&lt;br /&gt;Malah mendapatkan kedewasaan dan kekuatan&lt;br /&gt;(Hari ini ingin rasanya&lt;br /&gt;Aku bertanya kepada mereka semua&lt;br /&gt;BagaimanA rasanya&lt;br /&gt;Merdeka?)&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;Orangtuaku sudah lama pergi bertapa&lt;br /&gt;Anak-anakku sudah pergi berkelana&lt;br /&gt;Kakakku dan kawan-kawanku sudah jenuh menjadi politikus&lt;br /&gt;Aku sendiri tetap menjadi tikus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hari ini&lt;br /&gt;setelah limapuluh sembilan tahun kita merdeka&lt;br /&gt;ingin rasanya aku mengajak kembali&lt;br /&gt;mereka semua yang kucinta&lt;br /&gt;untuk mensyukuri lebih dalam lagi&lt;br /&gt;rahmat kemerdekaan ini&lt;br /&gt;dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani&lt;br /&gt;diri sendiri&lt;br /&gt;bagi merahmati sesama)&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin&lt;br /&gt;Ternyata sudah limapuluh sembilan tahun kita&lt;br /&gt;Merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ingin rasanya&lt;br /&gt;aku sekali lagi menguak angkasa&lt;br /&gt;dengan pekik yang lebih perkasa:&lt;br /&gt;Merdeka!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rembang, 17 Agustus 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112409922187511752?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112409922187511752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112409922187511752&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112409922187511752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112409922187511752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/08/puisi-berentang-versi-kh.html' title='Puisi Merentang Versi'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112046892995463991</id><published>2005-08-11T12:40:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:02:30.602+07:00</updated><title type='text'>Auramu Itu...</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/14/13/86/14138692/N-189-0156.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"...auramu itu seperti gini: air menetes dari ujung daun, saat malam hening tanpa suara, sunyi senyap... hanya bunyi tetesan itu yang terdengar&lt;br /&gt;dan itu membuat mata terjaga di kesunyian tapi tidak ada yang berani bersuara, karena kalau tidak, mereka akan kehilangan tetesan bening itu..."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian seorang kawan melukiskan kehadiran temannya. Mendengarnya, saya tertawa saja. Bukan ketawa mengejek - sebab saya belum separah itu saya kira - tapi mengingat "kepolosan"-nya. Mana ada orang seperti air yang menetes dari ujung daun, sehingga suara desau jatuhnya saja, tak ingin orang kehilangan. Tapi, kawan saya ini memang punya talenta bersyair. Pada suatu masa ia cukup produktif menulis puisi. Dan puisinya menurut saya yang awam sastra, sangat bagus dan pontensial. Jadi wajar kalau ia ber-&lt;em&gt;sastra&lt;/em&gt; ria ketika mengilustrasikan kawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang saya lihat sebagai "kepolosan" adalah saya tahu bahwa perjumpaan mereka cukup singkat. Meski dalam waktu yang singkat itu cukup intens terjadi pertukaran pikiran, tapi tentu saja tak mungkin menghadirkan bakusifat dan perilaku yang menyeluruh. Tak semua sisi pribadi tampak, sehingga kesan yang baik bak &lt;em&gt;air menetes&lt;/em&gt; tadi, belum tercemari oleh perbenturan keakuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan yang memberi impresi khusus semacam ini, tak selalu terjadi pada setiap perjumpaan. Karena perlu berbagai faktor pendukung untuk munculnya sebuah kesan khusus. Dari sisi diri pribadi, setidaknya diperlukan sebuah ruang untuk memberi peluang masuknya kesan-kesan yang diindera tanpa beban prasangka. Lalu ada kemauan untuk mengolah kesan tersebut menjadi keping-keping kaca untuk bercermin dan mengeja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menatap kenyataan dan menuai kesan daripadanya dengan kebeningan tanpa beban prasangka merupakan ujian pertama. Dalam kehidupan yang penuh doktrin &lt;em&gt;"awas!!", "waspada!!", "hati-hati", "jangan sampai!"&lt;/em&gt;, dan sejenisnya sangat berat menerapkan itu. Terlebih lagi, secara samar dalam persepsi kita telah terbangun pengotakan dan penderajatan kelompok masyarakat. Di mana hal itu biasanya didasarkan pada wujud fisik dan perilaku yang dianggap tidak &lt;em&gt;pantas dan berbudaya&lt;/em&gt;. Asumsi lebih beroleh tempat dibanding bukti dan akal sehat. Curiga lebih mengemuka daripada mengecek secara nyata. Di sinilah &lt;em&gt;"positive thinking"&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;"husnudzan"&lt;/em&gt; semestinya merupa-warnai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu cobaan kedua yang menjadi langkah lanjutan adalah memunguti remah-remah berharga untuk dijadikan lembar-lembar tempat belajar. Perlu kerendahhatian mengakui bahwa diri ini tak sempurna. Tak lebih baik dari orang lain. Dan menyadari bahwa di satu sisi boleh saja kita unggul jauh, tapi di banyak bagian lain boleh jadi kita tertinggal jauh. Di bagian-bagian inilah semestinya kita belajar. Berefleksi dari pencapaian orang dan menginternalisasikannya sehingga diharapkan tumbuh menjadi bagian dari diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit. Pada musuh pun saya harus belajar.&lt;/em&gt; Demikian kalimat berkata bijak. Belajar mendengar adalah pelajaran pertama yang dipelajari anak manusia sebelum berbicara. Namun justru pelajaran pertama yang sering kita lupa praktekkan. Dan pelajaran kedua yang sering kita gunakan. Kini saatnya kita belajar mendengar. Mendengar suara hati orang lain dan suara hati diri sendiri. Sebab belum tentu besok matahari menyinari, karena selembar papan telah menghalangi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112046892995463991?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112046892995463991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112046892995463991&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112046892995463991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112046892995463991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/08/auramu-itu-air-menetes-dari-ujung-daun.html' title='Auramu Itu...'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112355875468470443</id><published>2005-08-09T08:40:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:03:05.644+07:00</updated><title type='text'>Hati Bukan Matahari</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/26/57/15265761/42-15265761.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan bercerita. Ia pernah mengikuti tender sebuah proyek milik pemerintah daerah. Secara &lt;em&gt;fit and proper test&lt;/em&gt; proposal yang ia ajukan berikut semua infrastruktur pendukung yang ia miliki, di atas kertas dan akal sehat lebih baik dari para pesaing. Peluang untuk menang hampir mutlak. Tapi apa mau dikata, saat pengumuman, perusahaannya kalah telak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia biasa, ia dan rekan-rekannya penasaran ingin tahu penyebab kekalahannya. Selidik punya selidik didapatlah informasi. Bahwa penyebab kegagalan mereka adalah tidak ditulisnya kata &lt;em&gt;Yang Terhormat&lt;/em&gt; dalam surat pengajuan. Sebuah keteledoran kecil yang berdampak sangat besar. Betapa masygul hatinya mengetahui kalau cuma karena hal itu saja kegagalannya. Beberapa waktu hatinya gundah, pikirannya resah. Menyesal dan tak habis pikir, bagaimana hal sekecil itu bisa terjadi. Sementara keputusan panitia tender sudah final dan mengikat. Tak ada kesempatan peninjauan kembali. Dan semua pihak yang terlibat harus menerimanya, apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang ia bertemu kawan lama. Setelah saling beruluk salam dan bertukar kabar, obrolan beringsut ke masalah yang masih mengganjal hatinya. Dengan penuh perhatian, sang teman mendengarkan. Mulailah ia ber&lt;em&gt;curhat&lt;/em&gt; dari A sampai Z, perihal kekalahan tender yang baru diikutinya. Ketika ia selesai menumpahkan keluh kesahnya, giliran sang teman bertanya mencari penegasan. Apakah tender yang diikutinya itu untuk proyek anu dari dinas anu? Meski terbersit sedikit rasa heran, ia mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Syukurlah!!!&lt;/em&gt; Tukas sang teman. Sekarang bukan lagi heran, tapi ia terperanjat. Tak menyangka teman baiknya menyukurkan problemnya. Lalu sang teman kembali menegaskan, kalau ia patut bersyukur. Sebab proyek itu sendiri masih menyisakan masalah. Pemenang proyek periode lalu hingga kini belum dapat mencairkan pembayaran yang menjadi haknya. Dana yang semestinya sudah turun itu, masih menyangkut entah di mana. Sementara perusahaan tersebut sudah mengeluarkan biaya cukup besar untuk menangani operasional proyek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali lain seorang rekan berbeda berkisah tentang temannya. Temannya ini mendapat masalah besar dan pelik. Ia akan digugat sebuah pihak atas rumah yang kini ditempatinya. Satu-satunya rumah yang dimilikinya. Dengan daya yang dia mampui, ia berusaha menyelamatkan miliknya tersebut. Sebab bertikai di pengadilan negeri ini, tak cuma bisa kehilangan barang yang digugat, tapi sangat mungkin merembet ke yang lain-lain. Dalam detik-detik penuh kekhawatiran menanti panggilan dari pengadilan ia cuma pasrah. Sampai akhirnya ia mendapat khabar. Gugatan tersebut ditolak pengadilan. Pangkal sebabnya, berkas gugatan tak dibubuhi meterai sebagai penera sah dari negara. Akhirnya masalah itu terselesaikan dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah film yang tayang, peristiwa di atas tak terduga bagaimana ujungnya. Semua bergerak dari satuan kejadian ke kejadian lain. Dengan kecemasan, kekhawatiran dan rasa takut menyelubungi sempurna. Dan kehidupan selalu berjalan seperti itu, tidak selalu linier tapi juga tak tentu melingkar-lingkar. Pada titik-titik tertentu, sekonyong-konyong muncul sesuatu yang tak terduga-duga. Sesuatu ini bisa saja nongol setelah masa yang lama. Sehingga kita sendiri nyaris telah melupakan peristiwa muasalnya. Tiba-tiba ia datang melalui sebuah "kebetulan", dan membuncahkan semua ingatan dan rasa sakit yang pernah merajami (bila itu adalah peristiwa yang memedihkan hati) yang sekian waktu tersimpan dalam-dalam di dasar laci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita sama-sama tahu, adalah sangat menyakitkan dibangunkan oleh mimpi buruk kala tidur nyenyak dalam kelelapan. Terlebih bila mimpi buruk itu membawa berita-berita baru yang makin memetakan jejaring kenyataan dari kisah utama yang telah kita alami sebelumnya. Sangat wajar reaksi pertama yang terjadi adalah marah, murka dan sejenisnya. Terbayang semua yang telah berlangsung damai kini bergejolak kembali. Terbayang pula, kemapanan relasi dan kondisi yang sudah terbangun dengan tenang terancam diayun gelombang. Dan kekhawatiran lain yang berderet membentuk bayang hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi demikian respon pikir dan perasaan yang pertama adalah kata tanya. Mengapa? Kenapa? Bagaimana? Siapa? Apa? Kapan? Di mana? Sebagai makhluk pengetahuan, manusia selalu ingin tahu dibalik yang ia sudah tahu. Keingintahuan itu kerap kali tak berbatas, sehingga duplikasi kata-kata tanya itu tak terbilang. Di sisi lain, kapasitas pikir manusia sangat terbatas. Kemampuan hati menata berbagai letupan gejolak perasaan akibat terketahuinya atau terduganya fakta baru, juga berbatas. Pada titik tertentu, duka lama yang tak terduga terletup lagi ini menorehkan duka baru. Duka yang terkadang menyematkan lara dalam masa yang lebih panjang dan menyesakkan, sehingga capaian tatanan menenangkan sebelumnya, akhirnya terlepas dari keseharian. Hari-hari pun berlanjut dalam kemurungan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keberterimaan adalah bekal yang pantas menghadapi realitas&lt;/em&gt;. Sebab titik pijak pertama adalah kesadaran bahwa manusia adalah makhluk lemah. Sangat sedikit yang ia tahu, kuasai dan jangkau. Pemahaman demikian bukanlah untuk menumbuhkan pemakluman bahwa ketidaktegasan, kemalasan, ketak-acuhan adalah keberterimaan itu sendiri. Ini sebuah kesalahpahaman yang fatal. Kesadaran tersebut ada untuk mengenali diri sendiri. Bagaimana hakikat kemakhlukan kita, di mana posisi kita sepatutnya berada dan apa yang mustinya kita lakukan serta tidak lakukan. Karena kesadaran itu akan mengajari  kita untuk &lt;em&gt;tahudiri&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang memiliki gurat hitam di atas mistar perjalanan hidupnya. Begitu juga saya. Boleh jadi satu waktu oleh satu atau tanpa sebab, meski bermil jaraknya dari posisi mistar saat ini, gurat hitam itu tergugah kembali. Sebuah gegar pasti terjadi, dan pasti saya sendiri tak akan mampu menenangkan goncangan itu. Meski hati adalah tempat terlapang di jagad - pada kasus tertentu juga tersempit - tapi hati tak memiliki sinar sendiri. Ia adalah rembulan bukan matahari. Rembulan tanpa matahari, tak nyata bentuknya. Dengan cahaya matahari, meski bopeng menyeluruh di sekujur tubuh, rembulan bisa purnama. Usahakan hati kita selalu purnama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112355875468470443?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112355875468470443/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112355875468470443&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112355875468470443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112355875468470443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/08/hati-bukan-matahari-seorang-kawan.html' title='Hati Bukan Matahari'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112323777268601261</id><published>2005-08-05T15:18:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:03:40.520+07:00</updated><title type='text'>Kecelakaan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/31/33/15313375/42-15313375.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak biasanya jam segini ruas jalan ini macet total. Lajur mengarah ke Pondok Cabe tak bergerak. Di sebelah kiri kendaraan yang mengular panjang, saya melintas dalam kecepatan sedang. Pertigaan Cireundeu sudah terlewati, tetapi kemacetan belum juga berkesudahan. Melipir sisi lapangan terbang, kendaraan sudah mulai bergerak perlahan. Lajur kanan yang menuju Lebak Bulus kosong melompong. Pikiran menerka-nerka. Jangan-jangan ada kecelakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi selewat pertigaan Kelapa, mobil-mobil sudah berjalan meski perlahan. Saya mengira kemacetan terjadi karena ada sebuah truk yang mau membelok kanan. Masih tetap di kiri deretan mobil saya mengambil jalan. Dalam remang malam saya melihat sebuah sepeda motor bebek warna merah didorong dua orang dengan susah payah. Lampu depannya hancur tak berbentuk. Stang kemudi menoleh ke kiri. Spakbor dan batang peredam kejut melesak ke dalam. Roda depan sudah meliuk tak berbentuk. Di aspal berserakan sisa pecahan lampu. Melihat kondisinya sepertinya telah terjadi tabrakan frontal. Melawan apa, tak begitu jelas terlihat oleh saya. Korbannya pun sudah tidak berada disitu. Sepertinya sudah dibawa ke rumah sakit. Ini rupanya pangkal kemacetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut &lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/10/metro/1613593.htm"&gt; Kepala Subdit Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat JA Barata,&lt;/a&gt;  data tahun 2003 menunjukkan, dari 13.399 kecelakaan, 9.386 melibatkan sepeda motor. Data dalam buku &lt;em&gt;1-2-3 Langkah-langkah Kecil yang Kita Lakukan Menuju Transportasi yang Berkelanjutan&lt;/em&gt; yang diterbitkan oleh Masyarakat Transportasi Indonesia, dari 26 juta kendaraan yang terdaftar di Indonesia tahun 2003, 19 juta atau 72 persen di antaranya adalah sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara statistik tingginya kecelakaan pengendara motor inheren dengan jumlahnya yang mayoritas. Terlebih lagi, bentuk motor tidak memberi perlindungan optimal bagi pengendaranya dari benturan. Beberapa waktu lalu, di ruas jalan yang sama tapi di titik yang berbeda, saya melihat tabrakan dua buah motor tepat di muka saya. Menurut orang-orang yang tinggal di sekitar situ, kecelakaan motor memang kerap terjadi di jalan ini. Mungkin inilah yang membuat mereka langsung bergerak sigap menolong korban dan mengatur lalulintas. Tanpa banyak bicara atau adu mulut menyengketakan siapa yang salah dan benar. Pokoknya korban bisa segera dilarikan ke rumah sakit supaya mendapat pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas lokasi kecelakaan, jalan kembali normal. Bahkan cenderung sepi. Karena banyak mobil yang masih tertahan berkutat dengan kemacetan tadi. Sampai di muka poll taksi yang warnanya serba biru, dua buah motor dari arah depan hendak memotong membelok ke kanan. Dari muka gang keluar moncong truk mau belok kanan ke jalan besar. Rem belakang dan rem tangan saya tarik sampai habis. Motor berhenti. Sepersekian detik di antara tiga pihak saling menunggu. Karena saya dalam posisi paling memungkinkan untuk terus, saya tarik gas maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi lima meter dari depan sebuah motor mengambil kesempatan membelok kanan. Kembali saya kurangi kecepatan. Tetapi tiba-tiba dari arah belakang motor tersebut melaju deras sebuah bebek yang hendak bergerak lurus. Kaget karena motor didepannya mengurangi kecepatan dan membelok ke kanan, untuk menghindari tabrakan pengemudinya membanting stang kekanan. Benturan terhindarkan, namun pengendaranya tak bisa menguasai kemudi. Akibatnya motor meluncur tak terkendali dan jatuh ketika menyentuh bahu jalan. Sebuah luncuran panjang dengan bunyi logam menggesek aspal terdengar menyayat telinga, ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang sisa perjalanan saya tercenung oleh dua kejadian yang tak lama berselang itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112323777268601261?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112323777268601261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112323777268601261&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112323777268601261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112323777268601261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/08/kecelakaan-tak-biasanya-jam-segini.html' title='Kecelakaan'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112306488346060369</id><published>2005-08-03T16:24:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:04:16.764+07:00</updated><title type='text'>Cerita</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/170/15/32/17/15321762/42-15321762.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.&lt;br /&gt;Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu&lt;br /&gt;tetap akan tumbuh dengan subur."&lt;br /&gt;Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang&lt;br /&gt;membina anakku."&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin&lt;br /&gt;bekerja.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas saya nukil dari &lt;a href="http://airputih.tk/"&gt;AirPutih&lt;/a&gt;. Sebuah milis &lt;strong&gt;&lt;em&gt;penyejuk dahaga jiwa yang terik&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Cerita ini selalu mengingatkan saya. Sebagai orang dewasa dan orang tua saya adalah &lt;em&gt;pendidik&lt;/em&gt; buat anak saya dan semua anak yang sedang dekat dengan saya. Saya mengistilahinya sebagai &lt;em&gt;sadar mendidik&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena anak-anak seperti spons, menyerap apa saja yang mereka lihat, rasa, dengar dan ketahui, maka tiap orang dewasa yang berinteraksi dengan mereka pada dasarnya adalah prototip contoh untuk mereka. Apa yang diucapkan orang dewasa begitu juga perilakunya, menjadi rujukan anak-anak di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi selalu dalam kesadaran demikian ternyata tak mudah. Dalam kehidupan yang biasa menyekat-sekat urusan, melompat dari satu peran ke peran lain adalah sebuah akrobat yang sulit. Alih-alih berhasil, seringnya malah gagal dan berantakan. Sedangkan mata jiwa anak-anak adalah kepolosan. Memandang semua dalam kesederhanaan berpikir yang meluruhkan argumen kosmetik yang merumitkan jalan pikiran. Mungkin karena itu, orang dewasa yang terbiasa bermain dengan logika dirumitkan sering terhenyak oleh pertanyaan kanak yang polos dan menukik ke dasar falsafati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112306488346060369?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112306488346060369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112306488346060369&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112306488346060369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112306488346060369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/08/cerita-seorang-petani-menyuruh-anaknya.html' title='Cerita'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112237247919476643</id><published>2005-07-26T15:09:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:04:54.561+07:00</updated><title type='text'>Setangkai Rumput</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/45/57/14455712/AX050395.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari setahun, saya menjadi penglaju. Lima hari dalam seminggu - kecuali libur nasional atau libur hasil penggeseran - saya bergerak di atas roda. Satu jam di atas angkot lalu disambung sejam lagi di atas metromini. Total sehari empat jam duduk terpekur dalam kubus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur metromini yang saya naiki saat pergi dan pulang berbeda. Soal beda nomer jalur ini, didasari oleh kecepatan tiba di tujuan. Meski awal dan akhir tujuan kedua metromini ini sama, tapi waktu tempuhnya bisa jauh berbeda. Ini hasil temuan setelah coba-coba beberapa kali. Dengan begitu, setidaknya separuh perjalanan saya lalui dengan pemandangan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, tak urung rasa bosan kerap menyergap. Huruf-huruf dalam koran dan buku tak lagi cukup menarik. Otak yang telah seharian penat dijejali oleh remah kehidupan, mengajak berlarian dari satu apungan pikiran ke apungan pikiran lain. Kalau sudah demikian mata mengajak menerobos kusam jendela. Memandangi titik-titik yang luput dari perhatian sehari-hari dalam detil-detil kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setangkai rumput teki telah menyita mata saya. Mengusik lelompatan pikiran saya yang sedang tak ingin duduk manis. Hanya setangkai rumput kerdil, yang tak bisa leluasa tumbuh, karena hidup di sela separator jalan. Angin dari kendaraan tak pernah memberinya kesempatan untuk tegak. Tapi ia rumput, yang tak pernah tergoda untuk menjulang. Sehingga sekuat apapun angin menghempas, baginya cuma persoalan melambaikan badan. Tak butuh akar-akar kuat menghujam, sebab tubuhnya pipih lagi ringan. Segala jenis debu dan jelaga asap tak pernah betah tinggal. Tubuh tipisnya selalu menggelincirkan dan menjerembabkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumput, tunduk penuh pada ketentuan. Padanya tak tergenggam sepenggal pun pilihan. Bagi manusia, hidup adalah perjalanan dari satu pilihan ke lain pilihan. Tak pernah berhenti. Kecuali ketika manusia terbebas dari segala keinginan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112237247919476643?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112237247919476643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112237247919476643&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112237247919476643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112237247919476643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/07/setangkai-rumput-lebih-dari-setahun.html' title='Setangkai Rumput'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112202513720817080</id><published>2005-07-22T15:53:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:05:29.484+07:00</updated><title type='text'>Mengaca Diri pada Rembulan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/10/86/83/10868396/PJ011613.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama berharap, akhirnya tadi malam kesampaian juga melihat bulan purnama. Itulah keinginan saya dan Najla. Karena tak pernah hafal almanak hijriyah apalagi langit malam di atas Sawangan jarang bebas dari selimut awan, saya tak pernah bisa memergoki bulan purnama. Oleh berita di koran yang saya baca, saya tahu kalau tanggal 21 Juli, bulan akan purnama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah maghrib saya memberi tahu Najla, kalau malam ini bulan tak seperti malam-malam kemarin. Di mana bulan kadang terlihat seperti biskuit tergigit, bulan sabit menyipit atau lingkaran terbelah sabit. Malam ini bulan akan berbentuk bulat-lat. Sebuah penekanan yang sering saya pakai mengacu pada bahasa jawa timuran &lt;em&gt;bunder ser!!&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas isya Najla sudah sibuk mencari teropong mainan beserta buku seri ilmu pengetahuan. Karena tak mungkin semua dibawa saya memintanya meletakkan di atas kursi, di teras. Lalu kami keluar ke jalan yang telah lengang dengan wajah menengadah. Memutar leher mencari-cari rembulan di angkasa malam. Ternyata jangankan rembulan, bias sinarnya pun tak kelihatan. Awan dengan sempurna telah menyembunyikan. Najla masih penasaran, untuk itu sejenak saya mesti menjelaskan. Lalu mengajaknya masuk dan berjanji nanti agak malam mencoba melihat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pukul sembilan, saya dan Najla keluar. Dari ujung atap teras terlihat langit masih berawan. Namun ada cahaya membias di antara gulungan awan. Sekali lagi wajah menengadah. Di arah barat angkasa, bulan tak tampak. Begitu pula di selatan dan utara, juga tegak di atas ubun-ubun kepala. Aha, di tenggara langit, dalam sudut tujuhpuluh derajatan, bulan purnama dengan tenang bersemayam di balik rimbun daun angsana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke sana kedua mata kami menatap. Melihat rembulan dalam kepungan awan. Sebuah kapas awan tipis, melayang bergerak melintas rembulan. Persis seperti kelebat selendang sutra ibu peri. Bagi saya pemandangan ini mungkin masih kalah istimewa dibanding pengalaman menatap purnama dari puncak gunung bertahun lalu. Tetapi bagi Najla, sangat mungkin ini adalah rembulan yang terindah. Seperti yang biasa ia dengar dari lagu yang ia nyanyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ia cukup puas, saya mengajaknya masuk ke dalam. Ketika membuka pintu, mata saya menangkap kerjap cahaya dari muka air selokan yang mengalir perlahan. Riaknya membuat cahaya putih rembulan menari-nari. Indah. Benak saya sibuk mereka-reka; &lt;em&gt;rembulan, cahaya, mengalir, gelombang, air, selokan = indah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selokan adalah tafsir lawan keindahan. Tempat segala yang kotor dan diemohi dilemparkan. Tapi malam ini, keindahan mengerjap dari tempat yang dinistakan. Mungkinkah karena  cahaya telah mengusapnya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112202513720817080?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112202513720817080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112202513720817080&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112202513720817080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112202513720817080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/07/selokan-mengaca-diri-pada-rembulan.html' title='Mengaca Diri pada Rembulan'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112175160054022630</id><published>2005-07-19T12:02:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:05:57.767+07:00</updated><title type='text'>Pelangi Air Mata</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/22/48/14224835/CSM105519.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jiwa takkan punya pelangi jika mata tak meneteskan air mata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;penutur tak diketahui&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelangi adalah keindahan langit. Ia ada ketika angkasa benderang. Bersih dari kepungan awan hitam. Juga deru angin hujan dan gelegar halilintar. Pelangi adalah kelembutan yang tercipta dari kesejukan tetes air yang mengembun. Menciptakan spektrum warna-warna penggubah pesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang mata adalah muka telaga. Jendela tak berdaun bilik hati. Tak ada selembar tiraipun dapat terpasang di situ. Sebab tak ada celah untuk menaruhnya. Ia seperti buluh berlubang yang tembus dari ujung ke pangkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu siapa air mata. Ia adalah pengikis bebatuan yang congkak lagi bebal. Yang bangga pada kekokohan. Karena ia sangka itu kedigdayaan. Padahal sejatinya adalah topeng kertas rapuh yang dengan sekali tiup terbang dan remuk. Air mata senjata ampuh tak menyakitkan. Sayatannya tak menerbitkan nyeri dan membuat darah berlinangan. Justru menyembuhkan nyeri luka yang berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata menitik membulir pasir, hadir menghikmati kedhaifan yang terus bergulir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112175160054022630?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112175160054022630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112175160054022630&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112175160054022630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112175160054022630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/07/pelangi-air-mata-jiwa-takkan-punya.html' title='Pelangi Air Mata'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112142113820074846</id><published>2005-07-15T15:34:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:06:30.764+07:00</updated><title type='text'>Sesuatu yang Paling</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/10/58/39/10583949/MX004726.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang umumnya memiliki sesuatu yang paling ia sukai. Dari sekian lembar pakaian di almari, pasti ada yang paling disukai. Demikian pula dengan sepatu, dasi, jam tangan, buku dan berbagai barang koleksi lainnya. Saking cintanya beberapa orang memperlakukannya bak &lt;em&gt;jimat&lt;/em&gt;. Disimpannya barang itu ditempat khusus dengan perlakuan yang penuh khusyu. Bila ada yang menyentuh, memindahkan apalagi merusakkan emosi bisa meradang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tiba-tiba ada yang meminta barang tersebut karena ia sangat membutuhkannya, bagaimana kira-kira reaksi si empunya. Umumnya akan menolak. &lt;em&gt;Boleh minta yang lain, tapi jangan yang itu deh!&lt;/em&gt;. Kira-kira begitu jawab si pemilik kepada si peminta. Dan ia akan mempersilahkannya memilih-milih miliknya yang lain, asal bukan yang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah ketika seseorang meminta selembar pakaian - tanpa menunjuk mana yang ia ingini - lalu si pemilik menjawabnya dengan memberikan baju yang paling ia sukai. Pikiran umum akan bilang, kecil sekali kemungkinan itu. Yang umum adalah memberikan yang jarang terpakai lagi oleh si pemiliknya. Mungkin karena kurang sreg dengan warna dan modelnya atau sudah tak pas lagi ukurannya dan banyak latar belakang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi, menghibahi dan berinfak adalah perbuatan mulia lagi indah. Tangan di atas lebih baik dari yang di bawah. Membantu dan menolong dengan membagi dan mendistribusi apa yang dimiliki kepada yang belum memiliki serta kekurangan hakekatnya adalah menggubah harmoni. Menjaga keseimbangan alam sosial agar tidak terguncang. Harmoni yang demikian tentu sangat indah. Melebihi indahnya hujan di pengujung bulan Juni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di tengah lingkungan yang terhimpit berbagai kekurangan adalah kenyataan terkini. Kebutuhan-kebutuhan berlomba memanjat bak deret ukur. Sementara pendapatan menjenjang seperti deret tambah. Makin lama kebutuhan tak terkejar penghasilan. Yang dahulu masih cukup kini menjadi kekurangan. Yang dahulu sudah kekurangan sekarang sedang menukik menuju titik kepapaan. Berita-berita memprihatinkan silih berganti menayang di mata dan telinga, mengabarkan kenyataan yang mungkin selama ini terbayang hanya terjadi di benua Afrika. Tiba-tiba sekarang terjadi di ruang tengah ibu kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---oOo---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menginfakkan sesuatu yang paling kita sukai dan cintai, adalah kebajikan yang sempurna&lt;/em&gt;. Meski kesempurnaan adalah idaman tiap insan, tapi patutlah kita berendah hati dengan meletakkannya sebagai bintang di angkasa tinggi. Sesekali kita tatap kerjap cahayanya dengan tangan tertangkup ke dada. Sedang kaki tetap memijak ke bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kesempurnaan dalam hukum manusia bukanlah kesertamertaan. Ia adalah buah ranum dari putik wangi konsistensi. Cukup saja kita di sini. InsyaAllah ia akan hadir sendiri. Tanpa kita ketahui.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112142113820074846?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112142113820074846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112142113820074846&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112142113820074846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112142113820074846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/07/sesuatu-yang-paling-setiap-orang.html' title='Sesuatu yang Paling'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112132171045120112</id><published>2005-07-14T12:00:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:06:59.292+07:00</updated><title type='text'>Marah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/11/46/24/11462499/73300.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amarah, marah adalah sebuah letupan tanpa pikir panjang. Begitu saja menggelegar hingar bingar tanpa jeda. Bak magma gunung membuncah dari kepundan menimbulkan letusan yang menggetarkan. Seperti sepeda tanpa rem, meluncur deras tanpa tertahan. Tak terkendali sehingga menabrak-nabrak kanan-kiri, depan-belakang, serta atas bawah. Delapan penjuru kebagian semua. Pokoknya semua basah kuyup tersemprot hujan kata-kata. Baik yang bersalah, kurang bersalah, tak bersalah, tahu, kurang tahu, dan yang sedikitpun tak tahu. Karenanya benar kalimat arif menjabarkan; &lt;em&gt;Amarah hanya akan membuahkan rasa malu&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya orang yang sulit menahan amarah, mengendapkannya kemudian menyarikan energinya untuk menyelesaikan masalah secara positif. Meskipun secara saya, saya juga bukan orang yang sering terletup amarahnya. Tetapi ketidakmampuan menahan marah sering membuat saya terganggu. Berpikir tercenung-cenung, setelah badai amarah reda. Yaitu saat langit pikiran jernih kembali. Saya baru menyadari, banyak kebodohan yang telah saya lakukan. Akibat rasa amarah yang leluasa menjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ saya mencoba, menekan dalam-dalam bila karena suatu hal emosi terpantik. Yang termudah adalah mencoba menegasikan pikiran-pikiran negatif yang biasanya serentak bermunculan. Mungkin ia lupa, bisa jadi ia tak sengaja, ini akibat kurang informasi saja, memang pribadinya sudah begitu dan ada banyak negasi lain untuk menetralkan benih pikiran negatif. Keadaan seimbang dan lapang itulah yang diinginkan. Sehingga jarak terhadap titik api permasalahan bisa direnggangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menjauhkan diri dari pusaran, akan ada ruang gerak yang cukup lapang untuk menelaah persoalan dari berbagai sudut yang memungkinkan. Diri bisa dilepaskan dari perasaan sebagai korban, sebagai tertuduh sekaligus satu-satunya musuh. Suatu perasaan yang bila terkipasi oleh rasa gengsi dan "martabat" sangat mudah meledakkan bom emosi. Dengan demikian perasaan tergesa-gesa serta spontanitas emosi yang menafikan kejernihan hati dan akal dapat dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati, ternyata kuncinya ada di sini. Saya harus lebih rajin mengaji, diri. Sendiri!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112132171045120112?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112132171045120112/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112132171045120112&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112132171045120112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112132171045120112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/07/marah-amarah-marah-adalah-sebuah.html' title='Marah'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112106154966139979</id><published>2005-07-11T12:06:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:07:28.878+07:00</updated><title type='text'>Jangan!!!</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/15/31/90/15319006/42-15319006.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa kali sehari kita berkata - kadang-kadang berteriak - &lt;strong&gt;jangan&lt;/strong&gt; kepada anak-anak kita. Terutama yang masih berusia balita. Kurang dari lima kali? Sepuluh kali? Atau tak terhitung berkali-kali. Mengapa kita berkata jangan kepada mereka? Khawatir karena tindakan mereka bisa &lt;em&gt;berbahaya&lt;/em&gt;? Takut barang yang mereka jamah dan mainkan rusak? Khawatir ada orang lain yang terganggu dan marah? Dan rasanya masih banyak khawatir dan takut-takut lain yang mendorong lidah kita berseru &lt;strong&gt;tidak!&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khawatir dan takut itu, tentu perspektif khas pikiran orang dewasa. Anak-anak balita belum banyak tercemari keduanya. Niat mereka masih mencakrawala. Belum terjeruji rasa takut dan khawatir. Mereka berbuat sesuatu karena ingin tahu dan mencontoh. Ingin bisa melakukan hal yang serupa dengan orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin sore, waktu mendung sudah menghitam saya persiapkan peralatan pertukangan. Sebuah gergaji baru yang belum sempat dikikir mata tajamnya, palu, tang, obeng dan paku. Janji untuk membuat rak, mendorong saya segera menuntaskannya. Si kecil, melihat saya menenteng bermacam alat di kedua tangan langsung sibuk mengekor di belakang. Mulutnya sertamerta bertanya &lt;em&gt;mau bikin apa bhi?&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat-alat saya taruh di teras, lalu saya jelaskan apa yang mau saya buat. Seperti biasanya tentu ia tak akan bisa diam. Oleh karena itu saya beri tugas dia menjaga paku-paku. Memisahkan antara paku baru yang putih dengan yang coklat karena bekas. Saya mulai memotongi kayu sesuai ukuran, ketika butir air hujan makin menderas. Atap beranda tak mampu mengusir tempias. Tapi pekerjaan sayang kalau tak tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela memaku kayu, kala palu tergeletak si kecil memungutnya. Mencoba mengayunkan mengetuk lantai keramik. Kontan, saya berseru jangan. Ups! Tak mudah berpuasa dari kata ini. Tak bijak melarang tanpa menjelaskan sebab. Dengan sesal yang masih tersisa saya menerangkan mengapa saya melarangnya. Keramik bisa pecah dan kaki bisa terluka. Kali ini ia lupa. Biasanya ia tangkas menjawab. &lt;em&gt;Aku hati-hati kok bhi!&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bilah-bilah papan sudah terpaku pada landasan reng kayu, imaji kecilnya terbit seketika. &lt;em&gt;Jembatan-jembatan!&lt;/em&gt; Sembari kaki kecilnya melangkah di atas bilah papan. Teringat janji tadi, saya mengunci mulut, rapi. Hanya mata yang memandang penuh berjuta harap. Papan tipis dari kayu lunak itu tak patah atau retak tertindih beban belasan kilogram. Syukurlah semua aman. Dua papan yang belum saya satukan ia bawa ke dalam. Mencari tempat longgar untuk bermain jembatan-jembatanan. Ketika saya memintanya, ia mengembalikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dahulu bilang, alah bisa karena biasa. Gagal mencoba sudah biasa. Tak pernah gagal, tak sempat kita belajar. Betapa pun sulitnya mengubah kebiasaan, tetap harus diusahakan. Mengubah kebiasaan berarti mengubah perspektif pikiran. Kalau tidak ingin kreatifitas mudah layu dan terkebumikan, haruslah pelit mengumbar kata &lt;em&gt;jangan&lt;/em&gt;. Tapi ya itu tadi, buat yang satu ini, tak mudah untuk pelit!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112106154966139979?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112106154966139979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112106154966139979&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112106154966139979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112106154966139979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/07/jangan-berapa-kali-sehari-kita-berkata.html' title='Jangan!!!'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112070778171778996</id><published>2005-07-07T09:29:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:08:14.361+07:00</updated><title type='text'>Celoteh 100 Mulut Mungil</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/48/39/14483969/CRBR002067.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seratus mulut berbarengan menceloteh. Ada dua ratus kaki bersamaan bergerak ke segala arah. Keriuhan membahana. Lalu lintas tak karuan bergerak tak tentu arah. Dan saya terjebak di tengah. Dengan golakan perasaan dan pikiran orang dewasa. Berjuang menyengketakan kerapihan dan keteraturan melawan keriangan dunia kanak. Sejenak saya berhenti berpikir, mencoba menengok lebih dalam ke dasar hati. Lalu muncullah sebaris tanya: &lt;em&gt;tegakah saya mencederai keriangan kanak dengan "keteraturan" milik saya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya ada di langit pagi. Saya menengadah berusaha mencari senyum yang hilang di sela ketiak awan-awan putih yang mengambang. Langit pagi dengan siraman cahaya keemasan dari kelembutan ibu mentari. Akhirnya saya temui senyum di atas sana. Dan serta merta bibir saya tak kuasa untuk membentuk lengkungan, meski tak seberapa. Saya tetap tengadah, karena tak ingin lengkung saya menimbulkan tanda tanya dalam benak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian menit, menikmati hingar bingar yang telah berubah menjadi simponi alam dan tubuh berlarian tampak bak tarian, jemari saya mengangkat mikrofon.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Siapa yang tahu lagu bercocok tanam?"&lt;/em&gt; Tanya saya seketika bersahut jawab, celoteh dan gumam ribuan lebah. Telinga yang tak terlatih menera bunyi di keriuhan harus dipaksa ekstra keras mendengar.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Cangkul-cangkul yang dalam...."&lt;/em&gt; Seorang gadis kecil dengan manik-manik keringat di ujung hidung dengan semangat menyanyikan &lt;em&gt;reffrain&lt;/em&gt;nya. Teman-teman lelaki kecilnya mengikuti dengan kreatifitas mengubah syair khas anak kecil. Dalam hati saya tertawa mendengar &lt;em&gt;kenakalan&lt;/em&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saya yang benar-benar lupa. Kehilangan syair lagu itu. Hanya melodi yang mencuat teringat dalam benak. Saya coba merangkai-rangkai lagu dari celotehan mereka. Akhirnya ketemu juga bait awalnya. Dengan iringan lagu &lt;em&gt;bercocok tanam&lt;/em&gt; dan gebahan komando dari megafon yang saya sandang, serempak bergeraklah seratus pasang kaki itu. Ketika kelokan terlewati dan "kebun" telah tampak di depan, dua ratus telapak kaki berdebam berlarian mencari lubang-lubang untuk menanam. Tanah mengepul digebuk kaki-kaki mungil, dan saya memperlambat langkah. Tak ingin kehilangan pemandangan wajah ceria penuh gairah, harap, dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas maghrib, dalam balutan dingin angin berbaur tempias hujan benak saya mengajak kembali menelusuri kisah pagi tadi. Betapa sederhananya, menanam sebatang dua batang sereh di lubang tanah yang tak ada sejengkal dalamnya. Yang dari sudut ilmu pertanian dan biologi tak memenuhi kaidah ilmiah. Yang dalam pandangan orang dewasa remeh dan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi anak-anak, pagi tadi sangat mungkin menjadi salah satu pagi yang terindah. Yang telah mengguratkan warna baru dalam bianglala pengalamannya. Dan tak ada yang remeh dalam ketulusan bekerja seorang kanak. Sehingga malam ini, langit menjawabnya kontan. Dengan air menderas menghujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;em&gt;semuanya sederhana, tak sebanding dengan program serupa yang ditawarkan biro-biro. karena kesederhanaan ini yang didamba terbawa dalam pribadi-pribadi kecil itu saat pulang ke rumah dan kembali ke sekolah. dengan melatih diri mencicipi titian para pejalan sunyi.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112070778171778996?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112070778171778996/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112070778171778996&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112070778171778996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112070778171778996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/07/celoteh-100-mulut-mungil-ada-seratus.html' title='Celoteh 100 Mulut Mungil'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112046591725925869</id><published>2005-07-04T12:11:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:08:54.519+07:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan Mike!</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/24/12/14241212/8207-SP-293-AC9377.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dari satu sisi saya merasa hidup itu adalah keinginan untuk mendapat sesuatu. Tapi ketika kehidupan berlanjut, kita akan lebih banyak kehilangan ketimbang mendapatkannya"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendapati kalimat itu di sebuah harian olah raga yang sudah kusut terlipat-lipat. Si pemilik atau pembaca terakhirnya meninggalkan begitu saja di atas pilar beton mendatar. Di dalam kamar kecil. Sepertinya koran ini telah berjasa menemani beberapa orang pengunjung peturasan ini. Yang terakhir tentu saya. Mengapa? Sebab setelah itu koran ini saya bawa bersama keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Gara-gara sebaris kalimat tadi. Tak hanya isinya yang mengundang untuk disimak lebih dalam, tetapi penuturnya. Mike Tyson! Si leher beton inilah yang mengucapkan kalimat tadi. Mantan juara dunia tinju profesional kelas berat termuda dalam sejarah - saat itu ia berusia 20 tahun - mengatakan itu selepas pertarungannya melawan Kevin McBride. Ia sendiri menderita kekalahan TKO pada ronde keenam. Pertarungan yang diniatinya menjadi akhir dari karier bertinjunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ia telah lelah? Atau mungkin frustasi setelah dililit utang hingga 300 juta dollar? Bisa jadi. Sebab hampir semua orang pernah mengalami hal tersulit dalam hidupnya. Dan ini mungkin saat-saat Tyson mengalaminya. Namun yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kita mendeskripsikan kembali diri kita kemudian bangkit dari keterpurukan yang menimpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Saya harus punya kontribusi terhadap sesuatu. Jika tidak, maka secara emosional saya sudah mati".&lt;/em&gt; Demikian Tyson mengucapkan tekadnya. Ia menyadari bahwa yang membuat seseorang mampu bertahan dan "hidup" adalah "bergerak". Bekerja dan berbuat sesuatu untuk diri sendiri maupun orang lain. Sekali diam dan mengungkung diri hakikatnya kematian telah menjemput lebih dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja secara psikologis akan membuat seseorang memiliki eksistensi. Merasa ada dan diberadakan. Tak jarang kita baca dalam berita, orang yang kena pehaka mengakhiri hidupnya sendiri. Mengapa? Karena ia merasa dirinya sudah tak berarti. Hidupnya pun sudah tak berarti. Alur  berpikir seperti ini akhirnya tiba pada konklusi, buat apa hidup kalau begini. Lalu jalan pintas pun ditempuh melalui cabang pohon dan temali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Simpan airmata anda. Saya tidak tahu bagaimana mengatasi orang menangis. Saya orang yang dingin, kejam dan keras. Anda hendaknya tidak menjadi sensitif ketika hal itu terjadi pada saya."&lt;/em&gt; Begitulah pesan terakhir Tyson pada penggemarnya. Saya sendiri tak tahu apakah benar-benar ada fansnya yang berurai air mata mendengar kata terakhir pengunduran dirinya dar ring tinju. Tapi dalam kalimat itu tersisip kejujuran hati Tyson tentang seperti apa dirinya. dan dari situ ia berharap mereka tak perlu terlalu khawatir dengan pengunduran dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ia ingin berucap: &lt;em&gt;jangan khawatir, saya baik-baik saja&lt;/em&gt;. Sebuah sikap yang khas dari seorang yang  besar di tengah kerasnya persaingan kehidupan di jalanan. Meski sikapnya keras seperti itu, toh ia cukup berendah hati. Mengakui bahwa ia memiliki keterbatasan. Katanya: &lt;em&gt;"Saya tak pernah berhasil di negeri ini. Karena saya sudah ternoda. Saya harus pergi ke suatu tempat di luar negeri."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sebuah tempat tak lagi menjanjikan bagi sebuah benih kebaikan tumbuh, mengapa tak mencari ladang lain. Semasih di bawah cakrawala semua adalah bumi Yang Mahakuasa. Selamat jalan Mike!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112046591725925869?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112046591725925869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112046591725925869&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112046591725925869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112046591725925869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/07/selamat-jalan-mike-dari-satu-sisi-saya.html' title='Selamat Jalan Mike!'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-112003859604693665</id><published>2005-06-29T13:46:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:09:35.715+07:00</updated><title type='text'>Rindu Takzim Dedaunan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/15/31/86/15318601/42-15318601.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Malang awal 90-an, ketika bemo mulai terpinggirkan oleh angkot, dan halimun juga kabut terdesak asap knalpot, masih tersisa hawa dingin yang meluruh dari lereng  arjuno. Adalah kemarau, saat yang tepat bagi kulit merinding di sapu angin dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sore menyongsong senja dalam temaram cahaya tembaga, angin bersiut di cuping telinga. Menyisakan hembus kristal es di ujungnya. Mengajak kedua lengan bersidekap, menarik bilah jaket rapat ke dada. Mencari kehangatan yang memunah digebah angin senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan sendiri di bawah tatap mahoni yang berbaris rapi, mata sibuk menatapi salip menyalip sepatu sendiri. Bak permadani, di atas aspal terhampar serakan dedaunan mahoni. Hijau kecoklatan, pertanda sempurna sudah masa bergayut di dahan. Angin bersiut-siut mengajak dedaunan melayang berputar bak darwis-darwis Rumi. Satu dua jatuh tepat di arah pijak sepatu. Dan tak pelak lagi, &lt;em&gt;kriess&lt;/em&gt; tapak sepatu memijaknya setengah ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekejap ada jengah melindap di dada. &lt;em&gt;Kriess&lt;/em&gt; terdengar menjelma jerit sekarat dedaunan yang baru usai menari riang menyongsong kematian. Oh tidak, dedaunan itu tak mati. Ia hanya berubah wujud materi. Setelah usai menjadi daun, ia menjelma tanah melalui mahakarya jasad renik yang rajin lagi ramah. Riang mengucap salam pada tiap helai daun yang rebah. Tanpa keluh kesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tanah, kaliptra akan menjemputnya, mengantarnya melalui jalan kambium menuju dedaun. Tibalah kerja cahaya matahari menanaknya. Menjadikannya makanan lezat untuk memperbesar lingkar tahun di pokoknya. Untuk menumbuhkan putik-putik bunga yang mendamba ranum buah di musimnya. Juga pucuk-pucuk dedaun muda, jejalar akar dan memanjangkan lengan-lengan dahan serta lenting ranting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun bukanlah daun. Ia adalah materi yang takzim menunaikan fungsi. Meski bukan dedaun, manusia rindu takzim para daun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-112003859604693665?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/112003859604693665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=112003859604693665&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112003859604693665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/112003859604693665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/06/rindu-takzim-dedaun-kota-malang-awal.html' title='Rindu Takzim Dedaunan'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111996116303792101</id><published>2005-06-28T19:11:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:10:05.861+07:00</updated><title type='text'>Belum Ada Posting</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku takut gelap malam&lt;br /&gt;:sebenarnya yang kutakuti adalah kepengecutanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak suka sampah menumpuk di pojok halaman&lt;br /&gt;:sebenarnya yang tak kusukai adalah kemalasanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak senang orang bersuka dengan keberhasilan&lt;br /&gt;:sebenarnya yang tak kusenangi adalah kekerdilanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak nyaman dengan segala ketidaksenanganku&lt;br /&gt;:karena aku tak pernah berhasil mengenali aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;maaf, belum ada posting&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111996116303792101?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111996116303792101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111996116303792101&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111996116303792101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111996116303792101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/06/belum-ada-posting-aku-takut-gelap.html' title='Belum Ada Posting'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111924426834388287</id><published>2005-06-20T11:02:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:10:41.760+07:00</updated><title type='text'>Pelangi di Langit Malam</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/81/43/14814396/HA001799.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temaram tempias remang cahaya lampu beranda tak mampu sembunyikan kecewa yang merebak di wajahnya. Bibir mungilnya manyun membentuk o kecil. Dihela rasa penasaran, tengadah wajahnya diputarkan menuruti pusaran badan. Berharap ia muncul meski sekelebat dari ketiak gulita malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Bulannya gak ada ya..???"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Iyya gak ada Bhi!..."&lt;/em&gt; Jawabnya penuh kecewa&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Ketutup awan! Bulannya ketutup awan Bhi. Jadi gak keliatan deh"&lt;/em&gt; Katanya menjelaskan sebab musabab rembulan menghilang.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Kalau bintangnya ada gak?"&lt;/em&gt; Tanya saya mencoba melipur kecewanya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Ada tuh!"&lt;/em&gt; Ujarnya sembari telunjuk lentiknya menunjuk ke atas.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Ada berapa?"&lt;/em&gt; Kembali saya menghadiahinya dengan tanya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Satu... dua... tiga... empat... lima. Lima Bhi?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Yang itu belum dihitung!"&lt;/em&gt; Kata saya sembari mengarahkan tangan dan pandang ke bintang yang kerdip cahayanya lemah di arah tenggara.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Kalau gitu jadi berapa semua?"&lt;/em&gt; Tanay saya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Enam! Ada enam Bhi!"&lt;/em&gt; Jawabnya mantab, semantab sorot matanya ke wajah saya. Saya mengangguk mengiyakan. Lalu mengajaknya menyudahi mengamati langit malam. Kekhawatiran ke-orangtua-an saya terhadap dinginnya angin malam, mendorong mengajaknya segera masuk kembali ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila rasa kantuk belum mengakrabinya dan buku atau mainan lain tak berhasil mengalahkan rasa bosannya, ia akan berlari ke halaman muka. Terutama saat kerenyit engsel pintu pagar berbunyi karena hendak saya tautkan. Ia akan berlari mengejar dan kedua tangannya sigap menahan. Seperti bicara kepada teman sebaya ia mengajak saya melihat bulan. Iya bulan, bukan bintang. Mungkin karena bulat besar dan lebih terang bercahaya, maka bulan lebih menarik baginya. Dibanding gemintang yang bertebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi cuaca pancaroba - oh bahkan semestinya kemarau sudah menimpa karena bukankah april sudah dua bulan berlalu? - di langit di atas kawasan kediaman kami kerap menebar tabir awan hingga bulan sebercahaya tanggal muda pun tak mampu menembusnya. Rasa kecewa yang kerap kali menjeratnya karena tak bisa bertemu bulan idamannya, tentu bagus untuk mengajarnya tak henti berharap, bersabar dan tak mudah menyalahkan. Bukankah mendung yang malam ini terlihat kejam membungkus rapat rembulan esok hari akan mengirim hujan. Berjuta titik air yang akan menjaga kelangsungan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu saya menjelaskan, suatu kala saat ia menggugat awan hitam karena pikirnya kejam. Tentu tak arif mengharapnya cepat memahami keseriusan siklus alam. Tapi setidaknya ia bisa dihindarkan dari penghitamputihan permasalahan. Bahwa awan bukanlah lawan kejam rembulan. Hujan tidaklah kesialan yang merampas kecerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu malam, sembari berbincang sambil berjalan memintas pelataran mata saya menatap sesuatu di angkasa. Saya berhenti karena tak sanggup untuk tak menengadah ke atas. Aha!... Ada rembulan tak benar-benar bulat pepat purnama. Tapi bersinar penuh cahaya. Dan sekelilingnya, ada pendar rona bianglala menari mengitari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nak, apakahkah kamu malam ini mendongakkan kepala menatap angkasa kelam. Kau lihat, rembulan dan awan tak pernah benar-benar bermusuhan kan?... Mereka sejatinya berkawan. Seperti malam ini, mereka berdua melukis langit kelam dengan tarian bianglala.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111924426834388287?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111924426834388287/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111924426834388287&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111924426834388287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111924426834388287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/06/pelangi-di-langit-malam-temaram.html' title='Pelangi di Langit Malam'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111873938984688270</id><published>2005-06-14T15:15:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:11:19.367+07:00</updated><title type='text'>Seperti Burung Nasar</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/41/02/14410243/71235-18.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih? Sudah pasti! Orang tua mana yang tak sedih bila darah dagingnya diomongkan tak sesuai kenyataan. Yang sesuai kenyataan saja masih bikin hati tersinggung. Apalagi ini yang tak pas kenyataan. Yah! inilah bentuk rasa melindungi orang tua akan anaknya. Tak mudah terima omongan dan penilaian negatif terhadap anaknya. Dan yang namanya orang lain, pasti berbeda sudut pandang dan hasil penilaiannya. Juga yang namanya orang, sudah umum kalau lalu mengeluarkan pandangannya dalam bentuk kata-kata nyaring lagi terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya tak jarang bermula dari hal itu terjadi perbantahan. Bahkan adu pukul dan berhantam. Lalu berseteru puasa bicara dan menyapa. Kalah jaman revolusi, Belanda dan Indonesia saja mengenal gencatan senjata. Lha ini, jelas-jelas bukan perang revolusi kok gencatan permusuhan saja &lt;em&gt;emoh&lt;/em&gt;. Aneh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebetulnya tak seberapa aneh. Dalam kultur masyarakat yang terbiasa saling mengintip halaman tetangga, asumsi, prasangka, dan prakira tak bisa dibedakan dari isu, gosip dan omong kosong. Semua berseliweran bak lalulintas ibukota di hari kerja. Yang awalnya sekedar praduga, lama-lama diyakini benar begitu adanya. Lha yang mendengar kok tega-teganya percaya begitu saja. Tak menyayangi kejenialan otaknya dengan percaya begitu saja pada sesuatu yang bila mau dipikir pendek saja punya banyak keanehannya. Apalagi kalau mau lebih capek sedikit, menakarnya dengan hati. Akan tampak jelas dan gamblang kalau perilaku ini &lt;em&gt;njomplang&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak mungkin sebuah contoh pangkal sebab saja. Sebab dalam sehari-hari banyak sekali sesuatu yang bisa menjadi awal musabab sebuah pikiran negatif membetik. Dan sayangnya kita tak sepenuhnya sadar telah terhanyut dalam lakon semacam ini. Padahal seperti telah diperingatkan, manusia yang demikian setali tiga uang dengan burung nasar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111873938984688270?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111873938984688270/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111873938984688270&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111873938984688270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111873938984688270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/06/seperti-burung-nasar-sedih-sudah-pasti.html' title='Seperti Burung Nasar'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111873676387789017</id><published>2005-06-14T14:12:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:11:51.790+07:00</updated><title type='text'>Air Susu, Ego dan Tuba</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/15/32/05/15320562/42-15320562.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah lelaki kecil yang belum lagi genap lima tahun usianya, melangkah yakin melintas pintu pagar. Tanpa ba bi bu ia melewati ambang pintu. Yang empunya rumah, seorang ibu dari gadis kecil menginjak empat tahun, mencegatnya. Dengan lembut namun tegas ibu tersebut mengingatkan jejaka kecil tadi kalau ia belum mengucap salam. Si bocah bergeming. Ibu tersebut kembali memintanya mengulangi adegan masuk rumah sambil menguluk salam untuk penghuni di dalam. Alih-alih menuruti, bocah itu langsung balik kanan keluar. Dari luar dengan berteriak ia memanggil salah seorang temannya yang sejak tadi asyik bermain di dalam. Alasannya nenek anak itu memanggil. Padahal nenek si anak tersebut sama sekali tidak memanggil cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tadi adalah sebuah fragmen kecil tentang ego seorang anak. Bagaimana ia menghadapi perbenturan antara keinginannya yang berbeda dengan keinginan orang lain. Tampaknya bocah tersebut belum terbiasa menegosiasikan keinginannya. Dalam keseharian di rumah, lingkungan terdekatnya terbiasa menuruti kemauannya. Biasa memenangkan dan mengutamakan dirinya dengan mengalahkan dan menomorduakan yang lain. Semua diharapkan mengerti dan mengalah padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka terciptalah kondisi &lt;em&gt;sayalah yang nomor satu&lt;/em&gt;. Ketika di rumah dalam lingkungan yang sudah ter&lt;em&gt;setting&lt;/em&gt; untuk selalu mendahulukannya mungkin tak sering terjadi perbenturan yang berujud pada perbantahan atau lengking tangis senjata pamungkas. Tetapi ketika di luar lingkungan di mana orang lain tak melulu mau tunduk pada kemauannya, ia tak siap menegosiasikan kemauannya. Kebersikukuhannya untuk tak mau menenggang aturan atau keinginan orang lain berujung pada sebuah pilihan. Bergabung dengan mengkompromikan keinginan-keinginannya atau pergi dengan membawa bongkah keinginan yang tak terpecah sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pilihan sikap kedua sayangnya tak selalu diiringi dengan kebesaran hati. Penolakan kerapkali diiringi dengan memerciknya api iri. Ini terlihat dari &lt;em&gt;kebohongan&lt;/em&gt; memanggil teman yang sedang asyik bermain di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana seorang anak mencontoh sikap seperti ini? Secara logika tentu tak sulit menebaknya. Orang tua! Orang tualah pangkal sebabnya. Sebagai pencipta &lt;em&gt;rule&lt;/em&gt; di rumah sekaligus pemegang otoritas dan pelaksananya orang tua hendaknya menghindari kondisi &lt;em&gt;penganakemasan&lt;/em&gt;. Kondisi tak sehat akibat tidak adanya sikap yang berimbang dan adil dalam menghadapi anak menyebabkan si anak juga tak mampu berimbang bersikap pada sekitar. Anak kurang mampu memahami posisi orang lain, sehingga ia sering terbiasa untuk mementingkan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada keseharian, kondisi seperti ini sering saya lihat menjadi bumerang. Karena berbalik menyerang kepada diri orang tua. Ibarat pepatah, maksudnya memberi air susu, karena berlebihan malah mendapat tuba.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111873676387789017?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111873676387789017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111873676387789017&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111873676387789017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111873676387789017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/06/air-susu-ego-dan-tuba-bocah-lelaki.html' title='Air Susu, Ego dan Tuba'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111821499627482717</id><published>2005-06-08T13:37:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:12:25.026+07:00</updated><title type='text'>Sebaskom Air</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/10/28/96/10289633/IH061020.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di trotoar depan kantor beliau lalu. Memakai sarung hijau kotak-kotak dengan hem lengan pendek yang warna putihnya memudar dan tenunan benangnya mulai menerawang. Namun baju itu bersih. Sebersih wajahnya yang berteduh di bawah kopiah beledu hitam. Di pundak kiri beliau tersampir tas yang lambungnya kempis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan, ya tangan beliau mulai dari pangkal lengan hingga ujung jemari tak tumbuh sempurna. Tangan itu panjangnya sesiku dengan tiga jemari yang tumbuh tanpa telapak tangan. Kawan-kawan sopir yang sedang istirahat di depan menghibahkan lembaran uang. Digamitnya dengan jemari tangan kanan dan kiri sementara lidahnya  tak henti melafalkan doa dan syukur. &lt;em&gt;Saya cuma minta doanya pak!&lt;/em&gt;. Pesan salah satu dari mereka setelah menghadiahkan lembaran rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak melihat beliau mendekati kawan-kawan sopir itu dengan menengadahkan tangan meminta-minta. Tapi kawan-kawan itu yang menghampiri beliau. Tentu ada &lt;em&gt;sesuatu&lt;/em&gt; yang menjadi alasan. Kekeruhan masih menghalangi saya menyauk kejernihannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111821499627482717?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111821499627482717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111821499627482717&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111821499627482717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111821499627482717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/06/sebaskom-air-di-trotoar-depan-kantor.html' title='Sebaskom Air'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111821004683491597</id><published>2005-06-08T12:15:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:13:05.339+07:00</updated><title type='text'>Pacaran Itu Apa Sih Bhi?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/39/17/14391757/AAHZ001249.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore. Layar kaca sedang menayangkan berita hiburan. Yang empunya cerita sedang berkisah tentang hubungan dua pesohor. Tercetus kata pacar dalam paparan kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Bhi, pacar itu apa sih?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tanya balita yang belum genap tiga setengah tahun menghirup udara dunia. Lelaki dewasa yang kian hari makin lapang dahinya cuma bisa bengong persip sapi ompong. Untung reflek mengelak masih belum hilang. Seakan tak ada apa-apa, lelaki itu menunjuk buku mewarnai yang sedang diwarnai balita itu. Untuk sementara aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam. Soleh, Sahili dan seorang teman sedang berbincang. Soleh, sia anak asuh Oneng, membawa sebuah kertas dilipat-lipat kecil berisi pesan untuk Sahili. Sahili meminta kertas itu diberikan padanya. Soleh melemparnya. Dengan sigap Sahili menangkapnya. Dengan tersipu Sahili dan temannya membuka lipatan kertas itu. Soleh setengah menuduh berkata pada Sahili; &lt;em&gt;Abang pacaran ya sama dia?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Bhi, pacaran itu apa sih?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengalihkan perhatian dari buku gadis kecil itu sekonyong-konyong menyodorkan tanya. Pria dewasa yang merasa dari hari ke hari agak meluas jidatnya langsung tertohok untuk kedua kalinya. Sejenak ia kelimpungan, sebelum ilmu ngelesnya yang hampir ia lupa tiba-tiba bekerja. Secepat copet jemarinya meraih majalah kanak-kanak di atas rak dan sembarang halaman ia buka. Meski perhatiannya tak kesitu, mulutnya cepat mengomentari pekerjaan gadis kecil di buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh lelaki dewasa itu meski pernah merasa cukup ahli ngeles, tidak ingin mempraktekkan pengelakan menghadapi pertanyaan ini. Ia cuma kepepet saja. Sebab meski dahinya makin lapang sehingga kian mudah menangkap sinyal tapi kali ini tak ada ide cukup cerdas ia miliki untuk menjawab pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda punya jawaban pertanyaan itu untuk anak yang baru mahir mengayuh sepeda roda empat - yang dua, roda kecil di kiri kanan roda belakang. Kalau ada, bolehlah bantu saya. Tabik!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111821004683491597?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111821004683491597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111821004683491597&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111821004683491597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111821004683491597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/06/pacaran-itu-apa-sih-bhi-suatu-sore.html' title='Pacaran Itu Apa Sih Bhi?'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111820762444449699</id><published>2005-06-08T10:10:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:13:40.132+07:00</updated><title type='text'>Mengumbar Kata</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/45/23/14452308/20188-23.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak pernah berhasil menikmati sinetron. Kecuali ketika &lt;a href="http://www.indosiar.com/ez/ez_read.htm?id=4849"&gt; Si Doel Anak Sekolahan &lt;/a&gt;besutan Rano Karno tayang di televisi. Sinetron terakhir yang kadang masih sempat saya saksikan adalah &lt;a href="http://www.detikhot.com/index.php/tainment.read/tahun/2005/bulan/05/tgl/21/time/121316/idnews/366371/idkanal/221"&gt; Bajaj Bajuri&lt;/a&gt;. Itupu edisi tayang ulang. Semua berawal dari penilaian yang sudah terbentuk di benak saya. Bahwa hampir semua sinetron menyajikan cerita dan adegan yang mengawang entah di langit lapis ke berapa. Dan beberapa kilas saya saksikan memang demikian. Alasan lain, karena waktu tayang sinetron tak pas dengan kesenggangan saya. Jadilah saya makin buta sinetron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinetron memang bukan tayangan untuk anak-anak, apalagi balita. Karena itu beberapa stasiun televisi memberi tanda huruf BO dalam bulatan saat menyiarkannya. BO adalah akronim dari Bimbingan Orang tua. Tetapi realitanya tak semua orang tua bisa mendampingi anak-anaknya saat tivi menyala. Ditambah teknologi &lt;em&gt;remote&lt;/em&gt; yang memudahkan anak mengubah-ubah saluran sesukanya. Kadang kita menganggap anak juga mengerti, bahwa apa yang tertayang di televisi adalah bukan kenyataan. Jadi tak perlu harus terlalu mengkhawatirkan dampaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menjerikan dari sinetron-sinetron itu adalah adegan perbantahan, perselisihan yang biasanya diakhiri dengan perkelahian. Sepertinya sudah menjadi hal yang harus ada, sehingga dalam adegan itu begitu banyak dimuntahkan kata-kata tak pantas dan tak sedap sebagai bentuk dramatisasi dari kemarahan yang memuncak. Akting wajah yang di&lt;em&gt;close up&lt;/em&gt; menampakkan aroma angkara murka yang tak terkira-kira. Meski dalam penilaian orang dewasa tampaknya terlihat sangat dilebih-lebihkan dan tidak natural. Tetapi apakah demikian tertangkap dalam jiwa anak-anak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya khawatir yang terjadi adalah sebaliknya. Anak-anak mengira memang demikianlah cara mengatasi perselisihan. Mengadu urat leher dengan berondongan kata-kata tak enak dan bila masih kurang diteruskan dengan berhantam. Dalam benak yang ada hanyalah kata kalah atau menang. Kesadaran melihat perselisihan adalah sebuah hal yang wajar dan dapat diatasi dengan cara yang cerdas tak dapat tumbuh subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bijak bilang, kata adalah jendela hati. Kanak memang belum cukup mengerti &lt;em&gt;rasa&lt;/em&gt; sebuah kata. Namun bila ia sering melafalkannya untuk menunjukkan ekspresi hatinya, mungkin suatu waktu hatinya memang benar-benar terekspresikan seperti kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia tanpa kekerasan memang seakan impian. Sebab kekerasan bukan hanya memar akibat tumbukan kepalan. Bisa juga luka akibat sayatan kata. Dan bilah pisau kata berhamburan dari layar kaca.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111820762444449699?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111820762444449699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111820762444449699&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111820762444449699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111820762444449699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/06/mengumbar-kata-saya-tak-pernah.html' title='Mengumbar Kata'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111759109882650031</id><published>2005-06-01T08:57:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:14:14.561+07:00</updated><title type='text'>Sebelum Terlambat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/13/53/14135308/PE-036-0250.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mari kita memutar balik jarum jam&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;Seorang anak sambil menangis meninggalkan sekolahnya. Ia mengenggam selembar kertas di tangannya yang dititipkan gurunya untuk diberikan kepada orangtuanya. Di atas kertas itu tertulis, &lt;em&gt;"Karena anakmu terlampau bodoh dan tak mampu memahami pelajaran serta menghambat kemajuan proses pelajaran sekolah, dan demi rasa tanggung jawab kami terhadap murid-murid yang lain, maka kami sangat mengharapkan agar anak ini secara terhormat menarik diri sendiri dari sekolah."&lt;/em&gt; Setelah membaca nota tersebut, ibunya tak mampu menahan sedih. Air matanya mengalir deras. Ia sama sekali tak percaya kalau anaknya itu terlampau bodoh dan tak mampu memahami pelajaran sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;Dengan susah payah ia mengikuti pelajaran di sekolah. Disklesia membuatnya kesulitan belajar membaca, menulis dan mengeja. Akibatnya ia tak pernah benar-benar bisa membaca sebuah buku sampai tamat. Karena kondisinya demikian, ia diajar oleh seorang guru khusus &lt;em&gt;special needs&lt;/em&gt;. Ia pun lulus sekolah menengah dengan nilai amat pas-pasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)&lt;br /&gt;Gadis kecil itu, dengan segala keluguan dan kepolosannya,tak pernah bisa benar-benar duduk &lt;em&gt;manis&lt;/em&gt; seperti murid lainnya. Ada saja aktivitas &lt;em&gt;tak lumrah&lt;/em&gt; dilakukannya di dalam kelas. Suatu waktu saat awal bersekolah, ketika semua murid telah duduk tenang di bangku masing-masing, ia malah asyik membuka-tutup meja. Ini sangat mengganggu, begitu pikir gurunya. Di lain waktu ia melihat pengamen lewat di jalan samping ruang kelas. Ia menyapa mereka dan mengajaknya bercakap-cakap melalui jendela. Sedangkan seluruh kelas sedang serius belajar. Habis sudah kesabaran si guru. Gadis kecil itu dipulangkan dari sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sekarang kita putar jarum jam ke depan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak pada kisah pertama setelah dewasa kita kenal sebagai &lt;a href="http://thomasedison.com/"&gt; Thomas Alva Edison&lt;/a&gt;. Penemu bola lampu dan phonograph serta pemilik 1093 paten atas berbagai temuan. Pada hari kematiannya tanggal 18 Oktober 1931 malam hari jam 21.55, seluruh Amerika memadamkan lampu sejenak untuk mengenang jasa-jasa besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada cerita kedua, kanak itu setelah dewasa dikenal sebagai &lt;em&gt;chef&lt;/em&gt; handal nan terkenal, &lt;a href="http://jamieoliver.net/"&gt; Jamie Oliver&lt;/a&gt;. Pemilik acara memasak &lt;a href="http://jamiesdinners.com/"&gt; Jamies Dinner&lt;/a&gt; di televisi Channel 4 Inggris. Dalam usia muda ia berhasil memikat jutaan pemirsa dengan atraksi kulinernya di layar kaca. Buku memasaknya terjual jutaan eksemplar. Acara memasaknya di televisi meraih &lt;em&gt;rating&lt;/em&gt; tertinggi. Para pesohor melanggani restorannya yang harus berbulan-bulan mem&lt;em&gt;booking&lt;/em&gt; bila ingin makan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan gadis kecil yang tak bisa diam dalam kisah ketiga nantinya dikenal dunia sebagai &lt;a href="http://http//www.unicef.org/people/people_tetsuko_kuroyanagi.html"&gt; Tetsuko Kuronayagi&lt;/a&gt;. Ia adalah penulis buku &lt;em&gt; &lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0307/19/pustaka/436223.htm"&gt; Totto-chan: The Little Girl at the Window&lt;/a&gt; &lt;/em&gt;. Sebuah buku yang banyak memberi inspirasi pada pecinta kanak-kanak di seluruh dunia. Ia juga &lt;em&gt;host&lt;/em&gt; televisi tersohor di negerinya, Jepang. Dan pernah ditunjuk sebagai Duta Besar &lt;a href="http://http//www.unicef.org/people/people_tetsuko_kuroyanagi.html"&gt; UNICEF &lt;/a&gt; untuk Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan dalam kisah-kisah di atas adalah keberhasilan untuk tidak terjebak dalam stigma dan &lt;em&gt;judgement&lt;/em&gt; yang semena-mena. Yang terjadi akibat kekurangpahaman dan kekurangsabaran orang dewasa untuk mengerti bahwa dunia anak-anak itu sangat beragam. Tiap anak mempunyai dunia sendiri dengan aneka rupa warna tingkah polahnya. Pandangan tentang ukuran yang baik dan benar untuk anak-anak ditentukan secara subyektif berdasar pengetahuan dan pengalaman tiap-tiap orang dewasa. Semuanya menyatu bermuara membentuk sebuah &lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt; tentang &lt;em&gt; bagaimana potret anak yang baik&lt;/em&gt; dalam benak khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunda Thomas Alva Edison tidak mau pasrah dan menyerah pada &lt;em&gt;prasangka&lt;/em&gt; guru anaknya dan juga sebagian tetangganya. Ia berbesar hati dan bertekad mendidik anaknya semampunya. Memang bukan ilmu pengetahuan yang diberikannya pada anaknya. Tapi sebuah kunci, kunci untuk membuka pintu khazanah ilmu. Yaitu sikap dan cara berpikir yang sangat positif, yang membuat Thomas A. Edison menjadi seorang ahli yang tak pernah berhenti dan frustasi mencari dan mencari. Sebelum yang ia kehendaki tertemui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan Jamie Oliver, saya kira dibalik kesuksesan ada peran ayah-ibu yang sangat berarti. Disklesia bukanlah akhir dunia. Bukan pula tamatnya cita-cita akan sebuah karir. Sebab dunia tak musti direngkuh melulu melalui menulis, membaca dan buku. Ada indera pengecap rasa, pencium aroma, daya kreasi memadu bahan makanan dan tentu empati serta simpati pada orang. Bila sebuah jalan tertutup, mengapa tak mencari jalan lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Ibunda Totto-chan dipanggil oleh guru dan dilapori keluh kesah tentang kelakuan anaknya, betapa sesak hatinya. Tapi ia bisa menahan diri dan bersabar dengan kondisi yang dihadapinya. Dengan lembut melalui bahasa kanak ia jelaskan bahwa Totto-chan akan pindah ke sekolah lain. Tak sedikitpun ia singgung soal kegeraman gurunya padanya. Di sekolah baru ia berjumpa pak Kobayashi. Bapak kepala sekolah Tomoe yang pendek, gemuk, lucu, sangat perhatian serta sayang pada anak-anak. Dalam didikan pak Kobayashi, ia berubah menjadi sebuah pribadi yang mengesankan. Dalam masa sekolah dasar yang singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kembali jarum jam menunjuk waktu terkini&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin perlu mengingat pesan bijak pak Kobayashi. &lt;strong&gt;&lt;em&gt; "Serahkan mereka kepada alam. Jangan patahkan ambisi mereka. Cita-cita mereka lebih tinggi daripada cita-cita kalian."&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;em&gt;terinspirasi &lt;a href="http://susilo.typepad.com/nurani"&gt; rumah kecil&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111759109882650031?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111759109882650031/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111759109882650031&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111759109882650031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111759109882650031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/06/sebelum-terlambat-mari-kita-memutar.html' title='Sebelum Terlambat'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111753718765972665</id><published>2005-05-31T17:50:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:14:45.065+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Kota</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/10/93/30/10933030/EY001031.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan bercerita, &lt;a href="http://jalansunyi.blogspot.com/2004_08_01_jalansunyi_archive.html"&gt; mal &lt;/a&gt; itu akhirnya dibuka. &lt;em&gt;Grand opening&lt;/em&gt; istilah promonya. Pembukaannya tak cuma menyisakan keriaan, tapi juga kepedihan. Beberapa mahasiswa &lt;em&gt;bonyok&lt;/em&gt; wajahnya. Mereka datang memprotes mal itu. Seperti dulu saat mal itu masih rencana, ditanam pondasinya dan ketika dibangun bata demi bata. Waktu itu protes mereka tak menuai kekerasan. Semua berlangsung tanpa pukulan dan darah berceceran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku cerita, mahasiswa pemrotes ternyata sudah dinanti oleh sekelompok preman. Dengan merekalah mahasiswa baku hantam. Tentu bukan lawan seimbang. Mahasiswa kalah telak lari lintang pukang. Para preman mustinya bukan &lt;em&gt;satuan pengaman&lt;/em&gt; sukarela. Yang siap sedia membusung dada membela tanpa pamrih apapun jua. Tapi apakah mereka dibayar? Terlalu dini menyimpulkan demikian. Sebelum bukti terlihat mata atau terpegang tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sudahlah. Cukuplah kisahmu teman. Makin panjang kau uraikan makin, dalam pedih mendulang kesedihan. Meski bukan hutan, kota tak ubahnya seperti rimba. Yang adidaya yang meraja. Rakyat, saling berebut remah-remahnya. Saling sikut, jegal, telikung dan hantam sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah! Sebuah kota. Mencoba genit bersolek bak remaja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111753718765972665?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111753718765972665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111753718765972665&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111753718765972665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111753718765972665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/05/sebuah-kota-seorang-kawan-bercerita.html' title='Sebuah Kota'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111718818213898775</id><published>2005-05-27T16:27:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:15:12.793+07:00</updated><title type='text'>Semut</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/17/67/14176714/IN-002-0102.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor semut dapat mengangkut sesuatu sepuluh kali berat badannya. Semut pekerja bisa hidup antara satu sampai lima tahun. Beberapa ratu semut mampu hidup hingga dua puluh tahun. Koloni terbesar semut pernah ditemukan di Pantai Ishikari Pulau Hokkaido Jepang. Dalam koloni tersebut terdapat 306.000.000 semut dengan 1.080.000 ratu semut yang hidup dalam 45.000 lorong yang saling berhubungan yang meliputi kawasan seluas 2,7 kilometer persegi&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Diklik dari &lt;a href="http://didyouknow.cd/animals/animalsabc.htm"&gt; sini&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia paling banter mampu mengangkat - bukan mengangkut - sesuatu tujuh sampai delapan kali berat badannya. Tetapi manusia mampu menyangga masalah yang tak berhingga beratnya. Mampu menyangga berarti mengakrabi masalah bagaimana pun peliknya. Namun tak mudah berakrab-akrab dengan masalah. Sebab masalah seringkali bikin serba salah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111718818213898775?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111718818213898775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111718818213898775&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111718818213898775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111718818213898775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/05/masalah-semut-seekor-semut-dapat.html' title='Semut'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111699739283218849</id><published>2005-05-25T10:24:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:15:46.191+07:00</updated><title type='text'>Mendidik</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/57/40/14574041/AX077862.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebersyukuran tertinggi seorang guru, ternyata bukanlah pintarnya si anak murid menguasai sebuah ilmu. Bukan pula sempurnanya nilai ulangan atau ujian si anak didik. Tetapi, terbukanya kesadaran si anak secara mandiri untuk merubah diri. Meninggalkan tabiat dan kelakuan yang sia-sia, menjengkelkan dan merugikan diri sendiri. Menjadi sebuah semangat baru untuk berlaku lebih baik dan bermanfaat untuk dirinya dan orang-orang sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak bisa mengabaikan binar rasa syukur bercampur senang yang menyala-nyala di mata ibu saya bila bercerita tentang anak didiknya yang tak lagi membuat &lt;em&gt;masalah&lt;/em&gt; di rumah. Dengan rasa takjub, ibu si anak melapor kalau anaknya yang selama ini &lt;em&gt;pembuat masalah&lt;/em&gt;, kini dengan antusias mengerjakan sendiri hal-hal yang kerap menjadi sumber perbantahan tak berujung dengan dirinya. Separuh guyon, orang tua murid lain menanyakan &lt;em&gt;sihir&lt;/em&gt; apa yang dipunyai ibu saya sehingga bisa merubah anaknya demikian rupa. Saya membayangkan, ibu saya pasti tersenyum menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kanak memang sedang tumbuh menjadi sebuah individu dengan entitas kepribadian tersendiri. Dalam proses ini, tidak hanya fisiknya yang bergerak cepat meninggi dan membesar, tetapi juga kompleksitas psikologinya. Bila fisik bisa cepat kita respon dengan membelikan pakaian yang lebih besar atau menambah asupan makanan, semestinya demikian pula dengan perubahan batiniahnya. Kita mampu merespon tiap tahap perkembangannya agar tak terjadi kesalahan &lt;em&gt;pendekatan&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangkal soalnya, orang tua kayak saya, sering terlambat menyadari hal kedua itu. Oleh karena bingkai pandangan dalam benak saya kurang cepat diperbarui. Jadilah ujungnya perbantahan tak perlu oleh sebab perbenturan ego kanak yang sedang belajar tentang entitas diri dengan ego &lt;em&gt;kuasa&lt;/em&gt; seorang orang tua. Dalam kondisi demikian, sudah seharusnya saya belajar bijak dan anak saya belajar menyadari apa yang dilakukan adalah tidak sepenuhnya benar. Katup jalan keluar untuk kembali merekatkan keretakan yang sempat terjadi adalah dengan membuhulkan kata maaf. Ketika dia hadir mendekat dengan sisa isak tangis dan air mata yang menderai di wajah menghaturkan maaf, saya kadang tak mampu menguasai perasaan untuk tidak &lt;em&gt;terjatuh&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saya makin tahu, bahwa memahami anak-anak lalu mengolah pemahaman itu menjadi sebuah pendekatan yang efektif dalam mendidik anak adalah sebuah senyawa antara niat yang bersih lagi ikhlas, pengetahuan yang memadai, kiat seni mendidik, kreativitas dan kesabaran yang tak berbatas. Begitu rumitnya mendidik anak agar ia bisa &lt;em&gt;jadi&lt;/em&gt; sehingga posisi pendidik - termasuk orang tua dan siapapun yang membagi pengetahuan kepada kita - sangat dimuliakan dalam kehidupan. Karena darinya kita belajar hidup dan kehidupan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111699739283218849?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111699739283218849/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111699739283218849&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111699739283218849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111699739283218849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/05/mendidik-kebersyukuran-tertinggi.html' title='Mendidik'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111657449119227960</id><published>2005-05-20T11:00:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:16:26.765+07:00</updated><title type='text'>Mahasiswa Juga Mahaguru</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.rmaf.org.ph/Awardees/ImgAwardees/ImgJassinHan.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HB Jassin, sang &lt;em&gt;paus&lt;/em&gt; sastra Indonesia, saat mengajar di Universitas Indonesia sebagai mahaguru, ia sekaligus juga menjadi mahasiswa. Saat kuliah sastra lama, terutama Jawa-Kuno, HB Jassin duduk dibangku mahasiswa. Tekun dan penuh perhatian mengikuti matakuliah tersebut layaknya mahasiswa lainnya. Tetapi ketika berganti matakuliah Sastra Modern, HB Jassin berdiri dan maju ke muka kelas memberi kuliah. Karena ia adalah doktor Sastra Modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bila dalam satu hari ada dua mata kuliah tersebut, maka ia akan menjadi mahaguru sekaligus mahasiswa. Saat itu fenomena demikian sangat jarang. Dan mungkin kini juga belum tentu banyak kita temui. Seorang mahaguru secara jujur dan terbuka mengakui dan berusaha belajar untuk bidang ilmu yang belum ia kuasai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111657449119227960?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111657449119227960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111657449119227960&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111657449119227960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111657449119227960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/05/mahasiswa-sekaligus-mahaguru-hb-jassin.html' title='Mahasiswa Juga Mahaguru'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111639320005047631</id><published>2005-05-18T10:31:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:16:53.956+07:00</updated><title type='text'>Ragam</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/10/69/14106900/T-092-0230.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keragaman adalah &lt;em&gt;sunah&lt;/em&gt;. Sesuatu yang meniscaya ada. Ketika Karl Marx dengan &lt;em&gt;Das Kapital&lt;/em&gt; nya memproklamirkan cita-cita membentuk bangsa tanpa kelas, hasilnya gagal total. Lenin, pemimpin revolusi negeri beruang merah tak jua berhasil mewujudkannya. Yang ada kemudian malah muncul kelas baru yang sangat &lt;em&gt;digdaya&lt;/em&gt; yaitu Pejabat Pemerintah dan Partai. Kegagalan makin sempurna ketika komunisme tersapu &lt;em&gt;glastnost&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;perestroika&lt;/em&gt;. Uni Soviet ambruk terpecah-pecah menjadi banyak negara. Riwayat rezim komunis pun tamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita peniadaan keragaman juga menghadirkan horor yang tak terbayangkan. Era Stalin mencatat sejarah kelam kamp pembuangan di Siberia yang suhunya dingin menusuk sumsum tulang. Lalu rezim Pol Pot dengan Khmer Merahnya telah mengguratkan tragedi kemanusiaan tak terkira-kira di bumi Kamboja. Jutaan nyawa manusia hilang begitu saja. Belum lagi penistaan harkat kemanusiaan yang sangat-sangat mennyedihkan. Semua atas nama sebuah cita-cita kesamarataan untuk semua anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu - dan rasanya sekarang juga masih terasakan - negeri kita gemar menggembar-gemborkan soal kesamarataan. Tapi yang ini bukan dalam bentuk seperti di era negeri sosialis ada. Sebab yang berbau sosialis dan apalagi komunis waktu itu sangat diogahi. Slogan yang pernah kita dengar adalah kesetiakawanan sosial. Kemudian saat badai krismon menerjang, muncul gerakan kencangkan ikat pinggang dan menyumbangkan perhiasan. Di tivi ada beberapa tayangan menunjukkan pengusaha menyumbangkan sebagian perhiasannya. Lalu ke mana dan bagaimana wujud sumbangan itu, tak begitu jelas kabar beritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kibaran bendera reformasi, slogan-slogan seperti itu makin surut. Orang sudah jenuh setelah sekian waktu mendengar slogan di tiap pojokan jalan. Orang-orang makin bebas berekspresi. Termasuk mengekspresikan hobi, kesukaan dan pilihannya. Sepanjang tak ada pasal pidana jelas melarang, tentu boleh saja orang berekspresi. Maka seiring dengan era &lt;em&gt;kebebasan&lt;/em&gt; itu, bermunculan apa-apa yang dahulu belum banyak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya kendaraan. Kini makin mudah kita lihat kendaraan merk tertentu yang dahulu paling banter bisa dilihat di halaman majalah, berseliweran di jalan raya. Berebut jalan dengan metromini karatan atau bajaj yang terengah-engah berjalan. Masih panjang daftar lainnya bila kita urutkan. Intinya kebebasan mengekspresikan diri sendiri kini makin tertampakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Mahaguru ahli tentang Indonesia dari India mengungkapkan keheranannya. Ia bandingkan negeri ini dengan negerinya. Di negerinya ada &lt;em&gt;kelas&lt;/em&gt; elit politisi, pejabat negara dan pengusaha. Namun dalam keseharian mereka tak tampak menonjolkan hobi, kesukaan atau pilihannya. Pada tampilan harian tak terlihat wajah yang sangat kontras. Sangat berbeda dengan di sini. Demikian sang Mahaguru mengungkapkan kegundahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti di awal tertulis, keragaman adalah keniscayaan. Tak mungkin terhapuskan. Dan niatan untuk tampil berbeda rasanya sudah pula menjadi bagian dari diri manusia. Persoalannya adalah di bagian mana dan dengan cara apa kita tampil sehingga akan terlihat berbeda, tak cukup hanya dengan menuruti dorongan diri sendiri. Sangat layak bila kita juga mempertimbangkan alam lingkungan dan timbang rasa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan dengan demikian kita makin kaya. Kaya oleh nurani yang tak pernah pingsan. Apalagi tertidur atau mati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111639320005047631?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111639320005047631/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111639320005047631&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111639320005047631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111639320005047631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/05/pilihan-dan-keragaman-keragaman-adalah.html' title='Ragam'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111623498659000356</id><published>2005-05-16T15:10:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:17:42.096+07:00</updated><title type='text'>Sekolah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/15/25/05/15250539/42-15250539.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yang kelas satu sampai tiga, sepuluh ribu pak. Kalau kelas empat sampai enam, lima belas ribu. Kalau yatim, dibebaskan dari membayar es pe pe.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ada suara gemuruh di dalam hati saat mendengar penjelasan si ibu.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Itu pun kadang ada yang menunggak sampai dua tahun pak.&lt;/em&gt; Tambah si ibu dengan suara melirih. Tak ada nada kesal di sana. Saya terdiam kikuk memandangi bangku-bangku mungil bercat warna-warni. Di luar suara celoteh kanak ramai bersahutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pakar pendidikan anak dari Jepang pernah bilang &lt;em&gt;tak ada anak yang bodoh&lt;/em&gt;. Semua anak dilahirkan untuk pintar. Lihatlah bagaimana ia begitu cepat bisa bercakap dengan bahasa ibunya. Bahasa yang rumit struktur gramatikalnya. Kita telah menganggap kemampuan berbahasa balita sebagai sebuah hal yang sangat biasa. Padahal, kemampuan itu adalah salah sebuah contoh nyata bahwa setiap kanak cerdas. Tinggal bagaimana selanjutnya lingkungan dan sekelilingnya mendukungnya mengembangkan kecerdasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Maaf pak, di sini masyarakat memilih menyekolahkan anaknya langsung ke es de... &lt;/em&gt; Sampai di sini si ibu tak meneruskan. Seolah-olah mengharap saya menjawab sendiri alasan di balik pernyataannya. Keterbatasan biaya. Saya menghela nafas panjang. Mencoba memandang keluasan petak-petak empang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat mungkin, dari sekolah terapit empang terbelah sungai kecil ini terlahir lulusan-lulusan sekolah kehidupan yang tangguh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111623498659000356?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111623498659000356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111623498659000356&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111623498659000356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111623498659000356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/05/sekolah-yang-kelas-satu-sampai-tiga.html' title='Sekolah'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111581023686685940</id><published>2005-05-11T17:40:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:18:29.043+07:00</updated><title type='text'>Ordinat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/15/02/82/15028277/AXF001031.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kita baru sadar butuh cahaya, ketika kita merasa kegelapan. Sayangnya gelap dan terang adalah soal perasaan. Bisa jadi kita merasa cerlang benderang, padahal sebenarnya sedang disekap gelap pekat. Atau berada dalam situasi remang suram, namun merasa jelas terang. Semua soal perasaan. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kapan saya membaca atau mendengar kalimat panjang itu. Ingatan saya tentangnya pun timbul tenggelam. Seperti juga perasaan, yang selalu berubah seperti cuaca. Tak pernah tetap. Cara pandang manusia memang seperti magnet. Menarik segala yang dilihat, dirasa dan didengarnya ke arah &lt;em&gt;diri&lt;/em&gt;nya sendiri. Apa-apa ditimbang menurut neraca pemikiran dan perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tak mudah mengenyampingkan &lt;em&gt;keakuan&lt;/em&gt;. Menggantinya dengan empati mendalam. Tidak menjadi magnet tapi besi. Bukan menjadi &lt;em&gt;pusat&lt;/em&gt; tapi ordinat. &lt;em&gt;Pusat&lt;/em&gt; adanya &lt;em&gt;di sana&lt;/em&gt;. Pada segala sesuatu yang menginteraksi diri kita. Ia bisa sesama kita, manusia. Bisa juga hewan, tetumbuhan, udara atau bebatuan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111581023686685940?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111581023686685940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111581023686685940&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111581023686685940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111581023686685940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/05/bukan-pusat-tapi-ordinat-kita-baru.html' title='Ordinat'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111537908190391173</id><published>2005-05-06T18:04:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:19:01.713+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Peringatan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/12/76/14127641/PE-259-0147.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kalau ada orang datang meminta nasehat kepadamu, cermatilah! Karena sebagian besar dari mereka itu datang untuk mencari dukungan. Dukungan untuk menguatkan keraguan atas kesalahbenaran masalah yang mereka hadapi.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, sebuah nasehat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111537908190391173?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111537908190391173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111537908190391173&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111537908190391173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111537908190391173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/05/sebuah-peringatan-kalau-ada-orang.html' title='Sebuah Peringatan'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111519752041662612</id><published>2005-05-04T15:29:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:19:41.993+07:00</updated><title type='text'>Diskon, Rabat &amp; Praiskat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/19/56/14195658/NT3775013.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskon punya nama lain rabat. Pedagang baju kreditan di komplek menyebutnya korting. Istilah lainnya potongan harga. Kalau bandrol resminya 100, tapi cukup dibayar dengan uang 90 perak. Artinya kita dapat rabat 10 persen atau 10 rupiah. Jumlah yang sangat lumayan. Apalagi jika membeli dalam partai besar atau dalam frekuensi yang cukup sering. Maka diskon tersebut bila dikumpulkan bisa untuk menambah modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata dosen pemasaran, diskon itu salah satu cara untuk menggaet konsumen. Juga mempertahankan kesetiaan pelanggan. Selain itu bisa juga merangsang konsumen membayar tagihan lebih cepat dari termin pembayaran. Tapi kalau diskonnya bohong-bohongan, semuanya kembali kepada kejelian pembeli. Konon ada swalayan busana yang kerap memberi diskon. Namun harga bandrolnya ditengarai sebagian orang telah dinaikkan terlebih dahulu. Ini masuk kategori rabat tipu-tipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi diskon pada pembeli, sudah sangat umum sekali. Tanpa diminta, penjual atau pemberi layanan jasa mengimingi potongan harga. Maklum, persaingan bisnis masa kini ketat sekali. Kalau tak pintar-pintar mengangsurkan sesuatu yang menggiurkan, barang atau layanan yang dijual bisa tak dilirik sama sekali. Langganan lama bisa beralih seketika dengan alasan banyak rupa. Yang order sepilah, pesanan tak ada, atau sudah tak memakainya. Ini lonceng pertanda kematian untuk prajurit pemasaran. Target bisa luput. Bonus melorot. Bahkan kontrak kerja terancam diamini. Repot kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskon model ini biasanya tak dicantumkan resmi dalam daftar harga penawaran. Tidak seperti di swalayan yang biasanya ditulis dengan huruf kapital besar-besar. Menyampaikannya pun dengan bisik-bisik dan hati-hati. Bila berdua dan dinding dirasa tak bertelinga, iming-iming rabat itu dikibas-kibaskan lewat lidah tak bertulang. Dengan harapan order barang atau jasa sebagai imbal baliknya. Kalau setuju tinggal sebut nomor rekening bank saja. Tiap tagihan pembayaran cair tinggal cek persenan di &lt;em&gt;internet banking&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika plafon punya mata dan dinding tak kedap suara, bisa jadi besok atau bahkan sejam lagi telpon di meja berdering. Melanjutkan materi pembicaraan yang terlupa. Soal iming-iming diskon yang tak tertulis di &lt;em&gt;invoice&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tak semua eksekutif pemasaran demikian. Seperti juga tak seluruhnya perusahaan atau pedagang menjalankan praktek semacam. Masih banyak yang mendasarkan bisnis pada cara-cara profesional dan &lt;em&gt;fair&lt;/em&gt;. Mengutamakan komitmen pada pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah praktek demikian salah? Semua terpulang kepada nurani. &lt;strong&gt;Diterima&lt;/strong&gt;; &lt;em&gt;ibarat menggergaji cabang pohon yang sedang diduduki&lt;/em&gt;.&lt;strong&gt;Ditolak&lt;/strong&gt;:&lt;em&gt;berarti turut memperkuat tegaknya pohon di dalam hati&lt;/em&gt;. Pilih mana?... &lt;em&gt;Jangan itung kancing dulu ya?... ha ha ha...&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111519752041662612?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111519752041662612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111519752041662612&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111519752041662612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111519752041662612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/05/diskon-rabat-ibarat-menggergaji-cabang.html' title='Diskon, Rabat &amp; Praiskat'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6258398.post-111476305984062576</id><published>2005-04-29T08:34:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T00:20:20.431+07:00</updated><title type='text'>Tersuruk di Kepompong Sepi</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/14/17/60/14176028/NT5446605.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa hadir tanpa diduga-duga. Kapan? Bagaimana? Di mana? Dan mengapa? Jawabnya tak pernah ditahu sebelum terjadi peristiwa. Tiba-tiba saja kita mendengarnya. Meski hanya lewat kata setengah berbisik. Kerasnya terdengar melebihi halilintar. Walaupun cuma melalui deretan huruf pengantar pesan. Tajamnya lebihi sembilu. Menusuk mata masuk menikam kalbu. Jiwa mendadak gempa. Terguncang hebat berpuluh skala richter. Hati tergugu. Tubuh lunglai layu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan membenih tanya. Mengapa? Mengapa sekarang? Jiwa yang guncang bak air kocak dalam tempayan, limbung. Menatap nanar kenyataan, dalam bayang rabun nan samar. Tanya berbiak tanya, menjelma dakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ayo! Lekas bangun, berdiri dan langkahkan kaki. Bawalah diri ke mana air jernih menyucikan akan mencuci. Kumurlah, agar huruf dan bebunyian sia-sia luruh bersama air ke selokan. Guyurlah kedua lengan, sehingga tangan akan seketika layu bila menjamah debu. Sapulah wajah dengan air menyegarkan. Akan tandas gundah dan kerut kemurungan, tergantikan senyum bermekaran. Usap! Usaplah dahi, biar putus layangan angan dan tergerus hangus degil pikiran. Tadahi air dengan kedua telapak tangan. Basahi ujung jemari, gunakan untuk mengorek liang telinga dari kotoran yang menyumbat kebaikan mengalir ke dalam. Ayunkan kaki kanan lalu kiri ke air yang mengucur deras. Luruhlah daki yang memberati kaki. Membikinnya menjadi seringan kapas melayang ketika melangkah mengais kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini duduklah. Menyatu tanah, tempat asalmu bermula. Jadikanlah dirimu bukan apa-apa. Seperti tanah, kau rata rebah. Tak hendak meninggi dari sekitarnya meski sejengkal saja. Resapilah kepapaan tanah kemarau yang mendamba tetes hujan pertama. Tanpa daya dan kuasa. Lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selembar demi selembar pilinlah temali cahaya dengan kesabaran laba-laba dan ketawadhuan ulat sutera. Jangan hirau bunyi denting kecapi yang menggodai dinding hati. Surukkanlah diri ke dalam selubung kepompong sepi. Lantunkan satu-satu kalimah cahaya. Dalam istiqamah, mengharap ketukan lirihnya menyingkapkan tabir cahaya. Hingga dirimu dipersilakan memasukinya setelah mendaki temali cahaya tadi. Kembali pada mula yang fana.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha (puas) dan diridhai. Masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS 89: 27-30)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dapati diri saya terpaku dalam tempurung keakuan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6258398-111476305984062576?l=jalansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jalansunyi.blogspot.com/feeds/111476305984062576/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6258398&amp;postID=111476305984062576&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111476305984062576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6258398/posts/default/111476305984062576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jalansunyi.blogspot.com/2005/04/tersuruk-di-kepompong-sepi-peristiwa.html' title='Tersuruk di Kepompong Sepi'/><author><name>abhirhay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10869270818477713120</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
